Sejarah

Muhammad bin Abdullah: Mulia Nasab, Mulia Akhlak

Nabi Muhammad
Nabi Muhammad

Nabi Muhammad (foto: iStockphoto)

Muhammad lahir pada 12 Rabiul Awal dari pasangan Abdullah dan Aminah. Beliau merupakan keturunan khalilullah Ibrahim melalui jalur Ismail.* Beliau lahir di tengah keluarga yang punya derajat mulia di kalangan bangsa Arab, yakni dari Bani Hasyim yang merupakan bagian dari suku Quraisy.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah saw. bersabda:

بعثت من خير قرون ابن ادم، قرنا فقرنا، حتى كنت من القرن الذي كنت فيه

Artinya, “Aku diutus dari keturunan Bani Adam yang terbaik pada setiap kurunnya, hingga sampai pada kurun di mana aku dilahirkan” (HR. Bukhari).

Banyak peristiwa yang terekam selama masa hidup Muhammad, dari kelahiran, masa kecil, masa remaja, dan bagaimana kehidupannya sebelum diutus menjadi nabi. Mustafa as-Siba’i mencatat, dalam berbagai kitab biografi (sīrah), tidak ada yang menggambarkan sosok Muhammad selain sebagai seorang utusan Tuhan. Beliau tidak ditempatkan sebagai “lebih dari manusia”.

Allah berfirman dalam Q.s. Ali Imran: 144 bahwa Muhammad saw. tidak lain hanyalah seorang Rasul (wa mā Muhammadun illā rasūl). Di ayat yang lain diterangkah bahwa Muhammad adalah manusia yang kepadanya Allah menurunkan wahyu. Sebagai seorang Rasul, Muhammad adalah teladan yang baik (uswah hasanah).

قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَٰلِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا

Artinya, “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (Q.s. al-Kahfi: 110).

Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang cerdas, jujur, baik, dan bertanggung jawab. Allah menjauhkan Muhammad dari perbuatan maksiat, sehingga ia tidak pernah menyembah berhala, tidak memakan daging dari hewan yang dikorbankan, tidak minum khamr, tidak berjudi, juga tidak pernah mengucapkan kata-kata kotor.

Baca Juga: Biografi Singkat Nabi Muhammad: Tanda Kenabian Itu Nampak

Tidak ada yang meragukan akhlak mulia Muhammad. Kesaksian Abu Sufyan –yang ketika itu belum menyatakan imannya kepada Allah dan Rasul-Nya– kepada Raja Romawi, Heraclius, bahwa Muhammad tidak pernah berbohong dan berkhianat membuktikan itu. Oleh masyarakat Arab, ia dikenal sebagai “Al-Amin”, orang yang dapat dipercaya.

Suatu ketika, Nabi Muhammad mendapatkan perintah untuk memberi peringatan kepada kerabat terdekat (Q.s. asy-Syu’ara: 214). Beliau lalu menuju ke bukit Shafa, dan berseru: “kalau aku katakan kepada kamu semua bahwa musuh dengan kuda perang telah keluar dari balik bukit ini, apakah kamu percaya?” Tanpa ragu, mereka yang sedang berkumpul mendengar seruan itu pun menyatakan: “kami belum pernah mengetahui engkau berdusta”.

Sifat jujurnya inilah yang menarik perhatian Khadijah, seorang saudagar perempuan. Mulanya ia mempekerjakan Muhammad untuk menjual barang-barang dagangannya ke negeri Syam. Atas kesaksian Maisarah, budak Khadijah yang menemani perjalanan dagang Muhammad, ia memutuskan untuk menikahi Muhammad bin Abdullah.

Khadijah adalah orang pertama yang mengakui kenabian Muhammad. Ketika wahyu pertama turun dan Muhammad gemetar luar biasa, Khadijah dengan tegas berucap,

كَلّا أبْشِرْ، فَواللَّهِ، لا يُخْزِيكَ اللَّهُ أبَدًا، واللَّهِ، إنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ، وتَصْدُقُ الحَدِيثَ، وتَحْمِلُ الكَلَّ، وتَقْرِي الضَّيْفَ، وتُعِينُ علَى نَوائِبِ الحَقِّ

Artinya, “sekali-kali tidak, bergembiralah, karena demi Allah, Allah tidak akan pernah meninggalkanmu selamanya. Demi Allah, sesungguhnya engkau menyambung tali silaturahmi, berkata jujur, menghilangkan kesusahan, menjamu tamu, dan membela kebenaran” (HR. Bukhari). (bariqi)

 

*At-Thabari mencatat, silsilah lengkapnya adalah sebagai berikut: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin ‘Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhir bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin ‘Adnan.

Para ulama dan ahli sejarah bersepakat tentang silsilah dari Abdullah hingga Adnan. Sementara silsilah dari Adnan ke Ibrahim, mereka berbeda pendapat. Salah satu pendapat menyebut silsilahnya sebagai berikut: ‘Adnan bin Udda bin Muqawwim bin Nabur bin Tayrah bin Ya’ruba bin Yasyjuba bin Nabat bin Ismail bin Ibrahim.

Related posts
Berita

SMP Muhammadiyah Keling Adakan Kegiatan Peringati Maulid Nabi Muhammad

Jepara, Suara ‘Aisyiyah – Peringatan Hari Besar Islam (PHBI) menjadi salah satu program pengembangan Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah Keling sebagai…
Sejarah

Lelaki dalam Selimut Itu Muhammad bin Abdullah

Seusai menerima wahyu pertama Q.s. Al-‘Alaq: 1-5, Muhammad yang kala itu berusia 40 tahun segera pulang dari Gua Hira. Kepada istrinya, Khadijah,…
Sejarah

Meneladani Sifat Al-Amin Nabi Muhammad

Seperti yang kita ketahui, bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak hanya memiliki satu gelar. Banyak gelar yang disematkan kepada beliau…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *