ICAS 2020 : Muhammadiyah – ‘Aisyiyah Dukung Pentingnya Pendidikan Tinggi Bagi Perempuan

Berita 16 Oct 2020 0 52x

Yogyakarta, Suara Aisyiyah- Bicara tentang pendidikan bagi perempuan di Indonesia, Muhammdiyah dan ‘Aisyiyah telah berkontribusi besar pada pemberian akses pendidikan bagi perempuan. Bahkan sejak awal Kyai Dahlan mendorong perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama. Hal ini tentu sedikit-banyak merubah padangan perempuan di Indonesia tentang pentingnya pendidikan.

Disampaikan Claire-Merie Hefner, Antropolog Budaya dari Florida State University dalam acara International Conference on ‘Aisyiyah Studies (ICAS) 2020 bahwa hampir setiap siswi di Mu’allimaat yang disurveynya mernginginkan kuliah. Lebih dari 90% tremd ini menonjol jika dibandingkan dengan beberapa budaya komunitas muslim di Timur Tengah atau di Asia Selatan.

Bahkan, diungkap Claire, bahwa tujuan KH. Ahmad Dahlan Mendirikan Madrasah Mu’allimaat sebagai lading perkaderan dan pembentukan guru agama bagi kaum perempuan dapat direalisasikan. Menariknya, kini para siswa Mu’allimaat bisa beraspirasi lebih tinggi lagi.

Disamping memang tantangan sekarang bagi anak muda Indonesia adalah pergaulan bebas, free seks, narkoba, alkohol juga media sosial. Sehingga, dari penelitian Claire banyak wali murid Mu’allimaat yang mengkhawatirkan hal itu dan menitipkan pendidikan anaknya ke Mu’allimaat.

“Jika diawal berdirinya Mu’allimaat ditujukan untuk wadah pembentukan guru, kini murid Mu’allimaat memiliki cita-cita yang lebih tinggi dan yakin melalui pendidikan yang ditempuh di Mu’allimaat bisa mewujudkan cita-cita menjadi dosen misalnya,” jelas Claire, Sabtu (10/10).

Sehingga hasil surveynya mencerminkan dua trend, yakni perempuan muslim di Indonesia dan khusus di Mu’allimaat sekarang lebih bisa berinvestasi dalam karier yang beraneka ragam.

Pada kegiatan yang sama Profesor Asal Mahidol University Thailand, Rosalia Sciortino, Pakar Antropologi Budaya mengapresiasi konsep perempuan Islam berkemajuan yang ditanamkan oleh Muhammadiyah.
Rosalia mengungkapkan ada empat hal yang akan menjadi tantangan ‘Aisyiyah kedepan. Diantaranya radikalisasi sectarian dan politik identitas, bad governance dan system kesehatan yang lemah, kesenjangan sosial dan kesehatan, juga kerusakan lingkungan.

Sehingga menurutnya, untuk menghadapi empat tantangan tersebut, ‘Aisyiyah perlu bergerak dalam pendidikan inklusivitas (keberagaman) termasuk kerjasama dengan agama lain. Kemudian juga dengan ratusan amal usaha bidang kesehatan mampu menjadi daya tawar kebijakan public.
“Harus kontekstual dan melihat secara struktural, sembari tetap menemani dan memberi penyuluhan berbasis komunitas,” kata dia. (Syifa)

Leave a Reply