Muhammadiyah-Aisyiyah Harus Memainkan Peran sebagai Digital Disruptor

Berita 20 Sep 2021 0 88x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Gerakan Subuh Mengaji ‘Aisyiyah Jawa Barat pada Ahad (19/9) mengadakan Pengajian Subuh Mengaji bertema “Penguatan Literasi Digital Umat Menuju Muktamar yang Adaptif dan Inovatif”. Pengajian yang dilakukan secara daring ini menghadirkan Muchlas Aekanuddin selaku Rektor Universitas Ahmad Dahlan.

Dalam pembukaannya, Muchlas mengatakan bahwa keadaan saat ini sangat berbeda dengan keadaan pada zaman dahulu. Segala aktivitas, seperti membeli barang, memesan ojek atau taksi, mencari ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya dapat dilakukan dengan mudah menggunakan media digital, dan hal itu menyebabkan perubahan kebiasaan manusia.

“Ini semua tentu dipengaruhi oleh digital disruption. Digital disruption ini menggambarkan perubahan yang terjadi ketika teknologi digital, layanan, kemampuan, dan model bisnis baru mempengaruhi dan mengubah nilai layanan dan barang industri yang ada,” ucap Muchlas.

Menurutnya, digital disruption menjadi ujian dan tantangan bagi Muhammadiyah di usianya yang sudah lebih dari satu abad, karena ini merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dimungkiri. Pola dakwah kita, lanjutnya, saat ini juga sudah sangat sulit untuk dapat dilakukan dengan face to face. Hal ini tentu ini menjadi sebuah ujian.

Meski begitu, kata Muchlas, warga Muhammadiyah harus ingat bahwa Allah swt. dalam QS al-Baqarah telah menjelaskan, “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya”. Maknanya adalah, manusia harus mempunyai tekad untuk dapat melewati ujian itu dan menyambut tantangan disrupsi digital ini.

Baca Juga: Perempuan dalam Kemajuan Teknologi

Selanjutnya, Muchlas menjelaskan tentang tingkatan digital, yakni: (a) digital resister; (b) digital eksplorer; (c) digital player; (d) digital transformer; (e) digital disruptor. Lebih lanjut, ia mengatakan, tingkatan yang paling tinggi adalah digital disruptor. Ia berharap, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah bisa menjadi disruptor atau dapat mendisrupsi. “Kita harus bertekad to disrupt Yes, to be disrupted No,” ucap Muchlas.

Untuk menuju digital disruption, Muchlas menyebutkan, ada lima langkah yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah-‘Aisyiyah. Pertama, penguatan literasi dan budaya digital warga dan pimpinan persyarikatan di semua tingkatan. Kedua, membangun kepercayaan diri terhadap potensi digital yang dimiliki persyarikatan (SDM, infrastruktur, TI, dan finansial).

Ketiga, menumbuhkan spirit konvergensi dalam membangun produk-produk digital persyarikatan. Keempat, membangun sinergitas yang lebih erat dan produktif antar unsur di semua tingkatan. Kelima, membangun hyper awareness, mengambil keputusan yang jelas dan tegas, mengeksekusi keputusan dengan cepat. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *