Muhammadiyah Berkomitmen Memenuhi dan Melindungi Hak Kelompok Difabel

Berita 11 Des 2021 0 76x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Muhammadiyah perlu memberikan perhatian serius terhadap kelompok difabel. Demikian dinyatakan Agus Taufiqurrahman selaku Ketua PP Muhammadiyah ketika memberikan pengantar dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah, Sabtu (11/12).

Dalam pengajian yang mengangkat tema “Membersamai Kelompok Difabel: Teologi, Kebijakan, dan Gerakan” itu, Agus menyampaikan bahwa dengan jargon Islam berkemajuannya, Muhammadiyah harus senantiasa hadir memberikan solusi bagi setiap problem kehidupan di masyarakat. Dan dengan spirit menebarkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Muhammadiyah harus turut mendampingi kelompok difabel, bukan menafikan keberadaannya.

Mewakili PP Muhammadiyah, Agus mengajak seluruh warga persyarikatan Muhammadiyah untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak kelompok difabel. Lebih dari itu, ia juga berpesan agar Muhammadiyah dengan segala amal usahanya menciptakan lingkungan yang ramah terhadap kelompok difabel, seperti di masjid, kantor, rumah sakit, perguruan tinggi, dan sebagainya.

“Sekali lagi penghormatan itu menjadi bagian yang tidak boleh terpisahkan dari upaya kita untuk melakukan perlindungan dan pemenuhan hak-hak kelompok difabel,” ujarnya.

Baca Juga: Islam Agama Ramah Difabel

Pengajian ini dihadiri oleh tiga narasumber, yakni Fajri Hidayatullah selaku Ketua Umum Himpunan Difabillitas Muhammasiyah, Ali Yusuf selaku Angota Majelis Tarjih PP Muhammadiyah, dan Nurul Yamin sebagai Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.

Selanjutnya, dalam kesempatan tersebut, Fajri Hidayatullah menyampaikan tiga isu strategi yang perlu digarisbawahi kaitannya dengan kelompok difabel. Pertama, penting untuk membangun cara pandang memanusiakan manusia, terutama terhadap kelompok difabel.

Ia mengatakan, “dalam sektor pendidikan, semua pihak lainnya diharapkan dapat memberikan pencerahan bahwa kami sebagai manusia layak untuk dimanusiakan sehingga hal-hak kami bisa kita dapatkan bersama dalam sektor pendidikan”.

Kedua, ia berharap Muhammadiyah bisa menjadi lembaga yang memfasilitasi sekaligus mendominasi kerja-kerja advokasi publik terhadap kelompok difabel. Ketiga, ia menyayangkan tentang masih banyaknya praktik diskriminasi dalam seluruh sektor kehidupan pelayanan publik terhadap kelompok difabel.

”Sektor pelayanan publik juga sangat memprihatinkan, bahwa hanya pihak-pihak yang berpengalaman yang boleh untuk melayani, tapi pada kenyataannya pelayanan itu tidak bisa kami rasakan. Nah ini hal-hal yang juga menjadi konsentrasi kami bersama sama dengan PP Muhammadiyah serta ‘Aisyiyah,” ungkap Fajri. (septi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *