Muhammadiyah Hadir untuk Kemanusiaan Universal

Berita 24 Jun 2021 0 104x
MDMC Kudus

MDMC Kudus

Beberapa hari terakhir, Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) mendapat atensi publik luas. Sebabnya adalah foto Tim Kamboja MDMC Kudus, Jawa Tengah yang tengah menurunkan jenazah seorang Kristiani.

Kejadian tersebut terjadi pada 21 Juni 2021 dan menjadi viral setelah diunggah pertama kali oleh akun twitter @AferoJepara pada 22 Juni 2021 lalu. Pada hari yang sama, akun resmi MCCC @mucovid19 me-repost foto tersebut dengan keterangan, “dalam urusan kemanusiaan kita semua sama, sama-sama manusia”.

Baca Juga: Covid-19: Membangun Kesadaran Kemanusiaan dan Kesadaran Semesta

Respons positif menggema di media sosial. Beberapa pimpinan Muhammadiyah pun turut meramaikan. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti melalui akun twitter @Abe_Mukti mengutarakan, “bencana yang mempersatukan” (23/6). Sementara itu, melalui akun instagram @hadjriyanto_y_thohari, Dubes RI untuk Lebanon itu menyampaikan, “Aktivitas kemanusiaan tidak mengenal sekat. Perbedaan agama, suku, ras, dan golongan akan tetap menjadi saudara sebagai sesama manusia. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat buat sesama” (23/6).

Misi Kemanusiaan Muhammadiyah

Jika ditarik ke belakang, Muhammadiyah hadir dengan membawa misi kemanusiaan universal. Dengan spirit teologi al-Maun, Muhammadiyah berusaha mengeluarkan umat Islam dan bangsa Indonesia dari jurang kejumudan, kebodohan, keterbelakangan, dan kemiskinan.

Kiai Ahmad Dahlan mengajarkan kepada murid-muridnya bahwa ayat al-Quran tidak cukup hanya dihafal dan dipahami, tapi juga perlu diimplementasikan. Praksis gerakan yang berangkat dari spirit ajaran Islam itulah yang membedakan Muhammadiyah dengan gerakan sosial lain.

Ada tiga ujung tombak gerakan Muhammadiyah periode awal, yakni schooling, healing, dan feeding. Pendidikan, kesehatan, dan kemiskinan merupakan problem universal yang dialami umat Islam dan bangsa Indonesia sehingga harus dicarikan solusinya segera. Dalam upaya mengentaskan problem-problem tersebut, Muhammadiyah tidak membeda-membedakan penerima manfaat.

Salah satu bukti yang menunjukkan misi kemanusiaan universal Muhammadiyah adalah pernyataan dr. Soetomo ketika momen peresmian Poliklinik di Surabaya pada 1924. Dalam sambutannya ia mengatakan, “…besuk pagi akan kita buka Poliklinik ini. Siapa juga, baik orang Eropa, orang Jawa, China, atau Arab, boleh kemari. Akan ditolong dengan cuma-cuma, asalkan betul miskin…”.

Baca Juga: Muhammadiyah Tegaskan Konsisten Jihad Melawan Covid-19

Misi kemanusiaan universal tersebut tetap dipertahankan hingga sekarang. Meminjam bahasa Ahmad Najib Burhani di akun @najib_lipi, “aktivitas kemanusiaan itu tak mengenal sekat. Meski berbeda agama, suku, ras, dan golongan, semua akan dilayani dengan sama. Semua adalah saudara, sebagai umat manusia. kita semua berlomba menjadi umat terbaik dan bermanfaat bagi umat manusia” (24/6).

Akan tetapi, Muhammadiyah tidak mungkin dapat menyelesaikan misi kemanusiaan tersebut tanpa kerja sama berbagai pihak, baik pihak pemerintah, swasta, dan masyarakat luas. Apalagi di tengah kasus Covid-19 di Indonesia yang kembali meningkat.

Jaga Sesama, Bantu Semua. (sb)

Tinggalkan Balasan