Muhammadiyah Kotagede Setelah 40 Tahun

Aksara 17 Mar 2021 0 201x
Bulan Sabit di Atas Pohon Beringin

Bulan Sabit di Atas Pohon Beringin

Judul                  :  Bulan Sabit Terbit di atas Pohon Beringin: Studi tentang Pergerakan
Muhammadiyah di Kotagede sekitar 1910-2010 (Edisi Revisi Ditambah Bagian Dua)

Penulis               :  Mitsuo Nakamura

Cetakan              :  I, Oktober 2017

Penerbit             :  Suara Muhammadiyah

Tebal dan Ukuran   :         Lxviii + 488 hlm, 15 x 23 cm

 

Di akhir laporan penelitiannya, Mitsuo Nakamura menyimpulkan bahwa perubahan sosial keagamaan yang dilakukan Muhammadiyah di Kotagede tumbuh dari rahim Islam tradisional Jawa. Alih-alih sebagai ideologi impor dari Timur-Tengah, Islam ortodoks (dalam bahasa Nakamura) yang digagas gerakan reformis ini justru merupakan perubahan internal masyarakat Islam Kotagede yang sangat kejawen.

Pria yang kini menjadi profesor emeritus di Universitas Chiba (Jepang) tersebut lalu menyadari Muhammadiyah yang tampak anti-Jawa, justru sesungguhnya sangat Jawa. Penelitiannya menunjukkan, Muhammadiyah mewujudkan kebajikan-kebajikan Jawa dalam banyak cara. Mungkin Nakamura juga ingin mengatakan, Muhammadiyah tampak sangat struktural dari luar, namun ternyata sangat kultural dari dalam.

“Ramalan” Nakamura setelah penelitian tersebut, pasca tahun 1972, Islam ala Muhammadiyah masih dan akan terus membawa perubahan besar di bidang sosial, kultural, ekonomi, dan politik. Sebuah ramalan yang merupakan bagian dari ramalannya yang lebih besar: gerakan sosial Islam sedang menguat, Islamisasi masih berlangsung, “Tidak, Islam tidak kehilangan kekuatan”. Tesisnya tersebut membuat Nakamura menjadi minoritas di tengah para Indonesianis ketika itu yang mayoritas berpendapat Islam di Indonesia tengah kehilangan kekuatan.

Adalah Drs. Rosyad Saleh dan Dr. Haedar Nashir yang mengundang Nakamura melakukan penelitian ulang di Kotagede, pada Desember 2007 hingga Februari 2008. Undangan tersebut ia sambut dengan hangat, sebagai aji mumpung untuk meneruskan dokumentasi gerakan Muhammadiyah di Kotagede. Selain itu untuk memeriksa kebenaran ramalannya di penelitian pertama, tentang kian menguat dan mendalamnya Islamisasi pada masyarakat Jawa Kotagede.

Jika bukan Nakamura, peneliti mungkin akan kaget karena prediksinya empat dekade lalu terbukti. Capaian Muhammadiyah pasca 1972 dapat diukur dari fakta yang sederhana hingga yang kompleks. Contohnya, Nakamura menemukan peningkatan jumlah masjid yang sangat drastis di Kotagede, pengelolaan aktivitas hari raya dan zakat yang semakin sistematis dan efektif, peningkatan jumlah amal usaha pendidikan, serta kemajuan di bidang peningkatan kesejahteraan sosial (hlm. 291).

Sayangnya, dalam penelitian keduanya ini Nakamura tidak hanya membawa kabar gembira. Ia menemukan paradoks di balik kemajuan Islamisasi Muhammadiyah di Kotagede. Kemajuan institusional dalam wujud meningkatnya amal usaha secara angka, ternyata menyimpan bara dalam sekam.

Muhammadiyah dikritik dari dalam oleh generasi mudanya karena lambat merespon perubahan sosial yang melanda Kotagede. Gerakan reformis ini juga dinilai gagal menggalang transformasi nilai keagamaan kepada generasi muda (hlm.331). Nakamura melihat itu semua sebagai tantangan yang harus diatasi Muhammadiyah.

Tantangan tersebut semakin rumit dan besar memasuki era reformasi. Keran kebebasan selaku anak kandung reformasi turut memunculkan keragaman ekpresi kebudayaan dan politik yang dikekang semasa orde baru. Alhasil masyarakat Kotagede, muslim khususnya, semakin plural dari segi etnis (akibat dari laju urbanisasi) dan pilihan politik. Pluralitas yang disebut terakhir membuat pusing tujuh keliling, karena menuliskan kisah pilu soal membelotnya sejumlah kader Muhammadiyah ke partai politik. Serta cerita tragis “hilangnya amal usaha kita”, akibat infiltrasi politik di tubuh Muhammadiyah.

Sejumlah tantangan di sektor lainnya seperti sosial, ekonomi, sikapnya terhadap demokrasi dan pluralisme, Nakamura hadirkan di penelitian keduanya ini.

Berbeda dari penelitan yang pertama di mana Nakamura dengan optimis dan lantang memprediksi Muhammadiyah dan Islam sedang dan akan menguat. Pasca penelitian kedua, nada tulisan Nakamura tidak seoptimis dan selantang sebelumnya dalam memprediksi Muhammadiyah. Prediksinya mungkin akan membuat pembaca kaget.

Di mata Ahmad Najib Burhani, Nakamura adalah peneliti yang komitmen dalam mengkaji Islam Indonesia, khususnya Muhammadiyah. Selain menulis disertasi tentang Muhammadiyah, Nakamura menulis beberapa kajian tentang Muhammadiyah dalam sejumlah book chapter. Meski tulisannya tentang Muhammadiyah tidak begitu banyak, Najib menilai itu tidak mengurangi kepakaran Nakamura. Najib menuliskan romansa tentang Nakamura di bagian pra-wacana buku ini.

Buku Bulan Sabit Terbit di atas Pohon Beringin: Studi tentang Pergerakan Muhammadiyah di Kotagede sekitar 1910-2010 ini adalah terjemahan dari karya Nakamura tentang Muhammadiyah yang diterbitkan ISEAS di Singapura. Karya itu sendiri adalah terbitan ulang disertasi atau penelitian Nakamura tentang Muhammadiyah di Kotagede pada 1970-1972, ditambah hasil penelitian ulangnya pada akhir 2007 sampai awal 2008. Selamat membaca. (fikry)

Tinggalkan Balasan