Muhammadiyah: Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe

Wawasan 26 Jun 2021 0 100x
Muhammadiyah

Muhammadiyah

Kiai Ahmad Dahlan punya sifat sepi ing pamrih, rame ing gawe. Sifat itu kemudian melembaga di tubuh Muhammadiyah-‘Aisyiyah.

***

“Saya harus bekerja untuk meletakkan batu pertama bagi pergerakan yang besar ini. Jika saya terlambat atau berhenti bekerja, tidak ada yang dapat membentuk landasannya. Saya merasa waktu saya hampir habis, oleh karena itu jika saya dapat bekerja secepat mungkin, selebihnya bisa disempurnakan oleh orang lain”.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kiai Ahmad Dahlan menjelang akhir hayatnya. Pada waktu itu, ia memasuki usia yang ke-50. Tak lama kemudian, pada 23 Februari 1923, Kiai Dahlan wafat. Ia mewarisi organisasi besar bernama Muhammadiyah.

Di mata Yunus Anis (w. 1979), Kiai Dahlan adalah sosok bersahaja. Menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Periode 1959-1962 itu, dalam kesehariannya Kiai Dahlan mempunyai sifat sepi ing pamrih, rame ing gawe.

Baca Juga: Kiai Ahmad Dahlan Memakai Gamis

Falsafah Jawa tersebut bermakna “bekerja keras tanpa ada pamrih”. Demikianlah pribadi Kiai Dahlan. Perjuangannya membesarkan Muhammadiyah, memajukan kehidupan umat Islam, dan mensejahterakan bangsa Indonesia layak dijadikan teladan.

Suatu hari ketika kas Muhammadiyah sedang kosong, sedangkan gaji guru belum digaji, ia rela melelang harta bendanya. Bahkan di saat kesehatannya menurun, ia tetap melangsungkan aktivitas dakwahnya. Ya, semua itu demi Muhammadiyah.

Selepas Kiai Dahlan wafat, Muhammadiyah dipimpin oleh Kiai Ibrahim. Pada waktu itu, Muhammadiyah mempunyai anggota sebanyak 3.346 orang, terdiri atas 2.622 laki-laki dan 724 perempuan. Kini, Muhammadiyah telah menyebar ke seantero Indonesia, bahkan dunia.

Baca Juga: Di Mana Ada Muhammadiyah, Di Situ Ada ‘Aisyiyah

Sangat disayangkan bahwa saat ini belum ada data riil berapa anggota Muhammadiyah. Identifikasi menggunakan Kartu Tanda Anggota Muhammadiyah-‘Aisyiyah tentu bukan metode yang tepat.

Terlepas dari berapa jumlah anggotanya, Muhammadiyah tetap konsisten dengan tujuannya, yakni “menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”. Tujuan tersebut diwujudkan dengan melahirkan pemikiran yang maju, tokoh yang cerdik-cendekia, dan praksis gerakan baik dalam wujud Amal Usaha maupun kegiatan kelembagaan.

Mengenai Amal Usaha Muhammadiyah-‘Aisyiyah, data yang dihimpun Pusat Syiar Digital Muhammadiyah pada akhir 2020 menunjukkan angka berikut: PTMA: 164, TK/PAUD/KB: 22.000, SD/MI: 2.766, SMP/MTS: 1.826, SMA/SMK: 1.406, RS/Klinik: 364, Masjid/Musala: 20.198, Panti Asuhan: 384, dan Ponpes: 356.

Ketika terjadi bencana, baik yang sifatnya lokal, nasional, maupun global, Muhammadiyah dengan sigap mengulurkan tangan. Per-tanggal 26 Juni 2021, dana yang dikucurkan Muhammadiyah untuk mengatasi pandemi Covid-19 saja sudah mencapai 400 miliar. Dan sebanyak 88 RSMA terlibat dalam penanganan pasien Covid-19.

Di sektor ekonomi, Muhammadiyah melalui Lazismu dan MPM terus bergerilya menopang dan memberdayakan masyarakat terdampak pandemi. Masih banyak kegiatan kemanusiaan Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang lain. Semua itu dilakukan demi kemajuan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Baca Juga: Berkemajuan sebagai Kunci Mempertahankan Keindonesiaan 

Dalam Pokok Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua dinyatakan, “bahwa bangsa Indonesia dan dunia kemanusiaan universal merupakan ranah sosio-historis bagi Muhammadiyah dalam menyebarkan misi dakwah dan tajdid. Misi dakwah dan tajdid dalam konteks kebangsaan dan kemanusiaan merupakan aktualisasi dari fungsi kerisalahan dan kerahmatan Islam untuk pencerahan peradaban”.

Mari lanjutkan warisan dan amanat perjuangan Kiai Dahlan dengan aktif berkontribusi di Muhammadiyah tanpa pamrih. Pesan Kiai Dahlan, “jangan sekali-kali menduakan pandangan Muhammadiyah dengan perkumpulan lain”. (brq)

Tinggalkan Balasan