Muktamar Diundur Tahun 2022, NA Bergerak Hadapi Covid-19 dengan Karya Nyata

Berita 7 Sep 2020 0 102x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah- “Tentunya tidak elok hanya mementingkan egoisme diri sendiri. Ada baiknya sisa waktu ini, kita rapikan pekerjaan yang belum selesai, menyatukan langkah, menambah ladang pahala, serta karya nyata NA untuk lingkungan sekitar dan bangsa,” ungkap Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, Diyah Puspitarini pada Pembukaan Tanwir III PPNA via Zoom, pada Ahad (06/08).

Kesepakatan penundaan Muktamar NA ke- XIV ini, Diyah mengungkap tidak tepat rasanya melakukan pergantian di tengah wabah yang belum kunjung mereda. “Muktamar, Musywil, Musyda, Musycab hingga Musyran, bukan sekedar momentum pergantian ketua umum. Namun ada nilai kesatuan, kesamaan langkah, pengorbanan, regenerasi dan syiar Nasyiatul Aisyiyah,” ucapnya.

Walau, penundaan muktamar akan berdampak pada tata aturan organisasi dan periodesasi, hingga permusyawaratan dari tingkat wilayah hingga ranting. Untuk itu, selain membahas penundaan Muktamar, Tanwir III NA juga membahas metode serta pelaksanaan Muktamar 2022 secara rinci. 

Ketua Umum PP ‘Aisyiyah, Siti Noordjannah Djohantini berharap, di tengah aksi nyata yang solutif dalam menghadapi pandemi. NA juga mesti melakukan refleksi dalam konteks metode maupun aksi sosial, yang nantinya akan tetap berharga meski pandemi telah berakhir. Ini modal sosial bagi kepentingan Muhammadiyah, termasuk NA untuk melanjutkan misi rahmatan lil alamin dalam menggerakkan organisasi,” pungkasnya. 

Sebagai pembuka, Haedar Nashir Ketua Umum PP Muhammadiyah berpesan agar kader NA mempertajam pemahaman keagamaan Muhammadiyah, dengan cara berpikir Bayani, Burhani dan Irfani. Pun dalam menghadapi situasi keumatan dan kebangsaan yang kompleks. Yakni mesti dan harus dilihat dari perspektif Islam Berkemajuan, gerakan pencerahan dan misi dakwah dan tajdid dalam pola prinsip kepribadian dan garis perjuangan Muhammadiyah. “Insya Allah diberkahi Allah, jaga tetap keikhlasan, komitmen dan rasa bersaudara satu sama lain,” imbuhnya.

Mengingat dampak wabah yang telah melumpuhkan hampir segala aspek kehidupan. Bahkan kini virus Covid-19 telah bermutasi dengan kondisi. Tak sedikit yang tak berdaya dengan virus ini. Pun  kasus kematian tenaga kesehatan yang cukup tinggi. Untuk mendoakan para tenaga kesehatan yang telah gugur, di awal pidato iftitah, Diyah mengajak seluruh peserta Tanwil III NA untuk sejenak menundukkan kepala dan berdoa atas nakes yang berperan sebagai pahlawan di situasi covid-19. 

Sebanyak 105 dokter, 70 perawat, 8 dokter gigi, 15 bidan, 1 ahli Lab, 1 pekerja kesehatan, dan 1 asisten apoteker. “Hal ini tidak bisa dianggap tidak penting, mengingat para nakes memiliki kapasitas dalam dunia kesehatan,” imbuhnya. 

NA sebagai kader muda berkemajuan, tidak berpangku tangan, sehingga NA bersatu membantu masyarakat terdampak, lewat 1 komando di bawah Muhammadiyah, yakni MCCC. Pun, NA tetap menjalankan program. “Terdidik tiap hari, bekerja digemari, kemuliaan Islam dicari,” ujar Diyah. (Gustin Juna)

 

Leave a Reply