Sejarah

Muktamar Ke-37 Yogyakarta, Muktamar Pertama Aisyiyah sebagai Organisasi Otonom Muhammadiyah

Muktamar Aisyiyah

‘Aisyiyah berdiri pada 27 Rajab 1335 H atau bertepatan dengan 19 Mei 1917 M. Nama ‘Aisyiyah bermakna pengikut ‘Aisyah, istri Nabi Muhammad saw. yang dikenal dengan kecerdasannya. Pemilihan nama itu merupakan simbol cita-cita Muhammadiyah tentang profil perempuan.

Berdirinya ‘Aisyiyah tidak dapat dilepaskan dari dorongan Kiai Ahmad Dahlan untuk memajukan kehidupan perempuan. Kiai Dahlan punya pandangan bahwa yang berhak untuk mempunyai ilmu pengetahuan dan terlibat dalam urusan sosial-keagamaan bukan hanya laki-laki, tapi juga perempuan.

Beberapa perempuan yang mula-mula menggerakkan ‘Aisyiyah adalah Siti Walidah, Siti Bariyah, Siti Wadingah, Siti Dawimah, Siti Umniyah, Siti Badilah, Siti Hayinah, Siti Munjiyah, dan lain-lain. Di tangan merekalah ‘Aisyiyah menunjukkan taringnya sebagai organisasi perempuan muslim yang berkemajuan.

‘Aisyiyah terbukti membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat Indonesia, khususnya bagi anak-anak dan perempuan. Banyak inovasi gerakan yang dilakukan, mulai dari mendirikan TK ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (Frobel School), mendirikan musala perempuan, mengadakan kongres bayi, menerbitkan Majalah Suara ‘Aisyiyah, dan sebagainya.

Menjadi Organisasi Otonom

Hingga 1966, ‘Aisyiyah masih merupakan bagian dari Hoofdbestuur Muhammadiyah. Seiring perkembangan waktu, ‘Aisyiyah ditetapkan menjadi organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah. Dengan demikian, ‘Aisyiyah punya hak dan kewajiban untuk mengatur “rumah tangga”-nya sendiri.

Penetapan itu terjadi pada Oktober 1966, 44 tahun setelah ‘Aisyiyah berdiri. Kala itu, ‘Aisyiyah sudah berulang kali mengadakan muktamar dan melakukan pergantian kepemimpinan. Mulai dari Siti Bariyah, Nyai Walidah, Siti ‘Aisyah Hilal, dan seterusnya hingga Siti Baroroh Baried.

Baca Juga: Mengenal Siti Baroroh Baried, Pelopor Kiprah Internasional ‘Aisyiyah

Oleh karena itu, Muktamar Ke-37 ‘Aisyiyah terasa istimewa sebab menjadi muktamar pertama yang diselenggarakan setelah ‘Aisyiyah ditetapkan sebagai ortom Muhammadiyah. Muktamar itu dilaksanakan pada September 1968, tiga tahun setelah pelaksanaan Muktamar Ke-36 di Bandung pada 1965.

Seruan Menyambut Muktamar Pertama

Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah waktu itu mengajak warga ‘Aisyiyah untuk beramai-ramai menyongsong dan mensyiarkan pelaksanaan Muktamar. Melalui Majalah Suara ‘Aisyiyah, PP ‘Aisyiyah menyerukan “Hajoo ke Muktamar”.

“Njanjian Muktamar sudah ditjipta dan disiarkan. Marilah kita njanjikan selalu, adjaklah putera dan puteri saudara, murid2 dari SD, SMP, SMA, sampai mahasiswa2nja diperguruan tinggi, menjanjikan lagu Muktamar, agar bersemarak dan bertambah semangat” (Suara ‘Aisyiyah, No 13/14 Tahun 1968).

Muktamar merupakan ajang pertemuan pimpinan ‘Aisyiyah dari cabang, daerah, wilayah, serta pimpinan pusat. Waktu itu, barangkali, hanya melalui Muktamarlah para pimpinan ‘Aisyiyah di berbagai struktur kepemimpinan dari berbagai daerah dapat bertemu. Muktamar juga menjadi ajang pertemuan antara generasi tua dan muda.

“… djuga kita akan berkenalan dengan anggauta Pimpinan jang baru, jang masih lintjah dan dinamis, aktif, para remadja sebagai tunas2 baru jang sudah tumbuh sebelum kita patah -jang sudah bersiap2 untuk mengganti sebelum kita hilang”.

Selain itu, yang tidak kalah penting, Muktamar adalah ruang bagi para pimpinan ‘Aisyiyah untuk bermusyawarah dan berunding mencari titik temu untuk nantinya dilaksanakan dan dikerjakan oleh warga ‘Aisyiyah se-Indonesia. Permusyawaratan itu tidak lain adalah untuk merundingkan hal-hal penting dalam rangka mewujudkan kemanfaatan dan kemaslahatan bersama, baik di bidang pendidikan, kesehatan, keagamaan, sosial-kemasyarakatan, dan sebagainya.

“Dalam Muktamar kita akan memperhatikan Pemandangan ‘Aisjijah, laporan kerdja ‘Aisjijah selama 3 tahun sedjak Muktamar Bandung dll. sebagainja jang semuanja itu akan kita bahas bersama, mentjetuskan keputusan2 jang akan kita kerdjakan bersama”.

Pada Muktamar ini, Siti Baroroh Baried kembali terpilih menjadi Ketua Umum PP ‘Aisyiyah. Di masa kepemimpinannya, ‘Aisyiyah punya posisi tawar yang bessar di luar negeri. Ia juga menjadi salah satu perwakilan Muhammadiyah dalam Konferensi Islam Asia Afrika Pertama di Bandung. (bariqi)

Related posts
Berita

GSM PWA Jawa Barat: Memajukan Perempuan, Membangun Peradaban

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Memajukan perempuan artinya memajukan peradabadan. Hal ini sesuai dengan Sustainable Development Goals (SDGs) yang gencar digaungkan oleh pemerintah. Dikatakan…
Berita

PP Muhammadiyah dan Aisyiyah Temui Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Sampaikan Undangan Muktamar Ke-48

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP Muhammadiyah, PP ‘Aisyiyah, beserta Panitia Pusat Muktamar ke-48 melakukan audiensi dengan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo di…
Berita

Siti Noordjannah Djohantini: Gerakan Nasional Paralegal Aisyiyah Harus Inklusif

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – PP ‘Aisyiyah meluncurkan Gerakan Nasional Paralegal, Jumat (9/9). Kegiatan yang mengusung tema “Penguatan Peran ‘Aisyiyah dalam Pendampingan Hukum…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.