Sejarah

Nasyiatul Aisyiyah yang Bersimbol Padi

Nasyiatul Aisyiyah

Pada 1919, bermula dari niat untuk menyiapkan bekal hidup bagi putra-putri Muhammadiyah, lahirlah sebuah perkumpulan bernama “Siswa Praja”. Perkumpulan ini didirikan dengan tiga maksud utama, yaitu merukunkan murid Muhammadiyah, memperbaiki akhlak, dan memperdalam agama.

Seiring berjalannya waktu, Siswa Praja menjadi perkumpulan yang berkembang maju. Oleh karena itu, muncul ide untuk melakukan pemisahan anggota (putra dan putri). Ide itulah yang menjadi muasal lahirnya Siswa Praja Wanita (SPW), yang selanjutnya berubah nama menjadi Nasyiatul ‘Aisyiyah pada 1931.

Tokoh SPW periode awal di antaranya adalah Siti Wasilah (Ketua), Siti Umniyah (Wakil Ketua), Siti Djuhainah (Sekretaris), dan Siti Zaibijah (Bendahara). Sebagai ketua pertama, masa kepemimpinan Siti Wasilah hanya berlangsung sebentar, yaitu sekitar 5 (lima) bulan. Ia mengundurkan diri setelah menikah dengan KRH. Hadjid.

Siti Umniyah yang sebelumnya menjadi Wakil Ketua kemudian menggantikan peran kepemimpinan Siti Wasilah. Pada masa kepemimpinannya itu, gerak SPW makin berkembang. Gerakannya tidak hanya tentang urusan keperempuanan saja, tapi juga tentang pengetahuan umum dan agama.

Baca Juga: Muda-Mudi Muhammadiyah

Kemajuan SPW pada masa itu dapat diamati dengan pembentukan divisi-divisi. Ada divisi Thalabus Sa’adah yang merupakan wadah belajar bagi para remaja berusia 15 tahun ke atas. Ada Tajmilul Akhlak yang diperuntukkan bagi anak-anak di bawah usia 15 tahun. Ada Jam’iyatul Athfal untuk anak-anak berusia 10 tahun. Ada pula Dirasatul Banat sebagai wadah belajar bagi anak umur 8 tahun ke atas.

Siti Umniyah juga menginisiasi pendirian Sekolah Frobel (Bustanul Athfal). Berdirinya Bustanul Athfal merupakan satu di antara upaya SPW untuk menanamkan pendidikan keislaman kepada anak berusia di bawah 4 tahun. Selain Siti Umniyah, guru-guru yang mengajar di Bustanul Athfal adalah Siti Djalalah dan Siti Sa’adah.

Pencapaian demi pencapaian SPW itu menjadi pembicaraan dalam Kongres Muhammadiyah ke-18 di Solo. “Mengingat makin pesatnja perkembangan S.P.W., maka berarti makin berat pula tanggung djawab dalam pembinaannja. Maka dalam Kongres Muhammadijah pada th. 1929 telah pula ditetapkan bahwa S.P.W. adalah mendjadi bagian dari Aisjijah,” (Sedjarah Kelahiran Nasjiatul ‘Aisjijah, hlm. 27).

Sebagai bagian dari ‘Aisyiyah, SPW pun lalu berganti nama menjadi Nasyiatul ‘Aisyiyah yang berarti “tumbuh untuk menjadi ‘Aisyiyah”. Selanjutnya, tepatnya dalam Kongres Muhammadiyah ke-20 di Yogyakarta pada 16 Mei 1931, Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) resmi berdiri dengan tujuan mendidik remaja putri sehingga kelak menjadi remaja putri Islam yang sejati.

Filosofi Simbol

Simbol/logo Nasyiatul ‘Aisyiyah terdiri atas unsur padi 12 biji, dua pasang daun, pita yang bersimpul, dan tulisan Arab al-birru man-i-ttaqa. Penggunaan unsur-unsur itu didasarkan pada maksud tertentu, sebagai berikut:

Biji padi punya arti baik. Sebagaimana sifat padi yang semakin berisi semakin menunduk, kader NA diharapkan dapat bermanfaat bagi orang lain. Adapun jumlah 12 adalah representasi dari 12 langkah Muhammadiyah yang digagas K.H. Mas Mansur.

Dua pasang daung yang saling berpotongan arah (ke bawah dan ke atas) menggambarkan tujuan NA untuk menjadi pelanjut perjuangan ‘Aisyiyah. Tumbuh sebelum patah, berganti sebelum hilang.

Pita yang bersimpul bermakna kegembiraan dan persatuan. Dengan kegembiraan dan persatuan itu, segala tugas atau amal saleh akan dapat dikerjakan.

Tulisan berbahasa Arab al-birru man-i-ttaqa diambil dari Q.S. al-Baqarah: 189 yang punya makna literal “kebaikan adalah (kebaikan) orang yang bertakwa”. (siraj)

Related posts
Lensa Organisasi

Lirik Mars Nasyiatul ‘Aisyiyah

Nasyiah yang bersimbol padi Terdidik tiap hari Kemuliaan Islam dicari Bekerja digemari   Nasyiah yang bersimbol padi Simbol kumpulan putri Hidup berdiri…
Berita

Gandeng Kemen PPPA, Nasyiatul Aisyiyah Luncurkan Pilot Project Sekolah Parenting

Jakarta, Suara ‘Aisyiyah – Bagi Nasyiatul ‘Aisyiyah, keluarga merupakan lambang kesatuan gerak dari elemen sosial terkecil dalam masyarakat. Keluarga juga punya peran…
Berita

Nasyiatul Aisyiyah Nyatakan 8 Sikap tentang Pemilu 2024

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) menyadari bahwa peran perempuan dalam aktivitas demokrasi dan konstelasi sangat penting. Keterlibatan NA dalam Pemilu…

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *