Sosial Budaya

Negeri Zaitun, Negeri Para Nabi

Yerusalem Negeri Para Nabi
Yerusalem Negeri Para Nabi

Yerusalem (foto: unsplash/robert bye)

Oleh: Hajriyanto Y. Thohari*

Negara-negara yang mengelilingi laut Mediterania, yaitu Lebanon, Palestina, Suriah, Siprus, Turki, Yunani, Italia, Kroasia, Spanyol, Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya, dan Alexandria (Mesir), memiliki banyak persamaan: fisik (warna kulit, muka, rambut, bentuk hidung). Demikian pula kebudayaannya: kesenian, musik, cara berdandan, pesta, makanan, dan lain-lainnya. Tapi masih ada satu lagi yang sama di negara-negara tersebut: Zaitun. Sungguh sangat menarik masing-masing negara tersebut mengklaim bahwa Zaitun terbaik di dunia adalah Zaitun yang dihasilkan tanah negerinya. Tapi dari semuanya itu yang paling banyak diakui kehebatannya adalah Zaitun Yerusalem.

Yerusalem dalam bahasa Inggris ditulis Jerusalem atau Urusalem. Sementara bangsa Arab tidak mau menyebut Yerusalem, melainkan lebih suka menamakannya Al-Quds, Baitul Maqdis. Yerusalem, seperti kita tahu adalah kota suci tiga agama: Yahudi, Kristen, dan Islam. Yahudi mengklaim Yerusalem kota suci karena di sana ada Temple Mount dan Tembok Ratapan, Kristen karena di sana ada The Holy Spulcher (Gereja Makam Kudus, kanisah al-qiyamah), Golgota, Via Dolorosa, dsb), dan Islam karena di sana ada Masjid Al-Aqsa (al-Haram as-Syarif) dan Kubah al-Shakhra (Dome of The Rock), tempat nabi Muhammad SAW Isra’ dan berangkat Mi’raj ke Sidratil Muntaha di langit ketujuh.

Tiga agama besar dunia itu pada sejatinya berbagi (sharing) kesucian atas kota tua ini sejak lama, tetapi Tanah Suci yang juga negeri Zaitun ini kini diduduki (occupy) dan dikuasai oleh sebuah negara yang menamakan dirinya Israel sejak Perang 1967. Negara Israel ini berdiri melalui sebuah deklarasi pada tahun 1948 atas sponsor negara-negara kolonialisme Barat dan didukung penuh oleh Amerika Serikat sampai hari ini.

Semua orang Arab apapun agamanya bermimpi mengunjungi kota ini. Saya pernah menghadiri sebuah acara penganugerahan Maestro Seni kepada maestro seni teater Lebanon, Nidal Al Achkar. Dia membacakan sebuah puisi yang berisi kerinduannya terhadap Palestina dengan sangat mengharukan. Di dalam puisi itu dia mengatakan dan bersumpah akan berziarah ke Yerusalem, menyanyi, dan menari di kebun-kebun Zaitun di Yerusalem itu. Sampai usianya yang telah mencapai 70 tahun dia belum bisa ke Yerusalem: bukan tidak bisa pergi ke sana, tetapi, sebagaimana orang Arab lainnya, tidak sudi berziarah ke Yerusalem selama masih dikuasai oleh Zionis Isreal. Perlu dicatat, Nidal Al Achkar ini adalah seorang Kristen Lebanon.

Zaitun: Simbol Berkah

Yerusalem atau Al-Quds konon merupakan penghasil Zaitun dengan kualitas nomor wahid di dunia. Setidaknya demikianlah klaim orang Palestina. Minyak Zaitun atau olive oil perasan pertama dari Yerusalem adalah olive oil terbaik di dunia (sampai ujung akhirat).

Khasiat Zaitun juga banyak: entah mitos entah realitas, minyak Zaitun bisa diminum setiap pagi dua sendok niscaya akan menurunkan kolesterol, gula, asam urat, dan segala macam penyakit degeneratif. Bagi bangsa-bangsa di kawasan Mediterania tidak ada masakan yang diolah tanpa Zaitun (lihat Yasmin Khan, Zaitoun: Recipes from the Palestinian Kitchen, 2020). Buah Zaitun juga dimakan bersama salad, ikan, daging, roti, dan lain-lainnya.

Minyak Zaitun juga banyak digunakan untuk bahan-bahan ramuan dan obat kecantikan terutama bagi perempuan, sabun kecantikan yang mampu memperhalus dan mempermulus kulit, dan lain-lainnya. Buah dan minyak Zaitun adalah serba guna bagi mereka.

Tak heran jika Zaitun adalah andalan utama bangsa-bangsa Arab dan Eropa yang mengelilingi laut Mediterania, termasuk bangsa Palestina. Orang-orang Palestina selalu mengatakan bahwa “Kami bangsa bisa hidup hanya dengan hasil kebun Zaitun kami”. Yang penting bagi bangsa ini adalah Al-Qudsnya harus dibebaskan dari penjajahan (occupation) Zionis Israel dan kembali ke bangsa Palestina.

Zaitun, baik sebagai pohon maupun sebagai buah, adalah salah satu nama pohon dan buah yang namanya disebut secara eksplisit dalam kitab suci Al-Quran di beberapa tempat. Dalam Q.s. at-Tin:1 Allah Subhanahu Wa Ta’ala bukan hanya menyebut, bahkan bersumpah dengan menggunakan kata Tin dan Zaitun: Wattini wazzaitun (artinya: “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun).

Baca Juga: Perempuan-Perempuan Palestina

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman menyebut kata zaitun secara implisit (Q.s. al-Mu’minun: Ayat 20). wa syajarotan takhruju min thuuri sainaa-a tambutu bid-duhni wa shibghil lil-aakiliin. Artinya, «dan (Kami tumbuhkan) pohon (Zaitun) yang tumbuh dari Gunung Sinai, yang menghasilkan minyak, dan bahan pembangkit selera bagi orang-orang yang makan».

Kemudian dalam Q.s. an-Nur: 35 disebutkan “….syajaratin mubarakatin zaitunatin la syarqiyatin wa la gharbiyyah”, yakni pohon yang diberkahi yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat. Di sini, di ayat ini, dengan tegas menyebut bahwa Pohon Zaitun disebut sebagai “syajaratin mubarakatin”, yakni pohon yang diberkahi. Apa dan dalam pengertian apa diberkahi di sini? Rasanya telah banyak mufassir memberikan penafsiran yang berbeda-beda satu sama lain.

Mohammad Asad dalam tafsirnya The Message of The Quran yang terkenal itu menerjemahkan ayat tersebut sebagai berikut: “Serta sebatang pohon yang keluar dari (tanah yang berbatasan dengan) Gunung Sinai, yang menghasilkan minyak dan penyedap bagi semua orang untuk makan”. Minyak Zaitun, sebagaimana telah disinggung di atas, di samping memang menjadi penyedap makanan, juga dikenal sangat banyak khasiatnya.

Kata Asad yang dimaksud dengan pohon tersebut adalah pohon Zaitun, yakni pohon khas dari negeri-negeri di sekitar Mediterania timur. Zaitun merupakan simbol dari negeri-negeri tempat pohon-pohon tersebut banyak dijumpai: yakni, negeri-negeri yang berbatasan dengan bagian timur wilayah Mediterania, khususnya Palestina dan Suriah.

Makna Spiritual

Di negeri-negeri itulah para nabi keturunan nabi Ibrahim as. yang disebutkan di dalam Al-Quran hidup dan menyebarkan ajaran-ajarannya. Dua jenis pohon atau buah ini, Tin dan Zaitun, kata Mohammad Asad dalam tafsirnya di atas, dapat dipandang sebagai metominia atau kiasan bagi ajaran-ajaran keagamaan yang disuarakan melalui serangkaian panjang para nabi dan orang-orang yang memperoleh wahyu Allah swt. tersebut, yang mencapai puncaknya pada nabi Yahudi terakhir, yakni Nabi Isa AS (Lihat catatan no. 8, Jilid II hal. 650), dan kemudian keturunan Arab, Muhammad saw. Walhasil, ada tiga fase sejarah agama monoteis (Tauhid), yang secara kiasan dipersonifikasikan oleh Nabi Musa as., Nabi Isa as., dan Nabi Muhammad saw.

Sebagai pohon dan buah yang namanya disebut dalam Kitab Suci Al-Quran, Zaitun tentu memiliki makna tersendiri yang bukan hanya terkait dengan khasiat dan faedahnya secara instrumental, melainkan juga makna intrinsiknya yang sakral dan spiritual.

Rasanya pasti ada nilai khususnya sebuah nama, nama apa saja, disebutkan secara eksplisit dalam Al-Quran. Nilai khusus tersebut bisa positif, bisa pula negatif. Dan nama Zaitun disebut di sini saya rasa lebih banyak nilai positifnya dari pada nilai negatifnya. Tidak seperti, misalnya, nama Fir’aun atau Hamam, atau juga nama Abu Lahab. Mungkin. [4/23]

*Duta Besar LBBP RI di Lebanon

Related posts
Wawasan

Al–Quds: Kota Suci 3 Agama

Kota Yerusalem atau al – Quds merupakan kota suci bagi tiga agama sekaligus, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi. Ketiganya mempunyai sejarah panjang…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *