Nilai Al-Quran dan Logika Media Sosial

Hikmah 31 Des 2021 2 55x
Media Sosial

ilustrasi: freepik

Oleh: Ayub

Banyak orang mengira bahwa link yang mereka klik, komentar yang mereka tulis, atau foto serta video yang mereka unggah di dunia digital tidak berimplikasi apa-apa di dunia nyata. Itulah masalah utamanya. Jika kita masih berpikir demikian, maka kita masih akan bertingkah kurang waspada ketika sedang berada dalam jaringan internet (online).

Padahal, bagaikan pisau bermata dua, di satu sisi dunia maya menawarkan berbagai solusi menjanjikan, tetapi di sisi lain dunia maya juga menyimpan potensi konsekuensi berbahaya yang sangat nyata. Bukan hanya di level individu, melainkan juga di level negara dan peradaban.

Dunia Maya yang Sangat Nyata

Para ahli komunikasi sosial menyatakan bahwa perubahan yang dibawa oleh dunia maya, terutama media sosial telah mengubah pola komunikasi kita. Komunikasi tatap muka menjadi pelan-pelan kehilangan perannya. Bahkan, ketika ada komunikasi yang tampak seperti tatap muka, pada hakikatnya ia adalah komunikasi yang ter-filter. Dengan demikian, tetap saja dalam tatap muka di dunia maya tersebut terdapat semacam hijab yang menghalangi antar-pihak yang berkomunikasi. Hasil paling buruknya adalah keadaan anonim di dunia maya membuat banyak orang menjadi mudah menyebarkan berita palsu.

Karena itu, era informasi ini justru menjadi era disinformasi, era misinformasi, dan era berita menyesatkan. Penelitian telah menunjukkan bahwa hoaks dapat berakibat nyata dan banyak orang yang telah menjadi korbannya (Lee, 2014). Di masa pandemi ini, dampak hoaks tersebut semakin terlihat, misalnya banyak orang yang enggan divaksin dan tidak taat prokes. Semua itu karena pengaruh berita dan narasi sesat di dunia maya.

Di level psikologis, banyak orang yang mencari hiburan dan mengobati lara di dunia maya. Padahal, sudah banyak penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial justru berpotensi meningkatkan depresi. Semakin lama di media sosial, semakin tinggi kemungkinan depresi itu (Brooks, 2015). Selain itu, media sosial juga berpotensi membuat jalan bagi penyimpangan-penyimpangan psikologis, terutama yang terkait dengan masalah seksual.

Hal ini terbukti dari banyaknya pemuda –juga orang tua– yang terlibat eksperimentasi seksual menyimpang setelah melihat tayangan di dunia maya. Selain itu, tayangan di dunia maya juga sudah banyak membuat anak-anak menjadi korban cyberbully hingga menyebabkan bunuh diri (Kircaburun, 2018). Anonimitas mempu-nyai peran dalam hal ini. Banyak orang mengira, karena di dunia maya mereka anonim, maka ia bebas berlaku sesukanya.

Sosial media bahkan dapat mengguncang sebuah negara. Kasus Cambridge Analytica yang terbukti dapat memanipulasi pemilu di Amerika menjadi contoh nyata. Bahkan, di negara yang membanggakan diri sebagai kampiun demokrasi sekalipun, dampak nyata dunia maya tetap menggucang mereka. Banyak revolusi yang terjadi belakangan ini dimulai dari pergolakan di dunia maya. Memang, kita dapat berpartisipasi mendiskusikan politik, tetapi belum tentu benar-benar memiliki kemampuan literasi politik.

Fikih Informasi dan Logika Sosial Media

Terlepas dari berbagai efek di atas, sebenarnya ada pola yang sama yang terjadi di dunia maya. Peneliti ahli dunia maya, Jose Van Dijk, menyatakan bahwa media sosial diatur oleh “logika” atau aturan mainnya sendiri. Dalam hal ini, penulis akan menunjukkan bagaimana kita dapat menghadapi logika ini dengan berpedoman pada Fikih Informasi.

Logika pertama adalah programmability. Ini artinya, media sosial memiliki kemampuan untuk memancing penggunanya untuk terus-menerus membagikan informasi dan berkomunikasi. Terkadang dalam sehari, jika tidak melihat timeline atau tidak mengunggah sebuah status kita merasa ada yang kurang. Ini adalah akibat dari logika programmability ini. Untuk menghadapi logika ini, maka kita perlu mengingat salah satu qiyam asasi atau nilai dasar Fikih Informasi, yakni fathonah atau kecerdasan.

Salah satu tanda orang cerdas dalam al-Quran adalah sifat ulin nuha (Q.S. Taha: 54).

كُلُواْ وَٱرۡعَوۡاْ أَنۡعَٰمَكُمۡۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّأُوْلِي ٱلنُّهَىٰ

Artinya, “Makanlah dan gembalakanlah binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.”

Arti ulin nuha adalah mereka yang dapat ‘menahan diri’. Dengan demikian, dalam perspektif al-Quran, salah satu tanda kecerdasan adalah ketika kita mampu menahan diri dari sesuatu yang secara akal sehat, apalagi syariat tidak maslahat. Memang dari segi syariat, sharing di media sosial bisa jadi mubah, tetapi seorang ulin nuha akan melihat bahwa perbuatan demikian perlu ada batasnya.

Baca Juga: Perempuan dalam Kemajuan Teknologi

Logika berikutnya adalah popularity, yakni kemampuan media sosial untuk membuat sesuatu menjadi populer dan membuat semua penggunaannya ikut serta dalam hingar-bingar kepopuleran itu. Dari sinilah muncul istilah trending topic, dan berpengaruhnya influencer, karena sejak kita membuka sosmed, kita akan langsung ditawari “inilah yang populer hari ini” agar kita ikut berpartisipasi. Padahal, tidak semua yang trending topic itu important topic.

Logika ini sebenarnya sangat bertentangan dengan prinsip dasar bernalar dalam al-Quran. Umat Islam diperingatkan oleh Allah bahwa jumlah banyak dan popularitas belum tentu berarti kebenaran (Q.S.  Al-An’am: 116).

وَإِن تُطِعۡ أَكۡثَرَ مَن فِي ٱلۡأَرۡضِ يُضِلُّوكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِۚ إِن يَتَّبِعُونَ إِلَّا ٱلظَّنَّ وَإِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

Artinya, “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).”

Oleh karena itu, perlu ada pemahaman, jika melihat akun yang banyak follower-nya atau konten yang sedang trending, kita tidak perlu ikut-ikutan.

Logika berikutnya adalah connectivity, yakni sifat dasar media sosial yang membuat semua orang terhubung. Ini tentu ada baiknya, sebab al-Quran dan hadis menganjurkan kita untuk saling menyapa dan berbagi kabar gembira. Karena itu, Fikih Informasi menyatakan bahwa media sosial harusnya menjadi ajang untuk melakukan tabligh kebaikan.

Namun, ternyata ada sisi buruknya, yakni munculnya filter bubble, yaitu ketika kita terkoneksi hanya dengan kalangan tertentu yang sudah diatur oleh suatu media sosial. Akhirnya, kita menjadi terkotak-kotak dan penuh curiga kepada mereka yang berada di bubble (lingkaran pergaulan media sosial) lain. Ini yang paling banyak merusak saat ini.

Menghadapi connectivity,  kita harus mengingat pesan al-Quran dalam al-Hujurat 10-13. Ada beberapa istilah penting yang sangat relevan dari ayat-ayat tersebut. Pertama, kita perlu mengingat bahwa pada dasarnya semua manusia itu dari pencipta yang satu dan harus dihormati. Tidak boleh ada taskhir (menganggap rendah) dan harus ada ta’aruf atau saling mengenali.

Selanjutnya, hindari banyak prasangka (zhan), mencari-cari cela kesalahan (tajassus), dan menyebarkan desas-desus tidak jelas tentang orang lain (ghibah). Nilai-nilai dasar ini, mungkin sudah banyak diketahui, tetapi jika diamalkan dengan sungguh-sungguh, dapat menyelesaikan hampir semua masalah yang muncul akibat media sosial.

Logika terakhir adalah datafication, yakni kemampuan media sosial untuk melacak semua gerak-gerik kita dan menyimpannya menjadi data. Awalnya, hanya gerak-gerik di dunia maya, lalu dari situ akan diinferensi pada kecenderungan di dunia nyata. Ini berawal dari kita sendiri yang gemar membagikan apa pun di media sosial. Karena itu, menghadapi hal ini Fikih Informasi mengingatkan kita bahwa data itu memiliki nilai. Informasi tentang diri dan keluarga kita mempunyai nilai yang sangat pen-ting. Karena itu, jangan diobral dengan murah.

Baca Juga: Merekat Persatuan dengan Islam Wasathiyah

Biasanya hal ini muncul dari keinginan seseorang untuk memamerkan, tetapi bisa juga karena keinginan untuk tahditusuni’mah menyampaikan nikmat. Bagaimanapun, niat baik harus dijalankan dengan baik. Jangan sembarangan mengunggah kegiatan di media sosial. Ada banyak hadis yang melarang kita menyebar rahasia diri. Al-Quran mengingatkan bahwa kita harus memiliki iffah, yakni tidak sembarangan menyebarkan keluh-kesah kita (al-Baqarah: 273).

لِلۡفُقَرَآءِٱلَّذِينَ أُحۡصِرُواْ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ لَا يَسۡتَطِيعُونَ ضَرۡبٗا فِي ٱلۡأَرۡضِ يَحۡسَبُهُمُ ٱلۡجَاهِلُ أَغۡنِيَآءَ مِنَ ٱلتَّعَفُّفِ تَعۡرِفُهُم بِسِيمَٰهُمۡ لَا يَسۡ‍َٔلُونَ ٱلنَّاسَ إِلۡحَافٗاۗ وَمَا تُنفِقُواْ مِنۡ خَيۡرٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِهِۦ عَلِيمٌ

Artinya, “Berinfaklah, kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”

Dari perspektif yang murni teknik, dunia saat ini sudah memasuki masa 4.0 dengan salah satu cirinya internet of things. Namun, dari perspektif kejiwaan manusia, seperti layaknya dunia nyata dari dahulu hingga sekarang, dunia digital beroperasi dalam bingkai tarik-menarik fujūr dan takwa (Q. S. al-Syams: 8-10).

فَأَلۡهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقۡوَىٰهَا قَدۡ أَفۡلَحَ مَن زَكَّىٰهَا وَقَدۡ خَابَ مَن دَسَّىٰهَا

Artinya, “(8) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, (9) sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (10). dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”

Hanya saja, ada sesuatu pada dunia maya yang membuat manusia lebih mudah tertipu, lebih mudah termanipulasi untuk mengikuti tarikan fujur-nya itu. Oleh karena itu, nilai-nilai al-Quran di atas masih sangat penting untuk kita ingat dan amalkan. Al-Quran tetap relevan, hanya kita yang perlu mawas diri untuk selalu mengamalkannya.

*Divisi Kemasyarakatan dan Keluarga MTT PP Muhammadiyah

2 thoughts on “Nilai Al-Quran dan Logika Media Sosial”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *