Noordjannah Djohantini: Perempuan Berkemajuan Harus Memiliki Sifat dan Berperilaku Inklusif

Berita 3 Des 2021 0 116x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Senin, 29 November 2021 menjadi hari yang spesial bagi para siswi, guru, seluruh sivitas, maupun alumni Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Di hari inilah resepsi Milad ke-109 Muhammadiyah sekaligus Milad Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta ke-103 dilaksanakan.

“Derap Langkah Madrasah Perempuan Berkemajuan untuk Menebarkan Nilai Utama” menjadi tema yang diusung pada milad kali ini. Pada resepsi milad kali ini, terdapat beberapa tokoh penting dan penampil yang hadir, salah satunya yang paling ditunggu-tunggu ialah amanat dari Siti Noordjannah Djohantini selaku Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.

Madrasah Mu’allimaat hadir selang 6 tahun dari berdirinya Muhammadiyah, dari sini kita harus merasa bangga dan bersyukur bahwa Kiai Ahmad Dahlan dan tokoh-tokoh Muhammadiyah awal begitu memahami dan memberi perhatian agar memajukan kaum perempuan. Muhammadiyah terus berusaha untuk melawan penjajahan dengan cara pikir yang diinstitusionalkan, dengan membuat amal-amal usaha. Bahkan beberapa amal usaha tersebut sampai saat ini masih kita rasakan, seperti amal usaha bidang pendidikan, kesehatan, dan bidang-bidang yang lain.

Hadirnya Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimaat adalah salah satu cara untuk melawan penjajah di masa tersebut. Karena bagaimanapun juga penjajah tidak ingin para penduduknya atau objek yang dijajah bisa berpikiran maju. Mungkin pada saat itu, Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Madrasah Mu’allimin adalah sesuatu usaha yang terkesan biasa, karena merupakan sekolah untuk kaum laki-laki, tapi beda halnya ketika beliau mendirikan juga Madrasah Mu’allimaat untuk khusus kaum perempuan. Tindakan tersebut merupakan cerminan bagaimana perilaku dan pikiran yang melompati zamannya dengan didikan modern dan berkemajuan.

Baca Juga: Muhadjir Effendy: Muallimaat Lahirkan Kader Perempuan Persyarikatan dan Bangsa

Para siswi dan alumni Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah wajib memiliki rasa bangga dapat bersekolah di Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah. Madrasah inilah yang secara langsung didirikan oleh para tokoh besar Muhammadiyah. Mereka mendirikannya dengan penuh tekad dan harap untuk mendidik, menempa, dan menciptkan para kader-kader putri yang selalu berpikir berkemajuan. Pada milad ke-103 ini, harus dijadikan pengingat sebagai karunia dari Allah swt. bahwa sampai saat ini telah dibuktikkan kepada para pendiri Muhammadiyah dan tokoh-tokoh besar lainnya, bahwa segala yang telah diusahakan dapat bertahan sampai saat ini.

Ada beberapa harapan yang disampaikan oleh Ketua Umum PP ‘Aisyiyah ini. Pertama, untuk para siswi, alumni, pengajar, dan seluruh sivitas Madrasah Mu’allimaat Muhammdiyah Yogyakarta. Semua pihak harus senantiasa ingat, dikuatkan, diteguhkan prinsipnya bahwasannya Madrasah Mu’allimaat ini hadir sebagai rahmat untuk kepentingan keumatan dan kebangsaan.  Maka dari itu, mari senantiasa membuat Madrasah ini semakin berkembang ke arah yang lebih baik dan bisa membawa manfaat yang lebih banyak.

Kedua, turut bangga dan sangat mengapresiasi atas prestasi yang dicetak oleh para siswi, pengajar, dan seluruh sivitas Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah yang telah membuktikan bahwa mereka sangat bersungguh-sungguh dan serius untuk selalu berusaha mengharumkan nama Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah. Harapannya, ini menjadi batu loncatan untuk terus mencetak prestasi yang lebih tinggi lagi, dalam segi kuantitas dan kualitas.

Ketiga, dengan segala prestasi yang telah didapatkan, semoga tidak menjadikan Madrasah Mu’allimaat ini menjadi puas dan berdiam diri. Tapi sebaliknya, kerja sama dan berkolaborasi dengan banyak pihak tetap harus dilakukan. Demi menciptakan Madrasah Mu’allimaat ke arah yang lebih baik. Madrasah Mu’allimaat dapat bekerjasama dengan berbagai pihak, baik dalam lingkup internal-eksternal Muhammadiyah, maupun secara nasional-internasional.

Keempat, amanat khusus bagi para pengajar. Ustadz dan ustadzah agar senantiasa menanamkan prinsip yang kuat bagi para siswinya. Kita sebagai perempuan tentu harus penuh dengan rasa dan perilaku yang terbuka atau secara inklusif. Tapi kunci untuk menjadi perempuan berkemajuan adalah dengan bersikap terbuka dengan prinsip yang ia pegang berdasarkan nilai-nilai keagamaan dan pandangan Muhammadiyah.

Gerakan perempuan di Muhammadiyah khususnya Aisyiyah yang cikal bakalnya adalah Madrasah Mu’allimaat bisa menjawab segala tantangan realitas yang terjadi pada zaman sekarang ini. Membahas dari isu tentang stunting, isu tentang kesehatan reproduksi yang dinilai dari pandangan Islam, bahkan se-sederhana isu tentang masalah berkomunikasi yang benar sesuai pandangan Islam. Akhirnya, pandangan Islam dan Muhammadiyah inilah menjadi jawaban atas isu-isu yang terjadi di masyarakat dan bisa dijadikan sebagai pondasi umat manusia untuk bertindak lebih baik. (LTA)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *