Nuruddin Ar-Raniri dan Polemik tentang Wujud Tuhan

Aksara 15 Des 2021 0 94x

Sisi Lain Nuruddin Ar-RaniriOleh: Muhammad Ridha Basri*

Judul                : Sisi Lain Nuruddin Ar-Raniri: Kritik Filologis Spiritualitas Nusantara

Penulis             : Adib Sofia

Penerbit          : Suka Press

Cetakan           : 1, Agustus 2021

Tebal; ukuran  : xxii + 255 hlm; 15,5 x 23 cm

ISBN                 : 978-623-7816-41-6

***

Islamisasi di Asia Tenggara terjadi melalui proses damai, berbeda dengan Islamisasi di Timur Tengah, Asia Selatan, dan Afrika yang kadang melibatkan ekspansi militer. Sebabnya, Islam yang diperkenalkan di kepulauan Nusantara pada mulanya bercorak sufisme, yang menekankan prinsip beragama dengan cinta, bukan kekerasan. Pada abad ke-13 hingga ke-18, tasawuf berperan penting dalam membentuk pandangan dan perilaku hidup masyarakat di Nusantara. Corak pandang ini bahkan diadopsi menjadi mazhab kerajaan.

Namun, terdapat fakta lain tentang sejarah tasawuf di Nusantara. Paham dalam aliran tasawuf yang semestinya menekankan pada cara hidup yang penuh cinta ini, ternyata juga menyisakan persengketaan di internal umat Islam. Pandangan tentang wujud Allah yang beragam dalam khazanah tasawuf telah menyisakan konflik tersendiri. Buku ini menunjukkan fakta historis tentang sisi lain dari dunia tasawuf tersebut.

Pada abad ke-13, kedatangan para ulama Persia ke wilayah Aceh dianggap sebagai penanda awal mula masuknya Islam ke Samudra Pasai. Mereka mengajar tentang Islam di dayah-dayah dalam wilayah Samudra Pasai. Salah satu ulama awal dari Persia yang cukup terkenal adalah Syeikh Al-Fansuri, datang untuk mengajar di Dayah Blang Pria. Ia dikenal sebagai nenek moyang dari dua Fansuri bersaudara: Ali Fansuri dan Hamzah Fansuri, yang kemudian mendirikan dayah di Aceh Singkil. Ali Fansuri dikaruniai putra bernama Abdurrauf Al-Fansuri As-Singkili (Teungku Syiah Kuala).

Di kemudian hari, Abdurrauf As-Singkili berbeda paham tentang wahdatul wujud yang dianut pamannya, Hamzah Fansuri. As-Singkili bersama Ar-Raniri cukup dikenal sebagai lawan dari paham yang dikembangkan Hamzah Fansuri dan muridnya, Syamsuddin Al-Sumatrani. Namun dalam melakukan pembaruan tasawuf, As-Singkili menggunakan pandangan moderat dan akomodatif, yang berbeda dengan Ar-Raniri yang konfrontatif.

Sepanjang abad ke-16, Kerajaan Aceh sedang di era gemilang. Lembaga keagamaan qadhi malikul adil dan syaikhul Islam mendapat kedudukan penting di istana. Pada masa pemerintahan Sultan Alaiddin Riayat Syah dan Sultan Iskandar Muda, Fansuri dan Al-Sumatrani diangkat menjadi syaikhul Islam. Keduanya menganut tarekat wujudiyah yang kemudian dijadikan mazhab resmi kerajaan.

Baca Juga: Tren Keilmuan Agama Era Kontemporer: Bergerak dari Multidisiplin ke Interdisiplin dan Transdisiplin

Fansuri dikenal sebagai penulis awal tentang tasawuf dalam bentuk syair. Gubahannya penuh dengan kerinduan pada Sang Kekasih. Saat itu, tasawuf sedang menjadi gaya hidup populer di masyarakat kerajaan. Fansuri mengkritik gaya hidup sufi yang lari dari dunia nyata dan bertapa ke hutan. “Segala tuan berhuban/Uzlatnya berbulan-bulan/mencari Tuhan ke dalam hutan/Segala menjadi sufi/Segala menjadi shaqwi (pencinta kepayang)/Segala menjadi ruhi (roh)/Gusar dan masam di atas bumi (menolak dunia)” (Abdul Hadi WM dan LK Ara, t.th., hlm 18).

Menurut Fansuri, Tuhan dapat dicari dalam diri manusia itu sendiri, tanpa harus mengasingkan diri. Ia berpijak pada hadis, “man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu” (siapa yang mengenal dirinya, pasti mengetahui Tuhannya). Dipahami bahwa zat dan hakikat Tuhan sama dengan zat dan hakikat alam semesta, berasal dari emanasi zat yang satu. Tuhan meliputi semesta dan manusia dapat sampai kepada Tuhan melalui taraqqi, yaitu menumbuhkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya.

Ajaran tasawuf Fansuri dan Al-Sumatrani ini berakar pada Al-Bayazid dan Al-Junaid, diteruskan oleh Al-Hallaj yang dikenal dengan ucapan “ana al-haq”. Diteruskan oleh Ibnu Arabi, yang menjadi rujukan Fansuri. Ajaran panteisme ini dikecam oleh para ulama ortodoks. Di Baghdad tahun 309 H/921 M, Khalifah Al-Muqtadir Billah mengeksekusi mati Al-Hallaj setelah dipenjara delapan tahun. Tubuh Al-Hallaj dibiarkan membusuk di tiang gantungan. Setelah berhari-hari, jasadnya diturunkan dan dibakar, abunya dihanyutkan di Sungai Dajlah.

Kedatangan Nuruddin Ar-Raniri dari Gujarat pada 1047 H/1637 M mengubah peta mazhab tasawuf di Kerajaan Aceh. Di masa Sultan Iskandar Tsani, Ar-Raniri diangkat menjadi syaikhul Islam. Ia menyanggah dan mengadili paham wujudiyah Fansuri dan Al-Sumatrani yang menjadi syaikhul Islam sebelumnya. Ketika Iskandar Tsani wafat dan digantikan putrinya, Sultanah Safiyatuddin, Ar-Raniri masih sempat menjabat syaikhul Islam. Baru pada 1644, ia kehilangan dukungan dan pergi meninggalkan Aceh.

Di mata Ar-Raniri, paham tasawuf wujudiyah terbagi dua: yang menguatkan tauhid (muwahidah), dan yang melenceng dari kebenaran (mulhidah). Wujudiyah yang dikembangkan Fansuri dan Al-Sumatrani dinilai telah sesat (mulhidah). Pengikutnya telah murtad dan halal dibunuh jika tidak bertobat. Ar-Raniri mengeluarkan fatwa untuk memburu mereka yang menolak melepas keyakinan sesatnya, serta membumihanguskan karya-karya Fansuri di depan Masjid Raya Baiturrahman.

Ar-Raniri membantah paham kesatuan Tuhan dan makhluk dalam pandangan wahdatul wujud, sebab jika demikian, maka semua yang ada di alam raya adalah juga Tuhan, termasuk semua hewan atau tumbuhan. Jika Tuhan dan makhluk itu hakikatnya satu, sanggah Ar-Raniri, maka itu berarti semua sifat dan perbuatan manusia sama dengan perbuatan Tuhan, seperti membunuh atau mencuri. Logika wahdatul wujud tidak dapat diterima oleh Ar-Raniri.

Begitulah satu fragmen kelam dalam sejarah awal Islam di Nusantara. Fansuri (Syiah Kuala), Ar-Raniri, Al-Sumatrani, dan As-Singkili merupakan ulama besar yang pernah menjabat syaikhul Islam di Kerajaan Aceh. Nama Ar-Raniri dan Fansuri diabadikan menjadi nama dua universitas terbesar di Aceh: UIN Ar-Raniri dan Universitas Syiah Kuala.

Peristiwa di abad ke-16 dan ke-17 itu masih relevan untuk direnungi pada abad ke-21. Perbedaan paham tasawuf di antara mereka, dengan menggunakan tangan dan otoritas kekuasaan, telah menimbulkan tragedi kemanusiaan. Di Jawa, peristiwa serupa menimpa Syeikh Siti Jenar. Jika dirinci, ada banyak kasus serupa lainnya.

Agama tidak semata-mata urusan doktrin normatif, tetapi kerap bersenyawa dengan banyak variabel lain sepanjang sejarah. Agama dapat digunakan untuk memperoleh dan mempertahankan kekuasaan. Sebaliknya, agamawan terkadang juga membonceng otoritas kekuasaan untuk menyebarkan paham ideologinya. Menjadi bermasalah ketika persengketaan itu mengatasnamakan: demi Tuhan yang Rahman dan Rahim. Di masa Khalifah Al-Makmun, terjadi peristiwa mihnah yang dipantik dari perebutan otoritas fraksi ulama ahlu sunnah dan Mu’tazilah (Nimrod Hurvitz, 2002).

Buku yang diadaptasi dari penelitian disertasi di Universitas Gajah Mada ini mengungkap persengketaan paham tasawuf dan kekerasan simbolik dalam tiga naskah Ar-Raniri: Tibyan, Hujjatush Shidiq, dan Fathul Mubin. Melalui perangkat Filologi, Adib Sofia menelusuri dan mengungkap fakta sosial yang tersembunyi di balik teks masa lalu untuk diinterpretasikan kembali. Penulisnya berusaha merekonstruksi suasana kebatinan pada masa Ar-Raniri. Hasilnya dapat direfleksikan untuk pembelajaran dalam menjalani masa kini dan masa depan.

* Mahasiswa Pascasarjana Studi Islam UIN Sunan Kalijaga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *