Tokoh

Nusaibah binti Ka’ab Sang Perisai Rasulullah

Nusaiban binti Kaab

Oleh: Amanat Solikah*

Dalam sejarah Islam tercatat bahwa banyak kaum laki-laki dan perempuan sebagai mujahid dan mujahidah dalam membela agama Allah. Agama Islam disebarakan dengan berbagai macam cara, dari yang sembunyi, terang-terangan, lembut bahkan hingga perang.

Sejarah juga mencatat bahwa ada sosok perempuan yang mengabdikan dirinya untuk agama Islam. Perempuan itu dikenal dengan nama Nusaibah binti Ka’ab. Nusaibah binti Ka’ab adalah sosok perempuan yang berani menaruhkan nyawanya untuk agama Islam.

Nusaibah juga memiliki sebutan Ummu Umarrah. Panggilan tersebut diartikan sebagai pemimpin perempuan. Nusaibah juga dikenal dengan perempuan pemeluk Islam pertama yang jasanya ditaruhkan untuk mengikuti perang di zaman Rasulullah dalam membela agama Allah.

Keluarga

Nusaibah adalah anak dari Kaab bin Amru bin Auf bin Mabdzul al-Anshaiyah dan Rabbab binti Abdullah bin Habib. Pasangan itu dikaruniai 3 anak, yakni Nusaibah binti Ka’ab, Abdullah bin Ka’ab, dan Abu Laila Abdurrahman bin Ka’ab. Di kemudian hari, Nusaibah menikah dengan Zaid bin Asim. Dalam perkawinan itu, keduanya dikaruniai 2 anak yang diberi nama Abdullah dan Habib.

Masa mualafnya dalam Islam adalah Nusaibah mendapat ajakan dari Mush’an bin Umair. Nusaibah adalah sosok perempuan yang menyegerakan dirinya untuk masuk Islam. Ia kemudian mengikuti baiat kepada Rasulullah bersama 73 orang laki-laki kaum Anshor dari Madinah ke Makkah. Kisah baiatnya kepada Rasulullah ini dilakukan sekeluarga oleh Nusaibah, bersama kedua anak dan suaminya.

Arti Baiat sendiri adalah mereka siap menjaga, melindungi, dan membela Rasulullah saw. ketika hijrah ke Madinah sebagaimana mereka menjaga dan membela diri mereka sendiri beserta keluarganya. Setelah Zaid bin Ashim meninggal, Nusaibah menikah lagi dengan Ghazyah Al-Mazini An-Najjari. Pernikahan itu lalu dikaruniai seorang anak yang mereka beri nama Khaulah.

Keahlian yang Dimiliki

Semasa hidupnya, Nusaibah binti Ka’ab bukan hanya perempuan yang suka berperang. Keutamaan, kebaikan, serta pengetahuannya sangat luas. Banyak keahlian dan ilmu yang dimiliki Nusaibah, di antaranya adalah suka berjihad, ahli dalam perang, ahli dalam berkuda, ahli dalam ilmu kesehatan (dokter), dan ahli hadis.

Dalam Perang Uhud, Nusaibah berjuang bersama keluarganya. Keberanian dan jasa Nusaibah dikenal sepanjang masa dan sejarah. Dengan keberanian yang dimiliki, dia memilih untuk membela serta melindungi Rasulullah saw.

Baca Juga: Kabsyah binti Rafi’, Ibu Para Syuhada

Kisahnya dalam Perang Uhud, Nusaibah dan beberapa perempuan lain bertugas membawa logistik. Selain itu, mereka bertugas pula sebagai tenaga medis ketika ada pasukan yang terluka.

Waktu itu, Nusaibah melihat pasukan Quraisy menerobos pertahanan pasukan kaum muslimin; barisan sudah amburadul, pecah, tak karu-karuan. Hal itu terjadi karena pasukan muslimi melanggar aturan Rasulullah. Mereka yang bertugas sebagai pemanah turun dari penjagaanya dari bukit sehingga terjadi kekacauan.

Kesetiaanya kepada Rasulullah

Hal ini membuat Nusaibah sontak teringat dengan baiatnya. Ia mengambil senjata perang dan melindungi Nabi saw. dari serangan musuh dengan membuat pertahanan. Dalam kisah juga ketika ada pasukan muslimin yang mundur. Waktu itu Nabi saw. berkata (yang artinya), “berikan perisaimu kepada mereka yang berperang!” Lalu pasukan tersebut melemparkannya. Nusaibah mengambil senjata itu untuk digunakan berperang dan melindungi Nabi.

Nusaibah dengan cekatan melindungi Nabi dari arah kanan dan kiri, sebagaimana ketika mengadang demi menjaga dan melindungi sosok pemimpin orang-orang yang beriman. Tidak lama setelah perang itu selesai, Rasulullah memberi kesaksian atas apa yang dilihat di hadapan para sahabat-sahabatnya, “Tidaklah aku melihat arah kanan dan kiri pada pertempuran ini selain melihat Nusaibah membelaku dengan rasa gigih”.

Tercatat pada perang uhud ini Nusaibah mendapat 12 luka di tubuhnya. Luka yang paling parah adalah ada di bagian lehernya. Namun hal tersebut tidak membuatnya mengeluh dan bersedih. Ia tetap semangat dan gigih dalam berjuang. Ketika Nabi saw. melihat lukanya yang ada di leher, beliau berkata pada anaknya: “lihatlah ibumu. Balutlah luka yang di leher ibumu”. Nabi lalu berdoa agar mereka dijadikan sahabatnya di surga.

Kisah Nusaibah ini dicatat dalam sejarah. Dengan kesetiaanya kepada Rasulullah dalam membela agama Islam, ia mendapat julukan Perisai Rasulullah atau Difaaun Nabi.

Akhir Hayat

Pada waktu itu, Abu Bakar Ash-Shidiq membentuk pasukan untuk memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat dan nabi palsu. Awalnya, Abu Bakar mengirim surat sebagai teguran. Yang diutus untuk mengirim surat adalah Habib, seorang anak Nusaibah. Ketika sampai, Habib malah ditanyai dan disuruh mengakui akan keberaadan Musailamah sebagai nabi. Hal itu dijawab Babib dengan tetap mengimani Allah dan percaya bahwa Rasulullah adalah utusan Allah. Dalam kejadian itu pula Habib meninggal dengan syahid akibat dipotong anggota tubuhnya satu persatu.

Berita tersebut membuat kesedihan untuk sang ibu, sehingga pada waktu itu Abu Bakar memberi komando untuk mengobarkan Perang Yamamah. Akhir hayat dari Nusaibah sendiri adalah setelah Perang Yamamah. Ia meninggal dunia pada tahun 13 Hijriyah, tepat pada masa khalifaah Abu Bakar waktu itu.

Nusaibah mempunyai julukan Ummu Umarrah, Difaun Nabi. Ia juga seorang perawi hadis. Hadis yang diriwayatkannya bisa ditemukan di riwayat Ibnu Majah dan Imam At-Tirmidzi.

*Mahasiswa pendidikan matematika UMSurabaya, Kader IMM Blue Savant.

Related posts
Kebijakan Politik

Peran Politik Perempuan: Belajar dari Seruan Aisyiyah Tahun 1955

Oleh: Hajar Nur S Majalah Suara ‘Aisyiyah, Dzul-Qo’dah 1374, Juni 1955, memuat Seruan Pusat Pimpinan ‘Aisyiyah tentang Pemilihan Umum. Terdapat empat hal…
Berita

Menghadapi Pemilu 2024, LPPA PP Aisyiyah Kaji Urgensi Peran Perempuan di Sektor Politik

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah menyelenggarakan Webinar Politik “Tantangan ‘Aisyiyah Menghadapi Pemilu 2024”. Kegiatan ini…
Perempuan

Fatwa dan Perhatian Muhammadiyah tentang Perempuan

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi Fatwa adalah suatu penjelasan atau jawaban yang diberikan oleh mufti kepada mustafti (orang yang bertanya) tentang suatu…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.