Ongkos Pulang Bapak

Aksara 1 Apr 2021 0 165x
Ongkos Pulang Bapak

Ongkos Pulang Bapak (foto: antara)

Oleh: Dede Dwi Kurniasih

“Ini, ya mbak. Sudah kuserah-terimakan ke mbak Nia. Sekalian kuitansinya, Mbak.”

Ati menyurungkan amplop tebal kepadaku di meja kerja. Dengan tangan bergetar aku membubuhkan tanda di pojok kanan bawah, di atas nama terang. Tak butuh waktu lama, aku menghitung rupiah di dalamnya sebelum Ati kembali ke ruangannya di lantai dua. Jumlahnya pas, Rp 1.050.000,00. Tak kurang, tak lebih.

Uang itu tidak sedikit, namun juga tak terlalu banyak. Cukup menamparku dengan keras, meninggalkan sesal sangat dalam. Atas nama khawatir, aku meragukan kekuasaan-Nya dan diganjar habis dengan uang ini. Rezeki receh dari sekian anugerah-Nya yang sering kulupakan.

(Seminggu yang lalu…)

“Semoga kali ini bisa kemo**, ya Mbak. Kalau nggak kemo, rasanya nggak mantep berobat sampai sini,” ucap bapakku sambil memandang lembar periksa laboratorium.

“Insya Allah, ya Pak. Kita ‘kan sudah ikhtiar, biar kadar kreatin Bapak nggak tinggi. Jadi, bisa dimasukin bondronat. Bismillah, Pak,” balasku sambil menarik sana-sini seprei kasur.

Bapak sudah dua tahun ini mendapat diagnosis kanker darah. Setiap tiga minggu sekali harus menuju kota tempat aku merantau yang berjarak 6 jam perjalanan dengan dua kali ganti bus. Perjalanan dua tahun ini semakin berwarna dengan kekompakan kami. Memasuki tahun ini, bapak makin perlu banyak asistensi dari kami anak-anaknya.

Akhirnya, adikku memutuskan untuk tidak bekerja tetap demi memastikan kebutuhan bapak terpenuhi dengan baik. Adikku laki-laki menyerahkan total semua aktivitasnya. Dia yang memutuskan bapak akan makan menu apa hari ini, tidak ada makanan olahan dari luar, memasak tiga kali sehari agar selalu fresh, serta memastikan asupan multivitamin.

“Mbak, uangnya tinggal dua puluh ribu. Padahal aku sudah usahakan irit. Soalnya bapak minta minuman penyegar tadi siang. Sekali beli dua kaleng,” ujar adikku. Dari nadanya, adikku penuh tekanan, tak enak hati menyampaikan ini.

Aku menarik nafas panjang, mengangsurkan ATM padanya, dan berkata, “Ambil seratus ribu lagi, usahakan cukup sampai bapak pulang tiga hari lagi. Uangku juga sudah cekak. Gajianku masih lama”.

Dengan cepat ia bergerak, menghilang untuk melakukan tugas yang itu-itu lagi: berbelanja dan mengolah di dapur.

Pembagian tugas ini membawaku pada tanggung jawab bagian fundrising. Ini tergolong enteng dibandingkan tugas adikku yang harus memikirkan banyak hal. Hanya saja, sebagai karyawan biasa hal ini kadang membuatku ketar-ketir, termasuk bulan ini. Aku sudah memasang sederet alasan agar nanti menghentikan beberapa pengeluaran, yaitu  biaya listrik di kampung sana dan ongkos bapak pulang.

Beberapa hari ini aku diserang gundah. Kenyataan bahwa besaran gajiku hanya cukup untuk bayar kos dan makan nasi sayur harus diketahui bapak. Selama ini aku lelah menahan diri ingin makan nasi padang. Sebagai anak kos, aku menerima diriku hidup pas-pasan. Tapi, dua tahun ini aku melihat diriku terlalu banyak menyingkirkan kepentingan pribadiku.

Kadang aku menahan diri dari makan nasi padang dan hanya bisa makan enak dengan gizi seimbang jika ada rapat mendadak. Aku harus makan enak dengan mengandalkan kode diskon dari aplikasi ojek online. Cukup.

Aku ingin menghidupi diriku sendiri. Aku ingin menikmati penghasilanku. Aku ingin bapak mengerti, uangku juga milikku. Bukan hanya untuk kepentingannya. Cukup.

Toh, aku harus punya tabungan. Aku harus investasi. Teman temanku sudah menabung saham. Menyimpan emas sekian gram. Aku masih begini-begini saja. Cukup.

“Pokoknya nanti bapakmu harus tahu soal ini, De. Masa’ kamu mau makan rendang seberang kantormu saja mikir, sementara untuk vitamin bapakmu nggak pake mikir. Pake logika dong, De,” seru otakku.

“De, rezeki bisa dari mana saja. Toh itu buat bapakmu. Toh selama ini kamu hidup berkecukupan, berkah, dan bisa tetap menikmati apapun karena kamu sehat,” seru hatiku.

Keduanya tak sejalan. Aku menatap langit-langit kamarku yang pengap diiringi bunyi kipas angin dan dengkuran halus bapak dan adikku. Kamar kos sempit ini semakin membulatkan tekadku bahwa aku harus tega bulan ini.

“Logikanya, De, uangmu cuma segitu. Tonermu udah mau habis, tuh. Masa’ udah duit pas-pasan, mukamu juga buluk? Sudahlah, bilang saja nggak ada uang untuk ongkos pulang. Titik,” kata otakku. Otakku memang benar. Aku terpejam.

“De, beliau itu bapakmu, De. Uang di ATM-mu masih sekian ratus. Itu cukup de. Toh hidupmu selama dua tahun ini berkecukupan”.

Otakku benar. Neraca hidupku tidak berimbang. Aku butuh bernafas untuk diriku.

Selepas subuh bapak sudah siap dengan kardus bawaannya. Aku menengok tas cangklongnya yang sudah renta, ritsletingnya menganga. Bapak tepuk tiga kali dan berkata, “Bapak sudah siap, Mbak. Bapak pulang, ya? Minta maaf bapak ngrepotin di sini. Semoga rezeki Mbak dimudahkan,” Bapak menepuk kepalaku.

Bukannya menjawab ‘amin’, aku malah memotong harapan itu dengan keberanian yang tumpul.

“Pak, kali ini mbak nggak ngongkosin, ya. Sudah nggak punya uang, Pak. Sama listrik rumah, mbak nggak bisa menanggung bulan ini”. Lepas kalimat ini, aku memiliki kelegaan yang aneh. Hampa, namun aku bisa melepas semuanya. Sebagian hatiku berseru sedih, sebagian diriku yang lain bersorak sepi.

“Nggak apa apa. Bapak sudah ngrepotin Mbak selama di sini,” jawab bapak.

Mendengar ini, hatiku hilang setengah. Adikku beringsut mengangkat kardus. Mereka berdua melesat pergi. Aku mematung di depan pagar kos, menghela nafas, dan bersiap ke kantor. Hidupku aman. Aku bisa makan padang seharian ini. Aku berhasil memperjuangkan diriku sendiri.

Hari ini aku kesiangan. Kekenyangan membawaku tidur malam dan bangun siang. Mataku memicing saat grup kantor memberitakan bahwa akulah yang mendapat kocokan arisan bulan ini. Terbelalak, kaget, dan bahagia. Sedetik kemudian rasa bahagia itu merongrongku. Aku dikhianati diriku sendiri atas prasangkaku yang miskin dan fakir. Andaikan aku tahu semudah ini rezeki akan datang, seharusnya tetap ada ongkos pulang untuk bapak. Tak butuh waktu lama, aku malu pada diriku sendiri.

Uang itu tidak sedikit, namun juga tak terlalu banyak. Cukup menamparku dengan keras, meninggalkan sesal sangat dalam. Atas nama khawatir, aku meragukan kekuasaan-Nya dan diganjar habis dengan uang ini. Rezeki receh dari sekian anugerahnya yang sering aku lupakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *