Wawasan

Optimalisasi Dakwah Muballighat di Era Globalisasi

teknologi

teknologi

Oleh: Siti Majidah

Tantangan dakwah Islam di era globalisasi saat ini semakin kompleks. Era globalisasi ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dalam gegap gempita modernisme. Modernisme bagaikan pisau bermata dua yang memiliki aspek positif dan negatif bagi kehidupan manusia.

Selain memberikan banyak dampak positif seperti kemakmuran dan kecanggihan teknologi, namun juga menimbulkan problematika, seperti semakin pudarnya nilai spiritualitas manusia. Pengaruh kehidupan hedonis, matrealistik, dan meluasnya paham pemikiran sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme turut menyebabkan munculnya masalah-masalah kemanusiaan, seperti kemiskinan akibat semakin lebarnya ketimpangan antara the have dan the poor, masalah terorisme, pelanggaran Hak asasi Manusia (HAM), termasuk di dalamnya masalah yang berkaitan dengan kelompok rentan seperti anak-anak dan perempuan.

Kompleksitas problematika ini tentunya menuntut peran semua pihak, baik laki-laki dan perempuan untuk berkonstribusi aktif dalam mencari solusi atas permasalahan tersebut. Di dalam al-Quran surat ali-Imron ayat 104 Allah swt. berfirman,

وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

Artinya, Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”.

Ayat tersebut merupakan perintah langsung (direct command) bagi umat Islam untuk mendakwahkan ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia dengan menyerukan al-khair dan mencegah kemungkaran untuk meraih kebahagian di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, kewajiban berdakwah hukumnya fardhu ‘ain baik bagi muslim atau muslimah yang mukallaf. Ini artinya perintah berdakwah bukan hanya sebatas tanggung jawab laki-laki saja, namun juga merupakan tanggung jawab bersama dengan perempuan.

Baca Juga: Peran Dakwah Aisyiyah di Era Digital

Aktivitas dakwah yang dilakukan oleh perempuan juga merupakan salah satu implementasi dari adanya kesetaraan relasi antara laki-laki dan perempuan dalam beragama dan termasuk dalam amal saleh seperti yang disebutkan dalam firman Allah “Dan barangsiapa mengerjakan amal yang shaleh, baik laki[-laki dan perempuansedang ia dalam keadaan beriman. Maka mereka akan masuk surga, mereka diberi rezki didalamnya tanpa hisab”.

Peran perempuan dalam medan dakwah sangatlah penting, mengingat banyak masalah-masalah kemanusiaan dan keberagamaan yang tidak bisa di jangkau dengan sangat luas oleh para mubaligh. Hadirnya perempuan dalam medan dakwah juga bisa memberikan perspektif berbeda dalam masalah-masalah agama dan kemanusiaan, terlebih yang berkaitan dengan isu-isu perempuan dan anak.

Sejarah Kontribusi Perempuan dalam Berdakwah

Jika kita telusuri sejarah peradaban Islam pada masa klasik, maka akan kita temukan banyak sekali perempuan-perempuan yang gigih berdakwah pada masa Rasulullah, masa sahabat, dan masa tabi’in. Tentunya kita tidak asing dengan nama sayyidah ‘Aisyah ra., istri Rasulullah saw. yang sering menjadi rujukan para sahabat dalam memberikan jawaban atas permasalahan yang bagi mereka tabu, seperti masalah yang berkaitan dengan rumah tangga dan perempuan.

‘Aisyah ra. telah meriwayatkan 2210 hadis Rasulullah. Rasul pun pernah bersabda, “ambillah setengah dari pelajaran agamamu dari Humaira (sayyidah ‘Aisyah)”. Selain itu, ada beberapa nama sahabat lainnya yang terkenal dengan kecerdasaan intelektualitasnya, seperti sayyidah Sakinah puteri Husain ibn Ali bin Abi Thalib yang mendapat julukan “Fikhr Nisa’” (kebanggaan kaum perempuan). Sayyidah Sakinah merupakan guru dari Imam Syafi’i Munisat al-Ayyubi (Saudara perempuan al-Ayubi). Ada juga Rabiyah al-Adawiyah.

Peran dakwah perempuan di medan politik dan peperangan pada masa Rasulullah juga tercatat oleh tinta emas sejarah, seperti peran Fathimah binti Rasulullah, Atika binti Yazid ibn Muawiyah, Shafiyah yang rela mempertaruhkan jiwa mereka di medan perang sebagai barisan yang mempersiapkan logistik, berperan sebagai palang merah dan menjadi motivator bagi perjuangan para syuhada.

Bagaimana Peran Muballighat ‘Aisyiyah?

Saat ini organisasi dakwah perempuan ‘Aisyiyah telah memasuki usia 107 tahun. Memasuki abad kedua ini, tantangan dakwah ‘Aisyiyah semakin kompleks, terutama dalam menghadapi derasnya dampak negatif globalisasi yang menyentuh seluruh aspek kehidupan masyarakat, mulai dari kehidupan agama, keluarga, pendidikan, sosial, dan ekonomi.

Problematika mendasar yang terjadi di era ini adalah mulai melemahnya ikatan kekeluargaan di masyarakat akibat dari adanya kehidupan individualistis dan materialistik. Keluarga yang mestinya menjadi unit utama dalam membentuk sebuah masyarakat yang beradab justru semakin terlihat rapuh ditandai dengan mengikisnya rasa solidaritas kekerabatan.

Hadirnya cyber fisik yang menyebabkan anak-anak lebih sering menggunakan gawai memberikan permasalahan sendiri karena bisa menyebabkan kecanduan terhadap internet. Penggunaan gawai yang berlebihan bisa menyebabkan beberapa masalah seperti bunuh diri, kekerasaan dalam rumah tangga, pelecehan terhadap anak, menurunnya daya konsentrasi, penggunaan obat ilegal, kecanduan game, hingga masalah kesehatan seperti obesitas dan penyakit mata.

Di sinilah peran muballighat ‘Aisyiyah dalam mengembalikan fungsi keluarga sesuai dengan nilai-nilai al-Quran. Konsep keluarga sakinah yang merupakan program unggulan ‘Aisyiyah sejak 1985 perlu didakwahkan secara massif hingga ke tingkat ranting.

Baca Juga: Dakwah Kesehatan dalam Kongres Bayi Aisyiyah

Kontekstualiasasi panduan Keluarga Sakinah ‘Aisyiyah juga perlu di lakukan melalui program-program pemberdayaan perempuan dan anak, seperti gerakan anti pernikahan dini, anti kekerasaan anak dan perempuan, gerakan Asi Eksklusif, pendidikan Kespro, dan pemberdayaan ekonomi keluarga melalui pembekalan pelatihan life skill bagi kaum perempuan.

Masifnya infiltrasi pemikiran Sepilis (sekulerisme, liberalisme, dan pluralisme) turut serta mengobok-obok sendi kehidupan beragama umat Islam, sehingga perlu ada upaya mengembangkan pemikiran Islam sesuai dengan Manhaj Tarjih dan menggerakan kembali pengajian persyarikatan. Globalisasi juga telah menyebabkan terjadinya revolusi digital dan menuju ke era disrupsi teknologi.

Hal ini menyebabkan terjadinya pergeseran masyarakat dalam beraktifitas yang lebih banyak menggunakan gawai dan internet. Bahkan media saat ini mampu mengambil peran institusi agama, spiritual guide, dan sebagai orientasi moral masyarakat. Informasi agama bisa diakses dengan mudah hanya melalui media-media sosial yang ada dan perangkat teknologi canggih seperti HP, tablet, dan lain sebagainya.

Terjadi perubahan signifikan dalam penyebaran dakwah Islam. Jika pada masa klasik media penyampaian dakwah masih bersifat oral, saat ini di era digital, tranformasi media dakwah memiliki lompatan jauh dengan memanfaatkan media Internet. Kehadiran internet telah menjadi daya magnet sendiri bagi masyarakat modern, terutama kelompok urban dalam mencari rujukan keislaman.

Oleh karenanya, perlu ada langkah-langkah progresif dalam berdakwah mencakup  kreativitas dan inovasi dakwah digital. Para muballighat ‘Aisyiyah juga bisa berperan sebagai influencer untuk mengajak jamaahnya memahami Islam secara menggembirakan melalui kajian-kajian daring via Youtube, Zoom, Instagram, dan lain sebagainya. Upaya untuk mengorbitkan muballighat-muballighat perlu dilakukan agar bisa menjadi role model  atau sumber rujukan keislaman yang sesuai dengan prinsip Wasathiyah Islam.

Walakhir, peningkatan kualitas muballighat ‘Aisyiyah merupakan sebuah keniscayaan melalui penguatan pemahamanan dan wawasan keislaman yang mengintegrasikan dan menginterkoneksikan dengan berbagai disiplin ilmu lainnya.

Related posts
Berita

Perempuan Juga Bisa Menjadi Ketua Kloter: Kisah Siti Rohmah dan Mafrudah

Makkah-Suara ‘Aisyiyah “Ketua kloter perempuan ki abot, wong laki aja abot” (Ketua kloter perempuan ki berat, laki-laki aja berat-red). Ungkapan yang terlontar…
Berita

107 Tahun Aisyiyah, Perkuat Komitmen Menjawab Berbagai Problem Kemanusiaan Semesta

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Mengusung tema “Memperkokoh dan Memperluas Dakwah Kemanusiaan Semesta” ‘Aisyiyah  akan memperingati miladnya yang ke-107 tahun pada 19 Mei…
Berita

Tri Hastuti Dorong Warga Aisyiyah Kawal Demokrasi di Indonesia

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Menghadapi momentum Pemilihan Umum (Pemilu) 2024, banyak pertanyaan dari warga ‘Aisyiyah menyangkut pilihan dan keberpihakan ‘Aisyiyah. Sekretaris Umum…

3 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *