Orang Palestina, Orang Hebat

Sejarah 12 Jul 2020 0 71x

Oleh : Hajriyanto Y. Thohari (Ketua PP Muhammadiyah dan kini Dubes RI di Beirut)

Membaca Palestina memang seperti membaca sebuah elegi: sajak dan nyanyian kesedihan. Sejak peristiwa Nakhbah (baca: malapetaka 1948) di mana orang-orang Palestina diteror dan diusir dari kampungnya oleh pasukan Haganah (Israel) yang sangat kejam, orang-orang Palestina menjadi pengungsi yang terlunta-lunta di seluruh dunia sampai hari ini. Mereka menjadi pengungsi di seluruh dunia Arab dan Timur Tengah, seperti di Lebanon (400 ribu), di Suriah, dan Yordania (jutaan), dan tak terhitung di negeri-negeri Arab kaya lainnya. Banyak juga di antara mereka berdiaspora ke Eropa, Australia, dan Amerika, terutama Amerika Latin. Mereka sekarang sudah merupakan generasi ketiga (generasi cucu) dari gelombang pengungsi ketika Nakbah terjadi.

Tidak heran jika banyak di antara mereka, terutama generasi kedua dan ketiganya, sudah menjadi warga negara di negara-negara yang baru. Tetapi lebih banyak lagi yang tetap setia dengan kewarganegaraannya semula, tetap kukuh tidak mau menjadi warga negara manapun, demi cita-citanya untuk mewujudkan sebuah negara Palestina yang merdeka dan berdaulat dengan Jerusalem sebagai ibukotanya. Saya sering kagum dengan patriotisme dan nasionalisme mereka yang dapat tetap bertahan setelah lebih dari tujuhpuluh tahun terusir dari negaranya. Sungguh saya tidak dapat membayangkan bagaimana mereka, terutama ibu-ibu Palestina, mewariskan dan mentransmisikan nilai-nilai perjuangannya sehingga cita-citanya untuk merdeka tidak luntur dan tetap lestari dari generasi ke generasi setelah tiga perempat abad berjuang tanpa lelah.

Di antara orang-orang Palestina yang berdiaspora di seluruh dunia meski jauh dari negaranya di Palestina sana, mereka tetap gigih berjuang sesuai dengan keahlian dan profesinya masing-masing. Dan menariknya, orang-orang Palestina itu banyak sekali yang berhasil dalam karirnya dalam berbagai profesi modern. Bahkan banyak sekali di antara mereka yang sangat cemerlang dan menonjol dalam bidangnya. Tak ayal lagi sampai ada yang menyimpulkan bahwa orang-orang Palestina memang bibit unggul yang hebat dan tidak kalah dengan orang-orang Yahudi yang sudah dimitoskan sebagai bangsa terpilih yang hebat. Tulisan ini akan mengemukakan beberapa orang Palestina yang hebat tersebut.

Bagi yang pernah membaca dengan teliti magnum opus-nya  Philip K. Hitti, History of the Arab, yang sangat masyhur dan telah menjadi klasik itu, pastilah akan menemukan halaman Kata Pengantar yang ditulis oleh seorang ilmuwan bernama Walid Khalidi. Khalidi, waktu itu, adalah direktur Pusat  Kajian Timur Tengah di Universitas Harvard. Khalidi sendiri adalah seorang sejarawan lulusan University of Oxford, Inggris, dan kemudian mengajar di almamaternya tersebut untuk kemudian berpindah ke The American University of Beirut (AUB), Harvard University, dan juga Princeton University. Kesemuanya itu adalah universitas-universitas papan atas di Amerika. Tentu, sebagaimana ada ungkapan nomor satu di Amerika, nomor satu di dunia, demikian jugalah dalam hal universitas: papan atas di Amerika papan atas di dunia. 

Khalidi juga merupakan cofounder dari The Institute for Palestine Studies, Beirut, dan malah pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal-nya. Khalidi juga merupakan Cofounder of The Royal Scientific Society dan Fellow of The Academy of Art and Sciences, keduanya berpusat di Amman, Jordania, dan dan juga President of the Institute for Palestine Studies (IPSUS) yang bermarkas di Washington DC. Walhasil, Walid Khalidi ini adalah seorang ilmuwan dan intelektual kelas dunia dengan reputasi internasional yang tidak diragukan.

Yang ingin diungkapkan di sini adalah bahwa Walid Khalidi itu adalah orang Palestina yang kemudian menjadi warga negara Amerika. Khalidi lahir di kota Jerusalem dari klan (clant) besar Al-Khalidi. Al-Khalidi adalah salah satu klan besar Palestina seperti halnya klan Bourghoti, Al-Husayni, El-Issa, Abu Ezham, al-Nashashibi, Tuqan Clan, Nusaybah, Qudws, Shawish, Zaghab, Al-Khalil, al-Zetawi, Abu Ghos, Downush, Douaihy, Hilles, Jarrar, Negev Bedouins, dan Jayyusi. Klan Khalidi termasuk klan besar di kalangan bangsa Palestina dan pengaruh sosial politiknya sangatlah besar.

Keluarga atau tepatnya klan tertua di Palestina adalah klan Bourghouti yang nenek moyangnya dapat dilacak sampai ke belakang 820 tahun yang lalu atau lebih. Dari klan ini saja konon sekarang telah beranak-pinak menjadi jutaan anggota keluarga yang bertebaran di seluruh dunia di tujuh benua. Barghouti mengklaim bahwa asal-usul moyangnya dari Spanyol (Spain). Meski tidak ada lembaga independen yang pernah mengkonfirmasi kebenarannya. Dari keluarga ini pula walikota perempuan pertama West Bank, Fathiya Al- Barghouti, berasal. Klan ini sebelumnya menganut agama Greek Orthodox Christian, sementara sekarang sebagian besar penganut Sunni Muslim. Salah satu di antara keturunan dari keluarga ini adalah Mourid Borghauti yang menulis memoir bagus sekali berjudul I Saw Ramallah (رآيت رما الله   ).

Baca selengkanya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3, Maret 2020

Sumber ilustrasi : mediaindonesia.com

 

Leave a Reply