Konsultasi Agama

Pak AR Menjawab: Hukum Membangun Cungkup Kuburan

Pak AR Menjawab

Pertanyaan:

Pak AR yang terhormat, apakah diperbolehkan andaikata kita merawat pusara bapa dan ibu dengan memberikan cungkup, memberikan nisa, diberi kemejan atau disemen dengan marmer dan lain sebagainya?

(Moh. Muhajir)

Jawaban:

Sebenarnya saya merasa berkeberatan memberikan jawaban pertanyaan saudara itu. Berat saya, jangan-jangan saya nanti dikatakan: wah, mungkin yang tahu agama, tahu hadits, itu hanya Pak AR sendiri. Apa sebabnya?

Karena cungkup, nisan marmer, mahejan, atau cungkup yang komplit seperti rumah berkaca, ada lampu listriknya dan bahkan ada juga yang dilengkapi dengan taman dan lain sebagainya, semua itu sudah menjadi kebiasaan di negeri kita. Sedang Taman Pahlawan yang diurusi oleh pemerintah saja, juga tidak sedikit yang diberi nisan, nisan marmer, sering kali ditambahi patung dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, sebenarnya hati saya merasa keberatan untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan agama Islam. Keberatan saya itu adalah jangan-jangan saya nanti dikatakan: wah, mungkin yang tahu agama itu hanya Pak AR. Dan kalau ada pejabat yang salah terima (salah paham), bisa-bisa saya didakwa anti pemerintah. Padahal sebenarnya, seandainya kuburan (makam) itu bisa diatur seperti sabda Rasulullah saw., kuburan-kuburan yang sudah ada itu tidak perlu diperluas lagi, supaya tidak memakan areal yang lebih luas. Begitu juga Taman-taman Pahlawan atau makanya yang baru dicalonkan, akan sama-sama dimuliakan.

Dalam hadits diceritakan bahwa: dari Abu Said Al-Khudri ra., Nabi Muhammad saw. bersabda: sebenarnya aku (zaman itu) sudah melarang kamu semua jangan ada di ziarah kubur itu bisa diambil ibaratnya.

Nabi saw. sebenarnya sudah bersabda bahwa kuburan, makam atau pusaran itu tidak boleh disemen, atau dikijing (diberi nisan), apalagi sampai diberi marmer dan diberi cungkup (rumah kecil di pekuburan), serta lain sebagainya.

Masih banyak lagi hadits-hadits yang melarang untuk memberikan bangunan di atas kuburan. Namun demikian, saya hanya bisa mengatakan. Masalah pengertiannya terserah bapak atau ibu saudara-saudara sekalian.

Sumber: Rubrik Pak AR Menjawab di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi Maret 1985

Related posts
Konsultasi Agama

Pak AR Menjawab: Apakah Amal Saleh Akan Dihapus Jika Seseorang Meninggalkan Salat?

Pertanyaan: Pak AR yang terhormat. Bila seseorang berhalangan untuk mengerjakan salat Asar atau Subuh, maka segala amal perbuatan baik yang telah tercatat…
Konsultasi Agama

Pak AR Menjawab: Apakah Mani dan Madzi Najis?

Pertanyaan: Pak AR yang terhormat. Perkenankanlah kami bertanya kepada Bapak. Pertanyaannya adalah sebagai berikut: Apakah bedanya antara mani dan madzi, dan apakah…
Konsultasi Agama

Pak AR Menjawab: Hukum Menahan Kentut Ketika Salat

Pertanyaan: Pak AR yang terhormat. Betulkah jika seorang yang menahan kentut ketika sedang salat, maka salatnya batal, walau akhirnya tidak jadi kentut?…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *