Pandemi Covid-19, Milad Ke-109 Muhammadiyah, dan Delapan Nilai Utama yang Menyertainya

Berita 18 Nov 2021 1 48x

Haedar Nashir Milad 109 Tahun MuhammadiyahYogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengajak bangsa Indonesia, khususnya warga Muhammadiyah, untuk terus bersikap optimis disertai ikhtiar tiada henti untuk bangkit dari situasi pandemi Covid-19 dan krisis multidimensi yang tengah dihadapi Indonesia.

“Pandemi dan masalah negeri dapat diselesaikan secara simultan jika semua pihak bersatu dalam bingkai Indonesia milik bersama disertai sikap mengutamakan kepentingan bangsa dan negara di atas kehendak diri, kroni, golongan, dan kepentingan sendiri-sendiri,” ujarnya dalam pidato Milad ke-109 Muhammadiyah, Kamis (18/11).

Haedar mengatakan, situasi pandemi Covid-19 semestinya dijadikan momentum untuk mengambil pelajaran, terutama tentang pentingnya manusia menjaga dan memelihara kehidupan. Dalam konteks itu, ada 8 (delapan) nilai utama (al-qiyam al-fadhilah) yang patut ditumbuhkembangkan:

Pertama, nilai tauhid untuk kemanusiaan. Musibah Covid-19, kata Haedar, dapat dijadikan momen untuk memetik hikmah guna menguatkan keyakinan tauhid kaum beriman bahwa segala sesuatu di alam semesta ini absolut dalam kekuasan Allah. Hidup dan mati dengan segala siklusnya berada dalam genggaman-Nya. Manusia sungguh kecil dan tak berdaya. Maka tegak luruskan pengabdian kepada Allah seraya cerahkan akal budi untuk mencerahkan kehidupan.

“Bertauhid meniscayakan kepedulian pada persoalan kemanusiaan, termasuk menyelamatkan jiwa manusia. Tauhid ajaran multidimensi, baik vertikal dalam hubungan dengan Allah maupun horizontal dalam relasi kemanusiaan dan alam semesta. Itulah kredo tauhid yang melahirkan ihsan kepada kemanusiaan dan rahmat bagi semesta alam,” jelasnya.

Baca Juga: Pidato Milad 109 Muhammadiyah Oleh Haedar Nashir

Kedua, nilai pemuliaan manusia. Haedar menuturkan bahwa pandemi Covid-19 memberikan arti pentingnya memuliakan manusia. Jiwa manusia agar dihargai dan diselamatkan, sebaliknya jangan disia-siakan dan direndahkan. Manusia dengan seluruh dimensinya mesti diletakkan dalam ruang metafisika dan kosmologi kehidupan yang utuh, bermakna, dan multidimensi. Manusia jangan dianggap ragad inderwi semata.

Haedar mengingatkan, “Islam menempatkan manusia fi ahsan at-taqwim, makhluk sebaik-baik ciptaan Tuhan. Karenanya manusia sendiri haruslah bermartabat, serta jangan saling menghinakan dan menganut paham yang merendahkan. Manusia modern bila salah kaprah dan tidak memiliki pondasi nilai luhur agama, dapat terjerembab pada hidup nirkeadaban. Sosiolog Peter L Berger menyebut manusia modern karena kehilangan kanopi suci agama terjebak dalam ironi “chaos”, yakni hidup yang kacau. Hal benar disalahkan, yang salah mendapat dukungan luas, seperti hidup di era posttruth atau dalam zaman kalabendo”.

Ketiga, nilai persaudaraan dan kebersamaan. Pandemi, kata Haedar, adalah masalah bersama. Setiap orang tidak bisa egois dan merasa bebas dari wabah. Diperlukan jiwa bersaudara dan kebersamaan dalam menghadapinya. Baik dalam menghadapi pandemi maupun masalah bangsa jika ditanggung bersama maka akan lebih mudah sebagaimana pepatah, “Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing”. Bila terdapat perbedaan dicarikan titik temu karena sesama kita bersaudara.

“Tumbukan sikap saling tenggang, toleran, lapang hati, dan kerjasama demi membangun kehidupan milik bersama. Seraya jauhkan diri dari tindakan egoistik, pemaksaan kehendak, merasa paling benar dan digdaya. Ukhuwah dan persatuan Indonesia harus dibangun makin kokoh yang lahir dari jiwa tulus dan jujur, sehingga dapat menyelesaikan masalah-masalah bangsa secara bersama,” Haedar mengingatkan.

Keempat, nilai kasih sayang. Pandemi mengajarkan kita untuk memiliki sikap welas asih atau kasih sayang dengan sesama. Islam mengajarkan “tarahum” atau cinta kasih  asih yang lahir dari nilai ihsan, ukhuwah, silaturahmi, dan ta’awun dalam wujud kepeduliaan, empati, simpati, kerjasama, dan kebersamaan. Jika tidak mau membantu sesama jangan bertindak semaunya. Jika tidak dapat memberi solusi atas masalah yang dihadapi, jangan menjadi bagian dari masalah dan menambah masalah.

“Menurut Dokter Soetomo, tokoh perintis Klinik PKU Muhamamdiyah Surabaya tahun 1924, ajaran welas asih  dari Surat Al-Ma’un berbeda dengan teori seleksi alam Charles Darwin, mereka yang kuat yang akan mampu bertahan dalam perjuangan hidup. Sebaliknya, ajaran welas asih al-Maun mendasarkan perjuangan hidup dalam semangat kebersamaan, sehingga yang kuat mau berbagi dengan yang lemah,” terangnya.

Kelima, nilai tengahan atau moderat. Muhammadiyah dalam menghadapi pandemi Covid-19 maupun berbangsa-bernegara mengembangkan wasathiyah atau sikap tengahan, yakni pandangan yang adil dan tidak radikal-ekstrem. Muhammadiyah berusaha mengembangkan nilai wasathiyah yang memiliki prinsip dan autentik, tanpa merasa paling moderat. Moderasi dan usaha melawan radikal-esktrem dalam pandangan Muhammadiyah haruslah ditegakkan secara moderat untuk semua aspek, jangan sampai atasnama moderat dan moderasi membenarkan “apa saja” dan menjurus pada hal-hal yang ekstrem (ghuluw atau tatarruf).

Baca Juga: Presiden Jokowi: Islam Berkemajuan Penting dan Relevan bagi Warga Dunia

Keenam, nilai kesungguhan berusaha.  Usaha mengatasi pandemi merupakan komitmen dan tanggungjawab bersama. Konsistensi melaksanakan kebijakan oleh pemerintah, disiplin menjalankan protokol kesehatan oleh seluruh warga, melakukan vaksinasi, dan berbagai langkah lainnya merupakan keniscayaan dalam mengatasi pandemi ini. Segala ikhtiar maksimal harus terus dilakukan sebagai jalan jihad untuk mengakhiri musibah ini.

Ketujuh, nilai keilmuan atau ilmiah. Pandemi ini meniscayakan pentingnya manusia bersandar pada ilmu. Ilmu yang mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan. Para ahli epidemiologi, ahli virus, kedokteran, ahli vaksin, dan para ilmuwan lainnya telah memberi sumbangan berharga dalam memahami dan menghadapi virus Corona yang mengguncang dunia ini. Bangsa Indonesia penting menghargai ilmu sebagai jalan kemajuan hidup.

“Ilmu pengetahuan dan teknologi penting disertai hikmah agar tidak mengarah pada keangkuhan ilmuwan dan absolutisme kebenaran. Ilmu dan pikiran manusia modern jangan seperti kotak pandora dalam mitologi Yunani Kuno, yang memberikan harapan indah akan kebaikan, tetapi setelah dibuka ternyata menjadi sumber masalah bagi kehidupan manusia,” Haedar melanjutkan.

Kedelapan, nilai kemajuan. Pandemi ini meniscayakan manusia untuk belajar memahami masalah secara mendalam dan luas serta membangkitkan diri untuk maju pasca musibah. Manusia diajari Tuhan dengan berbagai jalan. Musibah boleh jadi merupakan cara Tuhan agar manusia terus mengungkap rahasia ciptaan-Nya yang sangat luas dan tak terbatas, bersyukur atas segala nikmat-Nya, serta mengakui Kemahakuasaaan-Nya. Di sinilah pentingnya membangkitkan nilai dan etos kemajuan bagi seluruh manusia atas musibah yang mewabah di seluruh dunia ini. (ppm/sb)

One thought on “Pandemi Covid-19, Milad Ke-109 Muhammadiyah, dan Delapan Nilai Utama yang Menyertainya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *