Panggilan Islam kepada Masyarakat Minoritas

Hikmah 9 Mar 2020 0 224x

Oleh : Dr. Ustadzi Hamzah (Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Ketua Prodi Studi Agama-Agama UIN Sunan Kalijaga)

Dalam menggambarkan betapa “agungnya” panggilan bagi umat Islam, Kenneth Cragg menulis sebuah buku The Call of the Minaret. Cragg menjelaskan bahwa panggilan azan yang dikumandangkan melalui menara-menara masjid (minaret) bagi umat Islam tersebut bukan hanya dimaknai sebagai “sekadar panggilan” untuk menunaikan salat, namun lebih dari itu panggilan azan merupakan bagian dari kesemestaan Islam.

Makna azan bagi umat Islam merupakan panggilan menuju hakikat Islam, yakni ketundukan total kepada Allah dan Rasulullah untuk menuju kebahagiaan dan kemenangan melalui salat. Makna azan bagi umat Kristiani (atau umat agama lain), menurut Cragg, adalah panggilan menuju pemahaman utuh tentang Islam. Acuan pandangan ini memberi gambaran kepada kita bahwa Islam selalu memanggil manusia untuk kebaikan dan menciptakan kebaikan di atas kebaikan yang ada.

Sebagaimana telah diketahui, Islam merupakan agama yang diwariskan secara berkesinambungan dari Nabi Adam sampai Rasulullah saw (Q.S. al-Nisa [4]: 123; al-Shura [42]: 13). Kehadiran Islam selalu memanggil manusia menuju ketundukan pada Allah, rabb Yang Maha Tunggal, untuk menciptakan kemashalahatan di dunia dan akhirat. Sekalipun demikian, umat Islam terkadang menghadapi umat agama lain di beberapa tempat, baik ketika awal penyebaran Islam maupun sekarang, di tempat kita hidup ini, Indonesia. Karena sifat dasar Islam adalah kedamaian dan kebaikan untuk menciptakan kebaikan yang lebih luas, dalam memanggil umat agama lain pun Islam selalu mengedepankan kedamaian dan kebaikan (Arnold, 1913). Hal ini tidak sebagaimana gambaran orang Barat secara umum terhadap Islam, bahwa Islam disebarkan dengan pedang (perang) (Holland, 2013).

Panggilan Islam yang ditujukan kepada manusia secara umum, dan khususnya umat yang telah beragama lain, dilakukan dengan dua strategi utama, yakni (i) peletakan landasan etis; dan (ii) penjabaran landasan praktis dalam berdakwah. Landasan etis merupakan fondasi bagi umat Islam dalam berinteraksi dengan umat agama lain yang didasarkan pada al-Qur’an dan Hadis Rasulullah. Dengan demikian, landasan ini menjadi acuan dasar dalam berinteraksi.

Di antara landasan etis tersebut adalah mutual understanding (ta’âruf), co-existence (tasâmuh), dan pro-existence (ta’âwun). Pertama, Mutual understanding (pemahaman yang utuh). Al-Qur’an telah menginformasikan bahwa manusia diciptakan dalam kondisi berbeda-beda dan beragam (Q.S. al-Hujurat [49]: 13). Perbedaan dan keragaman harus dipahami sebagai keniscayaan yang mesti dihadapi. Artinya, kita tidak mungkin berandai-andai bahwa manusia hanya satu jenis saja, apakah satu agama, satu suku, satu bahasa, dan lain-lain. Tujuan utama perbedaan dan keragaman tersebut adalah untuk saling memahami (ta’âruf). Proses memahami harus ada upaya untuk mempelajari karakter dari kelompok-kelompok yang berbeda tersebut.

Kedua, Co-existence (tasâmuh-toleransi). Setelah adanya kesadaran akan perbedaan dan keragaman, kita dituntut oleh al-Qur’an untuk memunculkan sikap menghargai keberadaan (bukan kebenaran) kelompok lain di luar diri kita. Apapun keragaman yang ada kita dituntut untuk menghargai keberadaannya (eksistensinya) (Q.S. al-Kafirun [109]: 6). Kita juga dilarang menghina sesembahan mereka (Q.S. al-An’am [6]: 108). Konsekuensinya, dalam aktivitas dakwah yang ditonjolkan adalah menunjukkan kebaikan Islam kepada kelompok lain tanpa membedakan eksistensi mereka. Kebaikan Islam merupakan nilai yang sangat universal sehingga kelompok lain akan dengan mudah melihat eksistensi Islam.

Ketiga, Pro-existence (ta’âwun-saling menolong dan bekerjasama). Kesadaran untuk menghargai eksistensi/keberadaan kelompok lain (termasuk agama lain) mesti diwujudkan dalam bentuk “menerima” keberadaannya dan pelibatan dalam berbagai aktivitas sosial (mu’amalah duniawiyah). Kita diajarkan untuk hidup tolong-menolong, berbuat baik, dan adil kepada kelompok agama lain sepanjang mereka tidak memusuhi umat Islam, tidak mengganggu eksistensi muslim, serta tidak membantu pihak lain dalam memusuhi dan mengganggu umat Islam (Q.S. al-Hujurat [49]: 13 dan al-Mumtahanah [60]: 8-9). Untuk aktivitas dakwah landasan etis ketiga ini menjadi pintu masuk untuk “memanggil” mereka ke dalam kebaikan Islam (Q.S. al-Taubah [9]: 33; al-Fath [28]: 26; al-Shaf [61]: 9).

Selanjutnya, landasan praktis dalam melakukan aktivitas dakwah kepada kelompok lain yang minor adalah dengan menggunakan pendekatan Abyssinia dan pendekatan Madinah. Landasan praktis merupakan acuan-acuan praktis dalam melakukan praktik dakwah riil di lapangan. Landasan ini merupakan gagasan dari Syed Zainal Abidin (1989) yang didasarkan pada pendekatan dakwah Rasulullah di kota Abyssinia dan Madinah (Yathrib). Dua pendekatan ini memberi gambaran bagaimana umat Islam sebagai minoritas ataupun sebagai mayoritas dalam menjalin relasi dan menunjukkan kebaikan Islam. Dua pendekatan ini dapat dijelaskan sebagai berikut,

Pendekatan Abyssinia

Pendekatan ini mengacu pada posisi umat Islam yang merupakan kelompok minoritas di hadapan kelompok agama lain yang mayoritas. Sebagai kelompok minor, pendekatan ini memberi acuan bahwa umat Islam “harus” mengakomodasi kebiasaan-kebiasaan sosial kelompok mayoritas sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip dasar akidah, ibadah, dan akhlak Islam. Umat Islam harus lebih “kritis-interaktif” terhadap kelompok mayoritas. Istilah kristis-interaktif merupakan istilah untuk menjelaskan relasi mayoritas-minoritas dalam kajian multikulturalisme.

Istilah ini menggambarkan bahwa kelompok minoritas tidak terlalu fokus pada kehidupan kultural mereka secara otonom, namun lebih konsentrasi pada penciptaan kolektivitas dan penegasan perspektif khas. Hal ini telah dilakukan oleh sahabat Rasulullah di Abyssinia yang berhadapan dengan Raja Najasyi yang beragama Nasrani, dengan tidak terlalu terfokus pada penciptaan identitas Islam secara otonom. Umat Islam lebih fokus pada penciptaan kolektivitas sosial dengan masyarakat Abyssinia dengan perspektif Islam yang khas, yakni akidah, ibadah, dan akhlak yang solid dan berbeda dengan masyarakat Abyssinia pada umumnya. Prinsipnya, pendekatan ini tidak secara berlebihan menonjolkan kehidupan sebagai muslim secara tersendiri dan menyendiri, namun membaur dengan kelompok mayoritas dengan tetap mempertahankan identitas Islam secara tegas.

Baca selengkapnya di Rubrik Hikmah, Edisi 8 Agustus 2019, hal 6-8

Sumber ilustrasi : https://www.kabarbanyuwangi.info/innalillahi-satu-jamaah-haji-banyuwangi-meninggal-di-makkah.html

Leave a Reply