Parenting Menuju Generasi Wasaṭiyyah

Parenting 28 Mar 2020 0 224x

Oleh : Elli N Hayati (Dosen Fakultas Psikologi, UAD & Majelis Kesejahteraan Sosial  Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah)

Tak dapat dimungkiri bahwa Indonesia adalah negara dengan kondisi masyarakat yang plural baik suku, golongan, ras, dan agamanya. Sayangnya, harus diakui pula bahwa belakangan, banyak gangguan yang merasuk kehidupan masyarakat kita yang bermotokan Bhinneka Tunggal Ika. Beberapa gangguan mewujud dalam bentuk ‘perang’ yang berbentuk dalam ujaran kebencian, baik melalui media sosial maupun dalam percakapan sehari-hari.

Selain itu, bangsa ini tengah menghadapi ancaman disintegrasi yang banyak bersumber dari ideologi-ideologi liberal dan ekstremis yang masuk melalui tafsir ajaran Islam. Ideologi liberal menghendaki adanya kebebasan yang mengancam moral masyarakat, sementara ekstremisme merebak di masyarakat Indonesia akibat ajaran Islam transnasional.

Meskipun paham tersebut menyeruak, kita tentu tetap peduli agar kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam dapat hidup berdampingan secara damai. Salah satu cara yang diupayakan untuk meng-counter maraknya pertumbuhan dan perkembangan ideologi yang memecah belah masyarakat Indonesia yang moderat sejak awal adalah dengan menggalakkan pendidikan dalam keluarga, masyarakat, maupun sekolah-sekolah yang wasaṭan (moderat). Masyarakat Indonesia yang didominasi oleh umat Islam, dikenal selama ini menganut Islam yang moderat, yaitu Islam yang lembut, tidak keras atau kasar, tidak ekslusif dan mau berdialog, serta menentang segala bentuk pemikiran yang liberal maupun radikal. Sikap moderat tersebut merupakan manifestasi dari ajaran Islam yakni rahmatan lil ‘alamin” yang bermakna bahwa ajaran Islam merupakan rahmat bagi segenap alam semesta. Oleh karenanya, menga-jarkan generasi yang berkarakter moderat dirasa perlu demi lahirnya umat terbaik (khairu ummah).

Ki Hajar Dewantara telah melahirkan konsep Tri Pusat Pendidikan yang integratif, yaitu sekolah/lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Ketiga pusat pendidikan ini harus konsisten mengajarkan dan mendidik hal-hal yang positif, dan bukan sebaliknya. Oleh karena itu, sejak anak-anak masih berusia dini, orang tua harus mengenalkan nilai-nilai moderasi agar anaknya kelak tumbuh dewasa sebagai individu yang tidak mudah terpengaruh dan bahkan mempengaruhi paham liberal dan ekstrem yang nantinya dapat mengancam disintegrasi bangsa. Melihat bahaya perpecahan yang terus mengancam persatuan bangsa Indonesia saat ini, pengintegrasian nilai-nilai moderasi dalam pendidikan di sekolah, di masyarakat, dan utamanya di dalam keluarga, mutlak harus diterapkan.

Generasi wasaṭiyyah dapat diidentifikasi dari sikap, pikir, dan tindakan yang mencerminkan kejujuran, keterbukaan, penuh kasih sayang, toleran, dan fleksibilitas dalam berinteraksi sosial. Ada sepuluh karakter wasathiyah yang dirumuskan oleh Majelis Ulama Indonesia yang mencerminkan cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang mengupayakan keseimbangan, toleransi, mendamaikan, berbudi pekerti, bermusyawarah, win-win solution, lurus, mampu membuat prioritas, mengambil jalan tengah, dan egaliter, tidak membeda-bedakan,diskrimintatif, serta dinamis.

Beberapa cara mendidik anak agar memiliki karakter luhur tersebut dapat terbagi menjadi lima cara. Pertama, kenalkan keberagaman (diversity) kepada anak. Keberagaman di sini maksudnya adalah keberagaman dalam berbagai bentuk, misalnya produk (makanan hingga kreasi seni), keberagaman manusia dan atributnya (bahasa, adat, tradisi, budaya, hingga agama), maupun keberagaman pemikiran, ide, dan hal-hal abstrak lainnya. Selalu ajak anak untuk merefleksikan nilai-nilai apa saja yang dapat ia tarik dari keberagaman itu, dalam konteks ketuhanan. Misalnya, sampaikan kepada anak tentang ke-Maha Kuasa-an Allah swt., yang telah menciptakan dunia dan seisinya secara beragam, sehingga anak kembar sekalipun tidak ada yang sama persis perilaku dan penampakan fisiknya.

Kedua, setelah anak melihat berbagai perbedaan tersebut, ajarkan kepada mereka bahwa perbedaan-perbedaan tersebut membawa konsekuensi perilaku serta cara hidup yang berbeda-beda. Ajaklah anak agar menghormati dan menghargai perilaku dan cara hidup yang berbeda-beda itu, dan kerangkai itu semua sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan Allah swt. Perwujudan dari penghormatan dan penghargaan terhadap perbedaan itu adalah sikap toleransi kepada pihak-pihak yang berbeda cara pikir, sikap, dan perilakunya dari anak.

Selanjutnya dilahkan baca di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 12 Desember 2019, Rubrik Edukasiana

Sumber ilustrasi : https://www.didaksi.com/tips-parenting-islami/

Leave a Reply