Pasang Surut Dakwah Berkesenian 

Liputan 30 Jun 2020 0 47x

Lewat estetika seni, berdakwah menjadi lebih menarik perhatian mad’u, sehingga tidak sekadar menikmati seni, namun sarat dengan pesan. Lantas bagaimana Muhammadiyah-‘Aisyiyah menggandeng seni dalam berdakwah? 

Menurut Jabrohim, Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah, saat mengawali pembicaraan, berkesenian di Muhammadiyah itu sulitnya minta ampun,” ungkap Jabrohim. Dalam menggerakkan ‘seni’ di Muhammadiyah, Jabrohim mengibaratkan, bagaikan menyalakan obor atau lilin. Maksudnya, terang Jabrohim, harus didatangi satu persatu-satu bahkan mengharuskan LSBO keliling Indonesia. Itupun masih beruntung jika tidak ada angin kencang yang menghantam, ungkapnya. Jabrohim kemudian menjelaskan angin kencang yang dimaksudkannya, “Paham dari para muballigh kita sendiri yang memandang bahwa seni itu haram dan sebagainya.” 

Seni dalam Islam

Jabrohim menegaskan, seni dalam Islam merupakan aktivitas yang sangat dianjurkan karena dapat mendatangkan perasaan indah dan menyenangkan bagi penikmatnya. Umat Islam tidak seharusnya terjebak pada pemahaman ajaran agama yang sempit seperti pernyataan bahwa berkarya seni melanggar syariah. Seharusnya yang perlu diperhatikan, terang Jabrohim, jangan sampai seniman terjebak dalam kreasi menjauhkan manusia dari Allah, sehingga dapat merusak mental seniman atau penikmatnya. “Kami LSBO, pelaku seni yang bergerak sesuai dengan pedoman Majelis Tarjih, kami tidak pernah lepas dari tuntunan tersebut,” tutur Jabrohim.

Dalam mengembangkan kesenian  di Muhammadiyah-‘Aisyiyah, ujar pengajar di Universitas Ahmad Dahlan ini, LSBO harus memahami lima lingkaran komunikasi. Pertama, para pimpinan Muhammadiyah dengan tingkat kemuhammadiyahan dan keagamaan yang kuat. Bagi mereka, ungkap Jabrohim, ada atau tidaknya seni bukan menjadi persoalan. Seni dapat masuk melalui seni baca al-Qur’an.  Kedua, umat Islam khususnya warga Muhammadiyah, menerima seni hanya yang sesuai dengan paham Muhamadiyah saja. Ketiga, umat Islam secara umum yang memahami seni berdasarkan Islam. Keempat, seluruh bangsa Indonesia yang memahami seni sesuai dengan ideologi bangsa dan negara. Kelima, humanisme atau berkesenian di seluruh dunia yang berisi nilai-nilai kemanusiaan dengan tidak mengenal suku dan ras, seperti adanya patung Jenderal Soedirman di Jepang.

Strategi Dakwah Budaya

Berkesenian di Muhammadiyah-‘Aisyiyah harus diupayakan untuk tujuan dakwah. Jabrohim mencontohkan sinematografi lewat film, seperti film ‘Meniti 20 Hari’ dan ‘9 Puteri Sejati’. Sastra melalui puisi dan menulis cerita, bunyi-bunyian lewat musik dan lagu seni rupa lewat lukisan, dan seni gerak lewat tari. Berdasarkan Pedoman Seni dan Budaya Islam dari Buku Seni Budaya Islam yang diterbitkan LSBO dan MTT, menyatakan bahwa peran Muhammadiyah dalam mengembangkan kesenian adalah sebagai media dakwah. Dakwah sendiri wajib ‘ain dan wajib kifayah, maka berkesenian dan berbudayaan dapat menjadi wajib ‘ain dan wajib kifayah. Namun, sayangnya setelah karya seni dibuat dan ditampilkan, ungkap Jabrohim, sejauh ini hanya lingkaran ketiga dan setelahnya saja yang menerima dengan penuh. Sedangkan lingkaran pertama dan kedua tidak sepenuhnya menerima.

Dalam mengembangkan dakwah berkesenian, seniman atau pelaku seni mempunyai peranan penting. Menurut Jabrohim, seniman merupakan pekerja individual, mereka orang bebas yang tidak nyaman apabila diikat dalam suatu wadah. Ikatan Seniman Budayawan Muhammadiyah (ISBM) yang merupakan wadah seniman Muhammadiyah yang pernah dibentuk kala itu, namun tidak berlangsung lama. Bahkan, Jabrohim sendiri yang lahir pada tahun 50-an tidak bertemu de-ngan komunitas tersebut. Sehingga kini, pelaku seni Muhammadiyah-‘Aisyiyah berdiri sendiri dalam berkarya.

Keberadaan lembaga seni dan budaya di Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, ungkapnya, belum terdapat menyeluruh di tingkat Daerah, Cabang, hingga Ranting. Kalaupun ada, masih menjadi bagian dari Majelis Pustaka Informasi dan Budaya. Jabrohim mengusulkan, dalam mengembangkan seni budaya di Muhammadiyah dirasa perlu seperti membuka fakultas kesenian di Perguruan tinggi Muhammadiyah, serta me-
ngubah LSBO dan LK PPA menjadi majelis sehingga dapat menyeluruh terdapat di berbagai tingkatan pimpinan. 

Jabrohim khawatir, “Jika dakwah kesenian tidak diseriusi, lantas siapa yang akan mengurus kesenian di Muhammadiyah?  Bagaimana dengan anak didik Muhammadiyah yang bersekolah di Muhammadiyah dan memiliki hobi berkesenian?” Sedangkan masyarakat membutuhkan seni. Layaknya wali songo yang dapat mengislamkan nusantara lewat seni, maka menjauhkan orang dari Islam dapat juga dilakukan melalui seni jika organisasi Islam sendiri tidak berdakwah melalui seni. 

Berdakwah Lewat Lagu 

Pada 2015 silam, sebuah band sekolah SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Malang turut meramaikan belantika musik di ranah Youtube. Selanjutnya band bernama D’Croof tersebut meng-cover dan me-remake lagu-lagu Mars Muhammadiyah dan Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah dalam versi kekinian dan keroncong yang dianggap lebih populis. Arief Joko Suryadi, manager grub band D’Croof SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Malang, mengungkapkan hal itu bertujuan untuk mengenalkan lagu-lagu Muhammadiyah kepada milenial dan masyarakat umum. Sehingga lagu-lagu ini tidak didengar pada acara khusus saja, namun harapannya dapat diputar di mana saja, dan kapan saja, tutur Arief yang juga menjadi Kepala Sekolah SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen Malang.

Arief mengungkapkan, bahwa yang ia lakukan bersama muridnya merupakan dakwah lewat seni, dengan meng-cover serta me-remake lagu-lagu Islami yang kemudian disyiarkan lewat Youtube. “Dakwah lewat seni sangat memungkinkan, selama seni tersebut mengantarkan kepada kebaikan dan tidak bertentangan dengan hukum Islam,” ungkapnya. 

Kendala budget yang minim, menurut Arief, bukan hambatan yang berarti. Justru kendala tersebut, menuntut mereka untuk berpikir lebih kreatif. Untungnya, terang Arief, lagu Muhammadiyah sudah enak dan bagus sedari awal, sehingga tidak sulit dalam proses aransemen lagu. Setelah video pertama tayang pada tahun 2015 silam, tanggapan publik bagus, tutur Arief. Bahkan Syarikat Cahaya Medika mengajak D’Croof dalam memproduksi keping DVD. “Kami juga sudah mendapat ACC dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memproduksi kepingan DVD. Saya kira Muhammadiyah sangat mengapresiasi sebuah karya seni,” Sejak itu, D’Croof mulai mengembangkan dan memproduksi lagu-lagu Muhammadiyah lebih serius. Selain itu, karya D’Croof juga pernah ditayangkan di televisi lokal Malang dan radio. (Gustin Juna) 

Baca selengkapnya di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3 Maret 2020

Sumber ilustrasi : https://www.youtube.com/watch?v=uEMaoMN9paM

Leave a Reply