PD Aisyiyah Kota Cirebon Berikan Pendampingan kepada Anak Penyandang Thalasemia

Berita 21 Sep 2021 0 52x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Gerakan ‘Aisyiyah Cinta Anak (GACA) adalah salah satu program dari sekian program khusus Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Cirebon. Hal itu disampaikan Retno Kutjorowati selaku Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Cirebon dalam acara Subuh Mengaji dengan tema “Pendampingan Anak-Anak Penyandang Thalasemia di Kota Cirebon” yang dilaksanakan secara virtual pada Senin (20/9).

Salah satu kegiatan GACA adalah melakukan pendampingan anak-anak penyandang thalasemia dengan pengadaan darah untuk transfusi dan bekerja sama dengan Dharma Wanita, Komunitas Jawa Barat Bergerak, Genre, dan PKK dalam penyelenggaraan donor darah untuk anak-anak penyandang thalasemia.

Pendampingan anak-anak penyandang thalasemia dan penyelenggaraan donor darah untuk anak-anak penyandang thalasemia, kata Retno, bertujuan untuk membantu dan men-support anak-anak peyandang thalasemia.

Retno menjelaskan bahwa thalasemia merupakan penyakit kelainan darah turunan yang ditandai oleh adanya sel darah merah yang tidak normal yang mengakibatkan tidak lancarnya peredaran oksigen pada tubuh. Menurutnya, penyakit ini tidak dapat menular. “Penyakit ini diturunkan secara genetik jika ayah, ibu, atau keduanya pembawa gen thalasaemia, maka anaknya pun memiliki risiko yang besar untuk mengidap penyakit ini,” terang Retno.

Baca Juga: Theraplay: Mengelola Emosi dan Perilaku Anak dengan Bermain

Lebih lanjut, Retno menyebut, secara sederhana ada tiga jenis thalasemia, yakni thalasemia minor, thalasemia intermediate, dan thalasemia mayor. Thalasemia minor, kata Retno, adalah kondisi di mana yang bersangkutan seolah-olah tidak memiliki gejala. Kalaupun ada, umumnya bersifat ringan. Sedangkan thalasemia intermediate adalah tingkat keparahan sedang, di mana yang bersangkutan harus sering melakukan transfusi darah. Sementara thalasemia mayor adalah tingkat keparahan tinggi, di mana yang bersangkutan ketergantungan untuk melakukan transfusi darah.

Selanjutnya, Retno menyebutkan beberapa gejala penyakit thalasemia, di antaranya: pertama, kulit berwarna kuning dan pucat akibat kurangnya sel darah merah atau hemoglobin; kedua, perut membesar; ketiga, kelainan bentuk tulang wajah; keempat, badan lemas; kelima, pertumbuhan terhambat.

Di akhir penjelasannya, Retno mengungkapkan bahwa sampai saat ini penyakit thalasemia belum ada obatnya. Penyandang dapat dibantu dengan transfusi rutin untuk thalasemia (mayor) dan mengkonsumsi obat kelasi besi untuk mengurangi kadar zat besi dalam darah. Ia menambahkan, untuk pencegahannya dapat melakukan screening terlebih dahulu sebelum menikah, hal itu dilakukan dengan tujuan agar memutus rantai thalasemia. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *