Pelatihan Menulis Suara Aisyiyah: Habitus Menulis

Berita 2 Okt 2021 2 77x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Sejak sekolah dasar kita sudah belajar menulis. Aktivitas menulis ini selalu kita lakukan, setiap hari. Apalagi seseorang yang berprofesi sebagai pendidik (guru, dosen). Apa sebenarnya menulis itu? Mengapa harus menulis?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) online, pengertian menulis adalah “melahirkan pikiran atau perasaan (seperti mengarang, membuat surat) dengan tulisan”. Kita harus menulis, karena menulis itu juga ibadah. “Nūn wa al-qalami wa mā yasthurūn” (Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan,” demikian termaktub dalam Q.S. al-Qalam [68]: 1.

Dalam ayat di atas Allah swt. bersumpah dengan alat tulis, yaitu pena dan apa-apa yang mereka tuliskan. Ini mengindikasikan betapa mulia dan agungnya pena dan hasil tulisan di sisi Allah swt. selama semua yang ditulis bermanfaat bagi diri sendiri dan bagi orang lain.

Menulis akan bernilai ibadah apabila dilakukan dengan keimanan dan berdasarkan ilmu, dan  dilandasi niat ibadah karena-Nya. Selain itu, menulis merupakan bentuk mencerdaskan diri, karena seseorang yang menulis harus ada buku yang dibaca.

Kegiatan membaca adalah perintah Allah swt. sebagaimana surah yang diturunkan pertama kali, yaitu Q.S. al-Alaq [96]: 1. “Iqra’ bismi Rabbika alladzi khalaq” (Bacalah dengan (menyebut) atas nama Tuhanmu yang menciptakan).

Baca Juga: Anakku Tidak Belajar Mengeja, Tapi Belajar Membaca

Aktivitas membaca akan membuat pelakunya bertambah ilmunya. Semakin banyak buku atau artikel yang dibaca, maka semakin bagus dan berkualitas tulisannya. Nah, membaca dan menulis adalah perintah Allah swt., oleh karena itu kita harus meyakinkan diri bahwa menulis adalah tindakan positif, baik, dan menambah pahala atas ibadah kita.

Sabtu (2/10), Wahyudi Akmaliah dalam Pelatihan Menulis Kontributor Suara ‘Aisyiyah menyampaikan kepada peserta untuk menelurkan gagasannya menjadi tulisan. “Sebaik-baik tulisan adalah yang selesai. Sebaik-baik ide adalah yang dituliskan,” demikian katanya.

Pesan ini mengandung makna motivasi mendalam, yakni berupa ajakan dan imbauan. Mari menulis; menulis apa saja yang kita pikirkan, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita lakukan.

Yakinlah bahwa tulisan kita suatu saat akan dibaca oleh orang lain. Boleh jadi  ketika kita sedang tidur, tulisan kita dibaca orang, dan menginspirasi orang tersebut. Hindari pikiran yang menghalangi kita, singkirkan anggapan bahwa tulisan dari pengalaman kita adalah remeh. Boleh jadi tulisan kita yang hanya beberapa kalimat itu ternyata dapat membantu kesulitan orang lain (dalam hal tertentu).

Banyak sekali bahan yang dapat kita jadikan tulisan. Bersyukur organisasi kita, ‘Aisyiyah, adalah organisasi yang dinamis, yang selalu bergerak maju, aktivitasnya banyak. Setiap saat ada kegiatan. Nah, apapun kegiatannya, marilah kita tulis. Jadikan aktivitas menulis ini menjadi kebiasaan (habit). Menulis apa yang kita lakukan dan menulis apa yang akan kita lakukan. Ayooo menulis! (Susiyati/PWA Kaltim)

2 thoughts on “Pelatihan Menulis Suara Aisyiyah: Habitus Menulis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *