Pemahaman Literasi Keuangan dalam Keluarga

Gaya Hidup Literasi Keuangan 11 Agu 2021 0 71x
keuangan keluarga

keuangan keluarga

Deasy Lestari Kusnandar dan Dian Kurniawan (2018) dalam “Literasi Keuangan dan Gaya Hidup Ibu Rumah Tangga dalam Membentuk Perilaku Keuangan Keluarga di Kota Tasikmalaya” menjelaskan bahwa untuk mencapai kesejahteraan keuangan, seseorang perlu mempunyai pengetahuan, sikap, dan implementasi keuangan pribadi yang sehat.

Penelitian tersebut juga menjelaskan bahwa dalam sebuah keluarga, pengetahuan tentang kondisi keuangan (baik ataupun buruk) akan mampu menjadikan mereka sebagai pelaku ekonomi yang cerdas. Secara lebih luas, rendahnya pengetahuan tentang kondisi keuangan akan menjadi masalah serius bagi masyarakat.

Literasi keuangan menjadi semakin penting di tengah era modernisasi. Deasy dan Dian menjelaskan bahwa modernisasi menjadi salah satu gejala perubahan sosial bagi sebuah masyarakat. Modernisasi ini juga yang nantinya akan memberi dampak bagi kehidupan masyarakat, baik dampak positif atau negatif.

Lebih lanjut, penelitian ini membahas mengenai gaya hidup sebagai akibat modernisasi. Gaya hidup menjadi salah satu faktor yang menyebabkan perubahan perilaku pada seseorang. Gaya hidup juga dapat mencerminkan kelas sosial seseorang dan menggambarkan bagaimana seseorang mengabiskan waktu dan uang.

Baca Juga: Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Ning (2015) dalam buku yang berjudul “6 Keranjang, 7 Langkah Api” menjelaskan cara mengelola keuangan keluarga secara efektif, yakni:

Pertama, memaknai uang secara benar. Jangan memaknai uang sebagai sesuatu yang pertama dan utama dalam keluarga. Dapat dikatakan, uang bukanlah tujuan utama dari terbentuknya keluarga.

Kedua, mengendalikan pengeluaran. Mengendalikan pengeluaran dalam keluarga dapat dilakukan dengan cara menyisihkan sebagian pendapatan keluarga untuk ditabung sehingga dapat bermanfaat di kemudian hari. Kegiatan menabung ini juga dapat ditanamkan pada anak-anak untuk memberikan pengetahuan kepada mereka pentingnya kegiatan menabung.

Ketiga, belanja sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginan.  Hindari kegiatan membeli barang secara berlebihan. Keuangan keluarga juga dapat dikontrol misalnya dengan cara membuat daftar barang yang akan dibeli.

Keempat, membangun fondasi keuangan yang kuat. Fondasi keuangan keluarga yang kuat akan bermanfaat apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Apabila terjadi hal tersebut, keluarga masih dapat bertahan walaupun keadaan memburuk.

Baca Juga: Meningkatkan Pendapatan Ekonomi Keluarga

Kelima, sisihkan dana papan, pendidikan, dan pensiun. Dengan menyisihkan dana tersebut, keluarga bisa mengatur sistem keuangan dalam jangka panjang.

Keenam, mengembangkan harta. Dalam rangka mengembangkan harta, sebuah keluarga dapat melakukan kegiatan wirausaha di rumah atau bisa juga dengan berinvestasi secara aman sebagai upaya untuk mempertahankan dan mengembangkan perekonomian keluarga.

***

Pengetahuan mengenai keuangan keluarga akan membentuk perilaku keuangan yang baik. Gaya hidup yang sesuai dengan kondisi keuangan keluarga juga dapat membuat proses pengelolaan keuangan dalam keluarga menjadi lebih terkontrol. (Cheny*)

*Mahasiswa magang di Suara ‘Aisyiyah

 

Sumber :

Kemendikbud. (2017). Gerakan Literasi Finansial. In K. P. Kebudayaan, Materi Pendukung Literasi Finansial. Jakarta: Kemendikbud.

Ning, L. T. (2015). 6 Keranjang 7 Langkah Api. Gramedia Pustaka Utama.

Kusnandar, D. L., & Kurniawan, D. (2018). Literasi Keuangan Dan Gaya Hidup Ibu Rumah Tangga Dalam Membentuk Perilaku Keuangan Keluarga Di Kota Tasikmalaya. Sustainable Competitive Advantage (SCA), 8 (1).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *