Pemahaman Pokok-Pokok Ajaran Islam (1)

Kalam 23 Jul 2020 0 71x

Pemahaman pokok-pokok ajaran Islam sangat penting untuk diketahui  oleh generasi muda.  Hal ini untuk menghindari angkatan muda tertarik, pada aliran /ajaran Islam yang menyimpang. Angkatan muda hanya tertarik pada “sisi luar /kulit” saja. Tampilan yang seakan menunjukkan kekhusyukan seakan Islam tulen, kental, bahkan mengaku ajaran yang asli dari dunia Arab. Namun ternyata telah memporakporandakan aqidah.

Pokok-pokok Ajaran Islam

Muhammadiyah mengelompokkan/memilah  ajaran Islam ini dalam 4  bidang, yaitu bidang ‘Aqidah , Ibadah, Akhlak dan Muamalah. Sistem ini juga banyak diikuti oleh para ulama di luar Muhammadiyah. Berikut ini kami paparkan secara singkat dan sederhana serta mudah dipahami. 

Bidang Aqidah

Aqidah atau keyakinan, disebut juga keimanan, merupakan  perkara yang paling mendasar. Akidah merupakan Ruhnya agama. ‘Aqidah bersifat transendental, spiritual yang secara total diyakini dalam hati seseorang dan tak tercampur dengan hal-hal yang lahiriah. Yakni adanya rasa kepercayaan dalam hati sanubari seorang hamba kepada Tuhan Yang Maha Esa. Hal mana merupakan hubungan langsung secara vertikal antara hamba dengan Allah YME. Kepercayaan tersebut tidak dikait-kaitkan dengan sesuatu apapun (baik yang kasat mata/benda-benda, maupun yang tak kasat mata misalnya jin, makhluk halus ).

Dalam Islam hal-hal  yang wajib diyakini disebut Rukun Iman. Yakni beriman kepada Allah YME,  Para Malaikat,  Kitab–kitab Allah, Para Rasul sebagai utusan Allah , Hari Kiamat, dan beriman kepada Takdir  (Qs al-Baqoroh [2]: 177). Apa yang disebut Rukun adalah rangkaian yang tak dapat dikurangi atau pun ditambah. Setiap ayat dari rukun itupun sempurna pemahamannya. Contoh,  beriman kepada  para Rasul dengan ketegasan Muhammad sebagai Nabi yang terahir. Maka siapa yang mempunyai kepercayaan ada nabi setelah nabi Muhammad, maka batal lah Islamnya. Hal semacam inilah yang sering orang tergelincir, disebabkan kurang memahami. Ketegasan ini nyata tercantum dalam al-Qur’an Qs. al-Ahzab 33: 40, yang artinya :

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki diaantaramu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

 Keimanan adalah hal sangat mendasar.  Ada orang beriman kepada al-Qur‘an, tetapi meragukan  kebenarannya, bahkan membantah walau satu ayat saja, maka gugurlah iman orang itu. Demikian pula orang yang  dengan sengaja mengingkari hukum Allah, batallah imannya. (Qs  al-Maidah [5]: 44)

Bidang Ibadah

Konsekuensi dari pada keyakinan adalah tunduk/patuh, dan melaksankan  perintah  Allah. “Iman itu diyakini dalam hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota badan“.  Allah telah mewajibkan serangkaian ibadah yang disebut Rukun Islam, ialah Ikrar Syahadat, mendirikan shalat, berpuasa, zakat, dan haji.  Ibadah ini disebut  ibadah Mahdhoh, artinya rangkaian amalan hati/jiwa yang langsung vertikal kepada Allah dan kegiatan anggota badan sesuai dengan ketentuan (berdasar al-Qur`an ) dan bagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw. “Shalatlah sebagaimana kamu lihat aku shalat “.

Ketentuan ibadah ini ialah,  1) Ada perintah dari Allah tercantum  dalam al- Qur’an (Qs Hud [11]: 114), 2) Syarat-syaratnya (sesuatu yang harus dipenuhi sebelum dilaksanakan). Misalnya  Puasa harus suci dari hadath besar, 3) Adanya  Rukun, yaitu sesuatu rangkaian kegiatan dalam pelaksanaan ibadah. Apabila salah satu rukun tersebut tidak dipenuhi, maka  ibadah itu tidak sah ( harus diulang walaupun lupa). Lupa tidak membaca al-Fatihah dalam shalat, maka harus diulang atau ditambah satu rakaat. 

 Dalam Rukun itulah ditetapkan waktunya, ukurannya. Dalam hal ini seorang muslim harus mempelajari Fikih Ibadah (Tuntunan Shalat, manasik haji). Ibadah  ini harus mempunyai dasar/dalil dari al-Qur ‘an (nash, tekstual) ayat-ayatnya bersifat Qoth ‘i. Jelas tidak perlu dipahami secara lain, atau tidak perlu  ditafsiri lain. Contoh tentang ketentuan waktu shalat tercantum dalam al-Qur‘an sbb: “Dirikanlah (laksankanlah) shalat pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam.“ ( Qs.  Hud [11]: 114 ). Demikian pula tersebut dalam al-Isra‘ sbb: “ Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir  sampai gelap malam (dan dirikanlah pula shalat subuh). Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh para malaikat) (Qs Al-Isra‘ [17] : 78).  Ayat ini kemudian dituntun oleh Malaikat Jibril yang datang pada saat-saat waktu shalat (5 kali waktu) menjalankan shalat bersama Rasulullah .

Inilah yang menjamin adanya kesamaan di antara kaum muslimin di seluruh dunia sejak dulu hingga nanti hari kiamat, bersifat abadi . Demikian Hadist yang dipakai dasar   ibadah mahdoh tingkat mutawatir (banyak yang meriwayatkan/banyak sanad).  Ibadah mahdhah itu dijalankan berdasar “perintah dalam al-Qur’an .“

Bersambung ke Pemahaman Pokok-Pokok Ajaran Islam (2) 

Leave a Reply