Pembinaan Aspek Pendidikan dalam Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah 24 Jul 2020 0 111x

Sumber ilustrasi : madridforcongress.com

Aspek kedua yang menopang terwujudnya Keluarga Sakinah setelah spiritualitas adalah aspek pendidikan. Esensi pendidikan pada dasarnya merupakan usaha sadar untuk mengembangkan potensi kemanusiaan yang dibawanya semenjak lahir menuju terbentuknya manusia seutuhnya yang memiliki kepribadian paripurna.

Potensi kemanusiaan dimaksud meliputi potensi tauhîdiyyah, ’abdiyyah, khalîfiyyah, ’aqliyyah, dan jasadiyyah, yang selanjutnya akan menjadi kebutuhan-kebutuhan kemanusiaan yang harus dipenuhi melalui proses pendidikan. Dalam penjabarannya potensi-potensi tersebut bila dikembangkan secara optimal akan berbentuk menjadi berbagai kecerdasan yaitu  kecerdasan spiritual, intelektual, sosial-emosional, ekologis, dan nafsiyah. Orangtua bertanggungjawab atas terlaksananya proses pendidikan tersebut.  Nabi Muhammad saw bersabda : 

“Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi. Seperti binatang yang menghasilkan binatang, bukankah kamu lihat diantaranya ada yang cacat” [HR Bukhari].

Hadis tersebut menegaskan pentingnya pendidikan keluarga dalam mengaktualisasikan potensi kemanusiaan yang berakar pada potensi fitrah tauhid sebagaimana isyarat Q.S. al-A’raf (7) : 172 dan ar-Rum (30).  Dalam pendidikan keluarga, peran orangtua sangat besar dalam mengaktualisasikan potensi fitrah, karena orang tualah yang akan memengaruhi keyakinan anak-anaknya.

Oleh sebab itu setiap orangtua harus berusaha sabaik-baiknya untuk mendidik anak-anaknya agar menjadi manusia yang baik dan berkualitas, generasi yang kuat akidah dan ibadahnya, kuat dan sehat fisiknya, kuat ekonomi, jujur, disiplin, memiliki etos ilmu yang kuat, etos kerja yang kuat, peduli terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan, peduli kepada masyarakat, kepada kaum dlua’afâ’-mustadl’afîn, kepada fakir miskin, peduli kepada kehidupan berbangsa dan bermasyarakat (Q.S. al-Furqân (25): 74, al-Baqarah (2): 128, Ibrâhîm (14): 40, al-Ahqâf (46): 15, ash-Shâffât (37): 100-101 dan Âli ’Imrân (3): 38.

Semua itu dilakukan untuk menjaga keluarga dari lemahnya generasi serta penyimpangan akidah dan akhlak yang akan menjerumuskan anak-anak kepada keterpurukan hidup dan kehidupan di dunia dan menghindarkannya dari siksa neraka (Q.S. at-Tahrîm [66]: 6; an-Nisa‘(4): 9). 

Fungsi Keluarga dalam Pengembangan Pendidikan 

Keluarga, memiliki fungsi dan peran strategis dalam pengembangan pendidikan untuk membentuk manusia yang baik dan berkualitas. Ada lima point yang perlu dikembangkan dalam pendidikan keluarga yaitu :

Pertama, keluarga menjadi tempat pendidikan pertama  dan utama untuk mendasari pendidikan secara keseluruhan. Karena itu setiap keluarga muslim harus menjadikan keluarga sebagai tempat menyemaikan benih-benih kemanusiaan secara utuh, mulai dari keyakinananya, sikap hidupnya, kebiasaan-kebiasaan yang baik sampai kepada intelektualitasnya yang sesuai dengan minat dan bakatnya. 

Kedua, keluarga menjadi tempat mengembangkan potensi dan pengembangan ilmu melalui jalur informal. Dalam keluarga dikembangkan motivasi dan semangat untuk menggali kemampuan dan bakatnya dengan belajar dan menimba ilmu, baik melalui jalur formal (sekolah), nonformal (masyarakat) maupun informal (keluarga). 

Ketiga, keluarga menjadi wahana proses pendidikan yang demokratis, berkeadilan, dialogis, dan tolong- menolong (saling mengasihi ) dengan adanya unsur keteladanan dari orangtua. Misalnya melalui pertemuan keluarga, shalat berjamaah yang diteruskan dengan kebiasaan kultum (kuliah tujuh menit) secara bergiliran dari anggota keluarga. 

Keempat, keluarga menjadi pusat kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban. Tradisi intelektual Islam bermula dari pengembangan spirit Islam tentang kecintaan terhadap ilmu pengetahuan dan pendidikan sepanjang hayat. Semua aktivitas dan upaya meraih kuwalitas kehidupan berorientasi pada keilmuan dan menjadikan pendidikan sepanjang hayat sebagai prinsip atau spirit hidup dengan niat ibadah hanya kepada Allah swt.

Keberadaan perpustakaan keluarga sekecil apapun dan ruang atau tempat khusus untuk shalat (mushalla keluarga), sangat mewarnai pola kehidupan yang  berorientasikan  keilmuan atas dasar ibadah semata-mata kepada Allah. Pembudayaan kultur ilmiah akan menyatu dalam diri seseorang yang beriman melalui proses pendidikan sepanjang hayat, dilakukan secara sistemik tanpa terbatas oleh ruang dan waktu  dimanapun dan kapan pun berada. Dalam hal ini Rasulullah saw melalui haditsnya berpesan,

“Abu Hurairah berkata, saya mendengar Rasulullah saw bersabda, “Dunia itu dikutuk, begitu pula yang ada di dalamnya juga terkutuk, kecuali yang mengingat Allah dan yang mengikutinya, yang berilmu atau yang menuntut ilmu “(HR Ibnu Majah).

 Kelima, keluarga sebagai wahana pendidikan kemasyarakatan dan perjuangan. Dalam hal ini, peran orangtua diperlukan untuk memotifasi, mendukung dan menfasilitasi anak-anak agar perperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan organisasi kepemudaan seperti Nasyiatul ’Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadi-yah  dan remaja masjid. Pendidikan nonformal dalam masyarakat dan organisasi kepemudaan merupakan media pendidikan kepemimpinan dan perjuangan yang cukup efektif.

Keenam, keluarga sebagai wahana menjaga dan menghindarkan diri dari karakter tercela, seperti pendidikan nirkekerasan, pendidikan anti korupsi, anti narkoba, anti pelecehan seksual. Pembiasaan tidak bohong, tidak melakukan tindak kekerasan, tidak melakukan perbuatan terlarang seperti narkoba, pergaulan bebas laki-laki dan perempuan, seks pra nikah perlu dilakukan pada usia dini, kanak-kanak, remaja, sampai dewasa. Diskusi memecahkan permasalahan pergaulan dan sosial serta keteladanan dan suport orangtua akan mengembangkan kemampuan anak dalam pengendalian diri dari tindakan yang tidak patut, asusila, dan maksiat.  

Pembinaan Aspek Pendidikan dalam Keluarga Sakinah                

Pembinaan aspek pendidikan dalam Keluarga Sakinah dilakukan dengan cara:

-Menjadikan madrasah keluarga sebagai aktualisasi potensi fitrah sejak usia dini  dengan memberikan kesempatan agar semua potensi kejiwaannya berkembang semenjak awal. Memberikan perhatian dan kesungguhan terhadap pendidikan anak. Mensosialisasikan anak untuk mempunyai cita-cita (impian besar) dan sering mengingatnya. 

-Memilihkan dan mengarahkan anak pada pendidikan formal (sekolah) yang mampu mengembangkan intelektual dan kepribadian anak secara optimal khususnya kepribadian muslim. 

-Mendorong anak untuk mempunyai motivasi yang tinggi dan berprestasi. Orangtua harus mampu mengapresiasi prestasi anaknya. 

-Mendorong dan menfasilitasi anak untuk berperan aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, perjuangan, dan organisasi kepemudaan.

-Mengusahakan pengadaan perpustakaan keluarga. 

-Menunjukkan penghormatan dan perlakuan yang ihsan terhadap anak-anak dan perempuan serta menjauhkan diri dari praktik-praktik kekerasan dan penelantaran kehidupan anggota keluarga. 

-Di tengah arus media elektronik dan media cetak yang makin terbuka, perlu dilakukan:  

-Pengembangan media literasi  untuk memperoleh akses dan lingkungan positif bagi pengembangan potensi anak.

-Ketahanan keluarga dari pengaruh negatif  teknologi informasi  terhadap pengembangan potensi anak.

-Menciptakan suasana yang harmonis agar terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif.  

Pada era global, ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran sangat penting agar manusia memperoleh pencerahan dan kemajuan hidup. Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut manusia dapat menciptakan peradaban yang unggul.

Oleh karena pentingnya arti ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kehidupan manusia, Islam memberikan apresiasi yang tinggi bagi orang-orang yang mau belajar dan berilmu setinggi-tingginya, sebagai ulul albab dan akan mendapatkan derajat yang tinggi di hadapan Allah dan kehidupannya (Q.S. Ali ’Imran [3] : 190-191; al-Mujadilah [58] : 11) .

Namun penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu diimbangi dengan pemilikan kecerdasan dan kualitas moral yang tinggi. Sehingga perilaku yang dimanifestasikan benar-benar mencerminkan insan yang beradab dan berbudaya.  Untuk itu penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi anggota keluarga memerlukan pendampingan oleh orang tua atau orang dewasa lainnya, agar tidak terjebak pada penyimpangan penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi. 

Dra. Siti ‘Aisyah, M.Ag (Ketua PPA, Dosen FAI UCY)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 3 Maret 2016, Rubrik Keluarga Sakinah

 

Leave a Reply