Pembinaan Aspek Sosial, Hukum, dan Politik dalam Keluarga Sakinah (Bagian Dua)

Keluarga Sakinah 13 Mar 2021 0 96x
Aspek yang Harus Dipenuhi dalam Keluarga Sakinah

Aspek yang Harus Dipenuhi dalam Keluarga Sakinah

Oleh: Siti ‘Aisyah

Manusia diciptakan oleh Allah swt.  sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, hidup manusia senantiasa bersama dan berinteraksi dengan orang lain, baik dengan tetangga, tamu, maupun masyarakat. Agar terbangun situasi kehidupan bermasyarakat atau pergaulan antar manusia yang harmonis, maka Islam memberikan prinsip dasar pergaulan antar manusia dan bagaimana perilaku hidup bertetangga, bertamu dan menerima tamu, perilaku hidup bermasyarakat, serta perilaku hidup berbangsa dan bernegara.

Prinsip Dasar Pergaulan antar Manusia

Ada sembilan prinsip pergaulan antar manusia yang perlu dibina dalam kehidupan bermasyarakat yang mendasari setiap tata hubungan sosial baik dalam setiap anggota keluarga muslim maupun keluarga dengan masyarakat sekitarnya. Sembilan prinsip dimaksud yaitu,  toleransi, kedamaian, memenuhi janji, menghargai kehormatan manusia, kesatuan, persamaan dan persaudaraan umat manusia, memegang teguh nilai keutamaan, kasih sayang dan menghindari kerusakan, menegakkan nilai keadilan serta mempertahankan kebebasan.

Pertama, toleransi. Dalam hidup bersama orang lain yang majemuk atau plural, Islam tidak menghalangi bahkan mengajarkan agar umat Islam mengembangkan sikap toleransi dan menegakkan kerjasama antar umat manusia apa pun agama dan bangsanya. Dalam hubungan ini Allah telah menegaskan dalam QS. al-Hujurat [49]: 13, bahwa manusia memiliki potensi dasar hidup bermasyarakat, dengan saling mengenal, memahami, menghargai, tanpa mengembangkan sikap diskriminasi.

Demikian juga, dalam bermasyarakat perlu dikembangkan kerjasama dalam kebaikan, dan sebaliknya menutup kemungkinan berkembangnya kerjasama dalam perilaku dosa dan permusuhan (QS. al-Maidah [5]: 2) serta berlaku baik dan adil terhadap orang-orang yang tidak memusuhi dan memerangi kita. Sebaliknya, Allah melarang mengembangkan kerjasama dengan orang-orang yang berperilaku tercela, memusuhi, dan mengusir umat Islam (QS. al-Mumtahanah [60]: 8-9.

Segi lain dari ajaran toleransi dalam Islam ialah termasuk menegakkan kedamaian dalam kehidupan antar umat beragama. Kedamaian itu akan terlaksana jika dapat diciptakan suasana saling menghormati antar umat beragama. Islam tidak mengizinkan umat Islam memburuk-burukkan agama yang dianut orang lain. Hal demikian hanya akan mengundang reaksi sebagai balasan yang ditujukan kepada agama Islam (QS. al-An’am [6]: 108). Islam juga memerintahkan memberikan perlindungan dan memberikan tempat yang aman bagi orang-orang musyrik sekalipun, apabila mereka mengembangkan sikap baik dan meminta perlindungan keamanan pada umat Islam (QS. at-Taubah [9]: 6).

Kedua, Damai. Sejalan dengan sifat Islam sebagai agama yang mengajarkan toleransi, Islam mengajarkan juga agar dalam pergaulan umat manusia diciptakan suasana yang  damai. Perdamaian inilah yang memungkinkan diciptakannya kerjasama kemanusiaan, sebagaimana isyarat QS. al-Baqarah [2]: 208 dan QS. al Anfal [8]: 61.

Ketiga, memenuhi janji. Banyak ayat al-Quran yang memerintahkan agar kaum muslimin selalu memenuhi perjanjian yang dibuat dengan siapapun, sebagaimana isyarat QS. al-Maidah [5]: 1, QS. al-Isra’ [17]: 34, dan QS. an-Nahl [16]: 91.

Demikian kuat anjuran Allah agar kaum muslimin memenuhi perjanjian yang telah dibuat dengan umat lain, sampai-sampai Islam tidak membolehkan kaum muslimin menolong umat seagamanya melawan umat lain yang mempunyai perjanjian damai dengan kaum muslimin yang dimintai pertolongan umat seagamanya itu (QS. al-Anfal [8]: 72). Jika kaum lain yang mengadakan perjanjian dengan umat Islam diketahui telah menyalahi janjinya, umat Islam harus memberitahukan kepada mereka bahwa perjanjian yang telah mereka adakan itu telah berakhir, hingga sama-sama diketahui bahwa perjanjian yang ada antara umat Islam dengan mereka benar-benar telah berakhir (QS. al-Anfal [8]: 58).

Keempat, menghormati kehormatan manusia. Landasan normatif yang dijadikan acuan tentang penghargaan Allah terhadap kemuliaan dan kehormatan manusia ditegaskan dalam QS. al-Isra’ [17]: 70, yang menegaskan kedudukan manusia sebagai makhluk yang berkehormatan. Dalam hubungan antar umat manusia, hendaknya selalu dijaga agar kehormatan kemanusiaan itu tetap tegak. Kehormatan kemanusiaan menuntut agar dalam pergaulan antar umat manusia hendaklah ditegakkan sikap saling menghormati dan tepa selira (berbuat terhadap orang lain sebagaimana diinginkan orang lain berbuat terhadap diri sendiri).

Kelima, kesatuan, persamaan, dan persaudaraan umat manusia. Islam menegaskan bahwa manusia berkedudukan sebagai makhluk yang berkehormatan menentukan adanya prinsip kesatuan umat manusia. Umat manusia berasal dari satu keturunan Adam dan Hawa. Oleh karenanya seluruh umat manusia sama derajat kemanusiaannya. Di antara sesama manusia tidak berlebih berkurang derajat kemanusiaannya. Berlebih berkurangnya derajat kemanusiaan hanya terjadi terhadap Allah, dengan kadar ketakwaannya.

Karena umat manusia berasal dari satu keturunan, pada hakikatnya di kalangan umat manusia terikat hubungan persaudaraan atau kekeluargaan kemanusiaan. (QS. an-Nisa’ [4]: 1). Prinsip kesatuan, persamaan dan persaudaraan umat manusia membendung timbulnya prasangka negatif antar bangsa, perbedaan ras, penindasan oleh suatu bangsa terhadap bangsa lain, dan penjajahan. Prinsip kesatuan, persamaan, dan persaudaraan umat manusia akan menumbuhkan rasa solidaritas kemanusiaan, kerjasama, dan tolong menolong antar umat manusia (QS. al-Maidah [5]: 2).

Keenam, memegang teguh nilai keutamaan. Al-Quran surah al-Anbiya’ [21]: 107 menyatakan bahwa misi risalah kenabian Muhamamd saw. adalah sebagai pembawa rahmah bagi seluruh alam. Salah satu segi kerahmatan dalam Islam ialah ajaran tentang akhlak mulia, sejalan dengan misi risalah kenabian yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad saw.  Artinya, “Aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan budi pekerti yang mulia”. [HR Baihaqi].

Ketujuh, kasih sayang dan menghindari kerusakan. Al-Quran Surah al-Qashash [28]: 77 mengajarkan adanya prinsip menegakkan keutamaan dan kasih sayang serta menghindari kerusakan.

Artinya, “Dan berbuat baiklah kamu sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan” (QS. Al-Qashash [28]: 77).

Kedelapan, menegakkan nilai keadilan. Keadilan merupakan salah satu tuntutan hati nurani manusia. Oleh karenanya Islam sebagai agama fithrah amat menekankan agar dalam hubungan antar manusia selalu ditegakkan nilai keadilan itu, sejalan dengan perintah Allah dalam QS. an-Nahl [16]: 90 dan  QS. al-Maidah [5]: 8.

Kesembilan, mempertahankan kebebasan. Kebebasan merupakan salah satu hak asasi manusia. Oleh karenanya kebebasan harus selalu dipertahankan. Pemaksaan kehendak dalam bentuk, cara, atau hal apapun  bertentangan dengan prinsip kebebasan. Prinsip kebebasan ini menumbuhkan asas tenggang rasa dalam hubungan antar manusia. Sejak awal diciptakan manusia sudah diberi Allah kebebasan, seperti kebebasan yang diberikan pada Adam as dan istrinya ketika berada di surga (jannah). Allah swt.  memberikan kebebasan kepada Adam dan istrinya untuk hidup di surga, makan apa saja, melakukan apa saja, kecuali satu hal yang tidak boleh dilakukan yaitu,  mendekati satu pohon. Hal ini berarti kebebasan Allah yang diberikan manusia bukan kebebasan tanpa batas, tetapi kebebasan berkehendak dengan rambu-rambu nilai dan norma Ilahiyah (QS. al-Baqarah [2]: 35).

Bersambung…

Baca Bagian Pertama di https://suaraaisyiyah.id/aspek-aspek-yang-harus-dipenuhi-dalam-membina-keluarga-sakinah/

Tinggalkan Balasan