Berita

Pemikiran Modernisasi Islam Nyai Siti Walidah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Nyai Siti Walidah atau Nyai Ahmad Dahlan terkenal dengan kepribadiannya yang lemah lembut, sederhana, pandai bergaul, percaya diri, dan berani mengungkapkan pendapat. “Ada banyak peran pemikiran yang diutarakan oleh Nyai Siti Walidah, tetapi banyak riset-riset yang mengarahkan hanya diri sisi pendidikan saja”, ujar Adib Sofia dalam webinar dengan tema “Pemikiran Modernisasi Islam Nyai Walidah Dahlan“.

Dalam webinar yang diselenggarakan oleh Santri Cendekia Forum pada Selasa (1/2) tersebut, Adib Sofia menjelaskan sebuah teori formula catur pusat yang dicetuskan oleh Nyai Siti Walidah. Teori tersebut terdiri dari empat komponen, yaitu lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan ibadah.

Oleh Nyai Siti Walidah, keempat lingkungan tersebut dijaga dan tidak dipisahkan satu sama lain, karena jika keempatnya dilakukan dengan baik, maka kepribadian seseorang juga akan baik. Adib Sofia menyampaikan bahwa berdasarkan riset, dari keempat komponen tersebut, yang paling susah terjaga di zaman sekarang adalah lingkungan ibadah, seperti rumah yang jauh dari masjid dan TPA.

Baca Juga: Nyai Ahmad Dahlan Tak Pernah Menegosiasikan Ibadah

Adib Sofia menerangkan, Nyai Siti Walidah sangat mahir dalam berorasi. “Seperti pada kampanye kongres, ada empat hal yang disampaikan, yaitu kedudukan perempuan dalam perkawinan, talak bagi perempuan, pendidikan bagi kaum perempuan, dan perkawinan usia dini. Adapun basis moral yang diulang-ulang dari pemikiran Nyai Siti Walidah adalah penolakan, seruan, dan sikap,” terangnya.

Penolakan yang dimaksud adalah menolak istilah Jawa yang berbunyi “wong wadon iku swarga nunut, nerakane katut wong lanang”. Padahal dalam Q.S. an-Nahl ayat 97 dijelaskan bahwa laki-laki dan perempuan itu sama, yang membedakan hanya derajat ketakwaannya. Ayat tersebut, kata Adib Sofia, menunjukkan bahwa modernisasi itu sudah ada dalam al-Quran.

Adib Sofia lantas menyebut bentuk modernisasi Islam ala Nyai Siti Walidah, yaitu gender quality, independency, relationship, empowerment, integrity, mass communication, dan leadership. Di akhir pemaparan materi, Adib Sofia mengatakan, “sesungguhnya ada dua penyakit yang tidak dapat disembuhkan kecuali oleh yang menderita penyakit sendiri. Kedua penyakit itu adalah kikir dan malas. Bagaimana dengan kaum milenial yang mager?” (faizah)

Related posts
Berita

Ini Tiga Visi Strategis Aisyiyah Abad Kedua

Bandung, Suara ‘Aisyiyah – Islam Berkemajuan, Gerakan Pencerahan, dan Perempuan Berkemajuan adalah tiga gerakan utama ‘Aisyiyah abad kedua. Hal ini dipaparkan oleh…
Inspirasi

Siti Hayinah di Mata Keluarga: Teguh dalam Pendirian, Bijak dalam Keputusan

Oleh: Sirajuddin Bariqi Rumah di jalan Agus Salim No. 30, Kelurahan Notoprajan, Kecamatan Ngampilan, Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta itu masih…
Inspirasi

Siti Hayinah: Sang Penggerak Organisasi

Oleh: Ahimsa W. Swadeshi/HNS Sejak berdiri pada tahun 1917, melalui tangan-tangan perempuan yang ikhlas beramal dan berdarma bakti, ‘Aisyiyah berkomitmen untuk berperan…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.