Pendekatan Komprehensif Terhadap Perilaku Seks Menyimpang

Sosial Budaya 1 Aug 2020 0 64x

“Dan Allah menciptakan kamu dari tanah Kemudian dari air mani, Kemudian dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). Dan tidak ada seorang perempuan pun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (Q.S. Fathir (35): 11)

Hasrat seksual  adalah anugerah Allah yang secara fitrah memiliki kecenderungan untuk menyalurkannya. Untuk itu, Islam memberikan ketentuan syar’i yaitu melalui perkawinan yang sah karena dengan perkawinan manusia akan terhindar dari perbuatan dosa bahkan perkawinan merupakan sunnah Rasul. Akan tetapi, fenomena yang terjadi saat ini perilaku seks menyimpang semakin marak, antara lain yang dikenal sebagai LGBT. Bagi mereka seolah tidak merasa bahwa hal itu melanggar norma agama maupun norma masyarakat, bahkan mereka menuntut pengakuan eksistensinya dalam bentuk pelegalan oleh negara dengan dalih HAM. 

Dari sudut pandang  psiko-medis, homoseksual atau lesbian saat ini tidak dikategorikan sebagai gangguan jiwa atau penyimpangan seksual tetapi merupakan fenomena manifestasi seksual manusia. Hal itu sangat bertentangan dengan sudut pandang agama, yang sudah sangat jelas menyatakan bahwa perilaku homoseksual maupun lesbian, biseks, dan transgender adalah bentuk perilaku seksual menyimpang dan bertentangan dengan fitrah kemanusiaan. Dalam ayat pembuka di atas sangat jelas bahwa manusia diciptakan bersama pasangannya, dan yang dimaksud dengan azwaj   adalah  lawan jenis yang berarti laki-laki pasangannya adalah perempuan seperti dijelaskan dalam an-Najm (53): 45.

“Dan bahwasanya dialah yang menciptakan berpasang-pasangan pria dan wanita.”

Pengaruh Lingkungan terhadap Kepribadian

Terlepas dari sebab-sebab munculnya perilaku seks menyimpang baik internal maupun eksternal fenomena di atas merupakan realitas yang apabila dibiarkan akan merugikan orang lain, merusak tatanan kehidupan, dan mempengaruhi masyarakat di sekitarnya terutama  lingkungan terdekat. Lingkungan merupakan bagian terpenting dari kehidupan manusia, karena manusia dapat berkembang dari interaksi-interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan akan berpengaruh juga pada gaya hidup seseorang karena pada dasarnya dalam kehidupan manusia selalu senang  beradaptasi dengan lingkungannya.

 Dimensi lingkungan terdiri dari lingkungan fisik, lingkungan sosial, dan lingkungan kultural yang berpengaruh pada perkembangan kepribadian manusia Faktor sosial merupakan faktor terbesar yang menjadi penyebab terjadinya perilaku menyimpang. Perilaku seks terjadi karena dorongan  kebutuhan-kebutuhan neurotis dengan dorongan non seks menuntut seseorang bertingkah laku menyimpang.  Oleh karena itu, dalam menghadapi anggota, masyarakat di sekitar terutama tetangga yang memiliki perilaku seksual menyimpang perlu dilakukan langkah-langkah berikut: 

Pertama, melakukan pendekatan untuk mendapatkan informasi tentang faktor-faktor penyebab penyimpangan perilakunya karena penyembuhan mereka memerlukan cara yang berbeda-beda. Jika penyebabnya factor fisik perlu pendekatan medis juga sehingga terdapat kejelasan identitasnya. Kalau penyebabnya adalah lingkungan sosial yang sering menyebabkan konflik batiniah tentang identitas dirinya yang kadang bertentangan dengan identitas sosial  maka diperlukan pendekatan secara psikis, sehingga orientasi seksualnya kembali normal. Hukuman yang diberikan kepada mereka tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi justru mengokohkan keberadaannya.

Kedua, melakukan pendekatan spiritual melalui konseling. Yang  harus.  dilakukan secara intens karena untuk mengubah perilakunya tidak bisa secara instan. Apalagi kalau penyebabnya kultur lingkungan.

Ketiga diperlukan adanya kelompok khusus yang melakukan pembinaan sebagai upaya rehabilitasi. kaum yang berperilaku seks menyimpang terutama dengan cara pendampingan psikoreligius. Dalam hal ini  dapat melibatkan tokoh masyarakat, dan pemuka agama, serta organisasi sosial, dan keagamaan.

Keempat. melakukan pencegahan dengan berbagai cara agar pengaruh perilaku menyimpang tidak meluas dengan membuat kegiatan-kegiatan positif seperti kajian-kajian keagamaan, seni budaya, olah raga, dan lain-lain. Selain itu, memberikan penyuluhan kepada masyarakat khususnya remaja agar dapat  menghindarinya. “Ku anfusakum wa ahlikum naran.” Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. MSN  

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2016, Rubrik Qaryah Thayyibah

 

Leave a Reply