Pendidikan Seksual dan Kesehatan Reproduksi bagi Anak

Anak Wawasan 19 Mar 2021 0 50x
Pendidikan Seksual dan Reproduksi bagi Anak

Pendidikan Seksual dan Reproduksi bagi Anak (foto: shutterstock)

Oleh: Rufaida Setyawati

Di Indonesia membicarakan masalah seksual dan reproduksi masih dianggap sesuatu yang sakral dan sekaligus tabu bagi sebagian masyarakat. Topik tentang kesehatan seksual dan reproduksi masih merupakan sesuatu yang dianggap hal pribadi dan tidak semestinya dibicarakan secara umum. Terlebih lagi membicarakakan pengenalan seksualitas dan kesehatan reproduksi pada anak usia balita. Dan hal itu  dibenarkan atau diamini masyarakat hampir di semua daerah.

Hal itu tidak terlepas dari pandangan masyarakat saat ini bahwa seksualitas adalah hubungan kelamin atau hubungan seks, padahal tidak sepenuhnya benar. Pendidikan seks menyangkut berbagai hal yang lebih luas.

***

Kondisi itu diperkuat oleh instansi-instansi yang belum mendukung diterapkannya pendidikan seksualitas dan reproduksi. Terbukti dengan ditolaknya permohonan uji materi terhadap UU Pendidikan Nasional pasal 37 ayat 1 huruf h yang menyebutkan kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah dari kelompok yang bernama SEPERLIMA pada tahun 2004 yang meminta agar ketentuan yang mengatur kurikulum pendidikan Dasar dan Menengah yang memuat pendidikan jasmani dan olahraga itu mencantumkan materi  kesehatan reproduksi. Permohonan pemohon ditolak oleh MK, karena para pemohon dianggap tidak memiliki legal standing atau kedudukan hukum.

Untuk itu, peranan keluarga, dalam hal ini Ibu, sangat penting sekali dalam melaksanakan pendidikan seksualitas dan reproduksi. Pendidikan kesehatan seksualitas dan reproduksi, mulai dari pengenalan identitas diri dan jenis kelamin, hubungan antara laki-laki dan perempuan, organ-organ reproduksi dan fungsinya serta bagaimana menjaga kesehatannya, bagaimana menjaga menghindarkan diri dari kekerasan seksual dan lain-lain. Hal-hal tersebut bila disampaikan sejak dini dipercayai dapat memberikan pemahaman anak akan kondisinya.

Pendidikan seksual dan reproduksi yang dimaksud di sini adalah mulai dikenalkan identitas diri dan anggota keluarga, mengenal anggota-anggota organ tubuh secara biologis beserta fungsinya, dapat menyebutkan ciri-ciri tubuh, dan yang tidak kalah penting adalah mengajarkan kepada anak bahwa tidak diperkenankan ada orang lain yang menyentuh organ tertentu dan organ reproduksi, apalagi dengan cara-cara yang tidak dibenarkan.

Bertahap dan Jangka Panjang

Pendidikan kesehatan seksual dan reproduksi merupakan suatu proses yang panjang yang terus menerus perlu dilakukan. Artinya, tidak ada cara ampuh dan instan untuk mengajarkannya selain dengan metode bertahap sejak dini. Kita dapat memberikan informasi awal yang mudah dicerna dan sederhana kepada anak, hal ini dapat dimulai dari bagaimana cara membersihkan/mencuci alat kelamin, lalu meningkat dengan diperkenalkannya anatomi tubuh secara biologis bersama fungsinya serta dampaknya.

Salah satu cara yang dilakukan untuk menyampaikan pendidikan kesehatan seksualitas dan reproduksi pada anak, yaitu dapat dimulai dengan mengajarkan bagaimana anak dapat membersihkan atau mencuci alat kelaminnya sendiri. Yakni dengan cara memberikan pengertian pada anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB).  Anak diupayakan agar dapat belajar mandiri dan tidak tergantung dengan orang lain.

Pendidikan tersebut secara langsung dapat mengajarkan pada anak untuk tidak sembarangan mengijinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya, karena faktanya banyak dijumpai peristiwa pelecehan seksual dilakukan oleh orang tua atau orang-orang  yang dikenalnya dalam lingkungan terdekatnya. Sedangkan cara lain yang bisa digunakan untuk mengenalkan tubuh dan ciri-ciri tubuh anak, antara lain melalui gambar/poster, lagu, dan permainan. Pemahaman pendidikan seksualitas dan reproduksi dimaksudkan agar anak memperoleh informasi yang benar dan tepat serta terukur.

Selanjutnya cara penyampaian pendidikan seksualitas dan reproduksi hendaknya tidak dengan cara yang vulgar, karena akan berdampak tidak positif terhadap anak. Di sini, melihat usia anak penting untuk diperhatikan. Artinya, ketika akan menyampaikan pendidikan seksualitas dan reproduksi perlu melihat sasaran yang dituju. Karena setelah anak diajari mengenai seksualitas, anak akan kritis dan ingin tahu tentang berbagai hal yang berkaitan dengan seksualitas. Akan tetapi bila menunda mengajarkan pendidikan seksualitas dan reproduksi hingga anak memasuki usia remaja maka hal itu dipandang  terlambat, karena di tengah kemajuan teknologi yang berkembang dengan pesat, tidaklah sulit menerima informasi dari internet maupun teman sebaya tentang informasi seksualitas yang cenderung kurang senonoh dan tidak bertanggungjawab.

Di samping itu, orang tua perlu memberikan pemahaman pada anak bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri yang harus dirawat dan dijaga dengan baik. Oleh karena itu tidak semua orang boleh menyentuh, apalagi memegang bagian tubuh yang sangat pribadi, terkecuali saat Ibu membersihkan anus setelah buang air besar atau dokter yang memeriksa bagian tubuh yang sakit. Hal itu untuk menghindari pelecehan seksual.

Bila ada orang yang menyentuh tubuh anak, orang tua perlu mengajarkan pada anak untuk berteriak dan berkata “tidak”. Ketika kita mengenalkan seksualitas dan kesehatan reproduksi kepada anak balita juga dapat diajarkan untuk mengatakan, “aku tidak suka kalau badanku dipegang atau aku tidak suka kalau tubuhku disentuh”. Maka pada saat anak terancam atau tidak merasa nyaman ia dapat berteriak  dan mengatakan “aku tidak mau”. Atau paling tidak ada keberanian untuk menolak.

Leave a Reply