Peneliti Amerika Ungkap Peran Muhammadiyah-Aisyiyah pada Masa Revolusi Indonesia

Berita 13 Nov 2021 1 281x

Peran Muhammadiyah-Aisyiyah pada Masa Revolusi IndonesiaYogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Pada masa revolusi, umat Islam memainkan peran yang strategis dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Peran itu tidak hanya dimainkan oleh masyarakat Indonesia di Jawa, tetapi juga di daerah-daerah lain di Indonesia. Peran para perempuan dalam masa revolusi Indonesia juga tidak boleh diabaikan.

Penulis buku Indonesia’s Islamic Revolution (2019) Kevin W. Fogg mengatakan, hasil penelitiannya membuktikan bahwa ada peran dan sumbangan penting dari umat Islam, termasuk dari kalangan perempuan, pada masa revolusi Indonesia. Hanya saja, ia menyayangkan, peran itu seolah dilupakan atau tidak begitu dihargai dalam penulisan sejarah Indonesia.

“Yang bikin saya heran, kok selama ini dalam penulisan sejarah Indonesia, sumbangan kaum Islam yang begitu besar, yang memoderasi banyak orang untuk ikut dalam pertempuran tidak didalami, tidak dihargai, tidak dilihat sebagai sebuah dasar yang kuat untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia dalam masa revolusi,” ujarnya dalam Pengajian Umum PP Muhammadiyah, Jumat (12/11).

Dalam pertempuran 10 November 1945, misalnya, Bung Tomo dengan lantang mengobarkan semangat umat Islam untuk melawan segala bentuk penjajahan. Menurut Kevin, sebagaimana umumnya umat Islam yang lain, Bung Tomo menjadikan Islam sebagai sumber inspirasi untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Dorongan semangat Bung Tomo kepada umat Islam, khususnya di Surabaya, dengan seruan takbir membuat semangat umat Islam secara keseluruhan –tidak hanya bagi Muhammadiyah atau NU—semakin menggelora. Apa yang dilakukan Bung Tomo itu merupakan upaya untuk membangun kesadaran umat Islam agar mempertautkan antara semangat kemerdekaan dengan ajaran agama,” tegasnya.

Baca Juga: Peran Muhammadiyah dalam Sejarah Kepahlawanan

Associate Directur California Asia Center The University Of North California itu juga melihat peran sentral Muhammadiyah pada masa revolusi Indonesia, tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga di Kalimantan, Sumatera, dan Sulawesi. Peran penting itu, menurutnya, karena Muhammadiyah merupakan organisasi yang rapih, sehingga mudah untuk mengorganisir anggotanya untuk terlibat dalam medan pertempuran.

Dalam hal ini, para Kiai dan guru agama menjadi sosok yang mengajak umat Islam untuk mempertahankan Indonesia dari cengkeraman penjajah. Dorongan untuk jihad melawan penjajah itu diiringi motivasi menjadi syahid jika tewas di medan pertempuran. “Semua pengikut Muhammadiyah merasa harus dan ingin ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan,” kata Kevin.

Secara lebih konkret, peran itu dimainkan oleh Hizbul Wathan (HW). Kevin menjelaskan, HW yang didirikan langsung oleh Kiai Ahmad Dahlan pada 1918 menjadi wadah untuk menyemai nilai-nilai agama, nasionalisme, sekaligus dapat menjadi “laskar”. Transformasi kader HW menjadi anggota laskar ini ia temukan di Sumbawa dan Kalimantan Selatan.

Fakta sejarah lain yang tidak boleh diabaikan adalah bahwa laskar yang lahir dari kepanduan HW ini tidak hanya berisi kaum laki-laki saja, tetapi juga kaum perempuan. Hal itu misalnya dapat diamati dari perjuangan kaum perempuan di Payakumbuh, Sumatera Barat. “Jadi, sumbangan perempuan, sumbangan ‘Aisyiyah itu tidak boleh ditinggalkan,” tegasnya. (sb)

One thought on “Peneliti Amerika Ungkap Peran Muhammadiyah-Aisyiyah pada Masa Revolusi Indonesia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *