Pengajian PR Aisyiyah Patemon Disambut Antusias Peserta

Berita 25 Sep 2021 0 110x

Jember, Suara ‘Aisyiyah – Jumat (24/9) merupakan jadwal kajian Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Patemon, Pakusari, Jember, Jawa Timur. Setelah beberapa pekan kami tidak berkumpul untuk kajian, ini kali kedua kami bisa mengadakan kajian secara tatap muka, dan tentunya membuat kami para ibu-ibu PRA Patemon sangat antusias menghadiri kajian, meski kondisi hujan lebat. Kajian kali ini diisi oleh Haji Wahono. Ia menjelaskan tentang ciri orang-orang beriman, salah satunya dengan memanfaatkan waktunya untuk mencari ilmu.

Wahono juga menjelaskan bahwa manusia adalah sebaik-baik ciptaan Allah. Oleh karena itu, Allah memberikan fasilitas kepada manusia agar mereka paham atas syariat yang diajarkan oleh Allah. Orang yang banyak melihat atau paham terhadap perintah Allah, jelasnya, maka Allah akan memberikan kelapangan. Hal ini sebagaimana firman Allah swt. dalam Q.S. Thaha: 124 (yang artinya), “dan barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit dan kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Menurutnya, jika manusia tidak memiliki pengetahuan agama atau berpaling dari peringatan Allah, manusia itu akan mengalami beberapa hal di dunia dan di akhirat, seperti: pertama, dijadikan hidupnya sempit. Maksudnya di sini adalah manusia itu akan sulit memecahkan setiap problem atau masalah yang dia hadapi. Ibarat orang buta, maka akan sangat sulit dalam menjalankan kehidupan dan sulit dalam mencari ilmu pengetahuan.

Baca Juga: Pengajian: Wadah Gerakan Ilmu ‘Aisyiyah

Kedua, diberikan kesulitan yang tiada berujun. Maksudnya di sini adalah manusia yang tidak mau belajar tentang agama, maka dia akan menjalani kehidupan dengan berbagai masalah yang tidak ada solusi. Dari satu masalah ke masalah lainnya.

Ketiga, jauh dari pertolongan Allah. Orang-orang yang tidak mau mempelajari ilmu agama maka dia jauh dari pertolongan Allah yang itu menyebabkan semua hal dipecahkan dengan dasar logika manusia, sehingga ke depannya bisa jadi orang tidak lagi mempedulikan halal dan haram, semua boleh dengan asas saling menghargai, dan tampak baik. Padahal yang tampak baik belum tentu baik menurut Allah, dan sebaliknya hal yang buruk belum tentu buruk menurut Allah.

Sebagai manusia, kata Wahono, yang harus menjadi dasar pegangan hidup adalah apa yang menjadi perintah Allah. (dyah ayu)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *