Pengajian Subuh PW Aisyiyah Jawa Barat: Berbisnis Sesuai Etika Islam

Berita 6 Okt 2021 0 67x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Barat, Selasa (5/10) mengadakan Pengajian Subuh Mengaji dengan mengangkat tema “Berbisnis Berdasarkan Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM)”. Pengajian yang dilakukan secara virtual ini diisi oleh Pepi Januar selaku Direktur Koperasi Pembiayaan Syari’ah.

Di awal penyampaian materinya, Pepi menjelaskan bahwa PHIWM bukan sesuatu yang sifatnya teoritis, melainkan sebuah ilmu terapan. Artinya, PHIWM bukanlah sekadar teori yang sifatnya hanya dibaca dan kemudian disampaikan kembali, tetapi lebih dari itu, yakni ilmu terapan yang harus dipahami secara utuh dan kemudian dilaksanakan atau diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Bisnis, kata Pepi, menjadi salah satu fokus dari pembahasan PHIWM. Perilaku bisnis masyarakat, menurutnya, seringkali dibarengi dengan perilaku yang tidak Islami, seperti perilaku yang tidak menunjung tinggi nilai-nilai syariat, nirkemanusiaan, dan tidak sejalan dengan nilai moralitas.

Mengenai bisnis, ia menyebutkan ada tiga prinsip yang diperintahkan dalam Islam ketika bermuamalah: pertama, obyek transaksi harus halal. Artinya halal tidak hanya zatnya, tetapi juga jalannya; kedua, adanya keridhaan semua pihak terkait; ketiga, pengelolaan aset yang amanah dan jujur.

Sementara itu, Pepi menambahkan, hal-hal yang dilarang dalam aktivitas bisnis di antaranya adalah riba, gharar, tadlis, dan berakad dengan orang-orang yang tidak cakap.

Baca Juga: Hukum Transaksi Bisnis Online

Dalam aktivitas bisnis, Pepi menegaskan kepada khususnya warga Muhammadiyah untuk tidak melakukan pemaksaan, pemerasan, pemalsuan, dan tipu muslihat. Lebih lanjut ia mengatakan, prinsip keadilan dan kejujuran menjadi pedoman dalam pelaksanaan aktivitas bisnis dengan tetap mengacu pada ketentuan kaidah dan hukum positif.

“Prinsip keadilan dan kejujuran harus menjadi pedoman dalam tata kelola keuangan di persyarikatan kita atau di dalam amal usaha kita,” ujar Pepi.

Tentang hasil yang diperoleh dari aktivitas bisnis, Pepi mengatakan, bahwa harta dari hasil kerja merupakan karunia Allah yang penggunaannya harus sesuai dengan jalan yang diperkenankan Allah. Meskipun harta itu dicari dengan jerih payah dan usaha sendiri, bukan berarti harta itu dapat dipergunakan semaunya sendiri tanpa mengindahkan orang lain. Artinya, ada hak orang lain yang ada pada harta kita, sehingga harus dibuat mekanisme agar dari harta yang kita peroleh secara langsung dipotong untuk diberikan kepada orang lain.

Menurutnya, harta itu harus dapat membawa manfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat dengan halal dan baik. Oleh karena itu, terdapat kewajiban zakat, sadaqoh, infak, wakaf, sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam ajaran Islam.

Selajutnya, ia menjelaskan, sumber harta (modal bisnis) yang diperoleh dengan cara berhutang harus dikembalikan secepatnya. Ketika harus berhutang, ia menyarankan untuk menyesuaikan dengan kemampuan untuk mengembalikannya. Peminjam yang telah mampu mengembalikan hutangnya, kata Pepi, tidak boleh menunda-nunda pembayaran hutangnya. Menurut Pepi, harta atau benda yang didapat dari pinjaman atau hutang maka hanya berwenang mengambil manfaat dari barang tersebut tanpa kewenangan untuk menyewakan, dan atau memperjualbelikan.

Adapun tuntunan Islam dalam urusan hutang piutang telah disebutkan salah satunya dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 282 (yang artinya), “hai orang-orang yang beriman apabila kalian melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan hendaklah kalian menuliskannya”. Begitu pula dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah saw. Bersabda, “siapa saja yang berhutang, sedang ia berniat tidak melunasi hutangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri”.

Sementara itu, Pepi mengatakan, aktivitas bisnis yang dilakukan, baik dijalankan oleh individu maupun persyarikatan, kadangkala sukses kadangkala gagal. Apapun kondisinya, hal itu merupakan ketentuan yang harus disyukuri dan menjadi bahan evaluasi untuk merumuskan langkah berikutnya. “Kesuksesan baik individu maupun organisasi tidak bisa dijadikan alasan untuk bersikap sombong dan ingkar akan nikmat Allah. Demikian pula kegagalan janganlah membuat diri putus asa dari rahmat Allah,” ujar Pepi.

Di akhir penjelasannya, ia menyampaikan tiga pesan: pertama, hasil dari bisnis ekonomi baik individu maupun persyarikatan harus menerapkan sistem dan tata kelola yang menutup peluang terjadinya perilaku mubazir dan boros; kedua, pengelolaan bisnis individu atau bisnis persyarikatan dibangun dengan instrumen yang mampu meniadakan ruang bagi tumbuhnya perilaku koruptif dan manipulatif. Kultur kerja yang mengedepankan sikap sidiq, amanah, fathonah, dan tabligh.

Ketiga, perilaku bisnis warga persyarikatan dan bisnis persyarikatan dituntut untuk selalu lebih baik dari periode ke periode berikutnya. Kinerja bisnis yang demikian selaras dengan pesan moral Islam yang mengajarkan agar hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. (rizka)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *