Berita

Pengajian Umum PP Muhammadiyah Kaji Akar Persoalan dan Solusi Kekerasan di Lembaga Pendidikan

Pengajian Umum PP Muhammadiyah

Jakarta, Suara ‘AisyiyahPengajian Umum PP Muhammadiyah September kali ini mengangkat tema “Kekerasan dalam Pendidikan: Akar Masalah dan Solusinya”. Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti menjelaskan bahwa tema ini dipilih karena akhir-akhir ini marak terjadi kekerasan di lembaga pendidikan.

Menurutnya, jenis kekerasan yang terjadi beragam, seperti perundungan, kekerasan seksual, dan sebagainya. Akan tetapi, yang jelas, sebagian besar korbannya adalah para peserta didik. Tak pelak, menurut Mu’ti, salah satu sebab utama terjadinya kekerasan adalah adanya relasi kuasa (power relation).

Mu’ti tidak sedang melakukan generalisasi akar persoalan. Ia sadar bahwa akar masalah dari kekerasan di lembaga pendidikan sangat kompleks. Meski begitu, berangkat dari kasus-kasus yang terjadi, terutama yang dialami perempuan dan anak-anak, nyata jelas ada relasi kuasa yang timpang antara pelaku dan korban.

Selain faktor relasi kuasa, prestasi akademik juga turut menyumbang maraknya kekerasan di lembaga pendidikan. Dalam hal ini, prestasi akademik menjadi pemicu terjadinya perundungan. “Sebagian lagi disebabkan oleh faktor visi atau pandangan tentang pendidikan,” ungkap Mu’ti.

Baca Juga: Mengapa Pendidikan Kesehatan Reproduksi Penting?

Tidak sedikit pelaku kekerasan yang berasal dari kalangan guru/dosen berpandangan bahwa kesalahan yang dilakukan oleh peserta didik harus dihukum dengan hukuman fisik. Pandangan seperti inilah, menurut Mu’ti, yang perlu diperbaiki agar kekerasan di lembaga pendidikan dapat diminimalisir.

Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Rita Pranawati menegaskan bahwa wajib hukumnya memenuhi hak anak. Salah satu caranya adalah dengan tidak melakukan segala bentuk diskriminasi dan/atau kekerasan pada mereka. “Sebenarnya negara kita sudah cukum memiliki banyak aturan terkait perlindungan anak,” kata dia.

Di dalam UUD 1945 Pasal 28 B disebutkan, “hak seorang anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi”. Menurut Rita, pasal tersebut semestinya sudah cukup menjadi landasan agar kita tidak melakukan kekerasan dan diksriminasi pada anak. Apalagi jika ditambah beberapa pasal yang lebih spesifik. (sb)

Related posts
Berita

Peringati 95 Tahun Sumpah Pemuda, Pengajian Umum PP Muhammadiyah Bahas Reinvensi Peran Muhammadiyah

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Sumpah Pemuda sebagai tonggak penting dalam sejarah bangsa, yang tentu saja memiliki ruang untuk direvitalisasi oleh generasi masa…
Berita

Jelang Tahun Baru 1445 Hijriah, PP Muhammadiyah Gaungkan Spirit Hijrah yang Berkemajuan

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Siti Syamsiyatun, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah mengatakan bahwa maraknya gerakan hijrah di satu…
Berita

Syamsul Anwar Ajak Umat Islam Hijrah Menuju Kehidupan yang Berkemajuan

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Menjelang tahun baru 1445 Hijriah, PP Muhammadiyah mengadakan Pengajian Umum Bulanan, Jumat (14/7). Mengangkat tema “Hijrah yang Berkemajuan”,…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *