Pengajian: Wadah Gerakan Ilmu ‘Aisyiyah

Liputan 27 Mei 2021 0 78x
logo aisyiyah

logo aisyiyah

Mengutip pernyataan Mitsuo Nakamura dalam buku Bulan Sabit Terbit di Atas Pohon Beringin, Siti Syamsiyatun mengatakan bahwa salah satu yang membedakan pendidikan milik Muhammadiyah dengan yang lain adalah pemaknaan atas istilah “berkemajuan”. Menurutnya, berkemajuan oleh para pimpinan Muhammadiyah awal dimaknai sebagai memerdekakan pikiran.

Syamsiyatun menyampaikan ada dua hal yang membuktikan adanya gerakan keilmuan di balik pendirian ‘Aisyiyah. Pertama, pada masa itu, dalam hal agama masyarakat Muslim sangat fatalis, manut apa adanya, tidak punya keinginan untuk tahu lebih banyak, terutama pengetahuan tentang al-Quran dan implementasinya.

Di tengah keadaan tersebut, Kiai Ahmad Dahlan menegaskan bahwa yang berhak untuk tahu tentang agama, termasuk memberikan service (layanan) kepada masyarakat bukan hanya laki-laki saja, tetapi juga perempuan. Kiai Dahlan berusaha mendobrak sikap fatalis dan taqlid masyarakat. “Bahwa beragama itu harus dengan ilmu. Tidak sekadar taqlid saja, apalagi taqlid buta. Paling tidak ya jadi muttabi’; tahu alasan di balik tindakan yang dilakukan,” ujar Dosen UIN Sunan Kalijaga itu.

Baca Juga

Noordjannah Djohantini: ‘Aisyiyah Digerakkan oleh Perempuan Muslim Berpengetahuan Luas dan Berpikiran Maju

Kedua, pemilihan nama ‘Aisyiyah –yang merupakan bentuk penisbatan diri pada ‘Aisyah ra.—bukan tanpa maksud dan alasan. Dari beberapa nama yang diusulkan, nama ‘Aisyah dipilih karena beliau radiyallahu ‘anha merupakan perempuan yang cerdas, menjadi tempat bertanya bagi para sahabat, juga banyak meriwayatkan hadis.

Dua hal itu, lanjut pimpinan LPPA PPA ini, menunjukkan bahwa sejak awal ‘Aisyiyah hendak membangun image bahwa perempuan itu harus berpengetahuan luas, cinta ilmu, jujur, punya integritas, dan tidak suka membuat kabar bohong. Selain itu, bagi ‘Aisyiyah, pengetahuan tidak terbatas pada ilmu agama saja, tetapi juga ilmu-ilmu umum.

“Di ‘Aisyiyah ini, ilmu pengetahuan itu harus bermacam-macam. Bahwa kita memahami persoalan itu jangan hanya secara bayani saja, tetapi juga burhani dan irfani. Kita harus mendemonstrasikan ayat-ayat Tuhan yang kauniyah sebagai sesuatu yang berhubungan dengan yang qauliyah. Keduanya saling berhubungan. Dan selain mengoptimalkan akal, manusia juga punya fuad dan qalb. Ini semua harus diaktifkan,” jelas Syamsiyatun.

Mendobrak Stigma Negatif

Syamsiyatun menceriterakan perjuangan berat yang dialami ibunya ketika sekolah di Mu’allimat. Alih-alih dipuji, sebaliknya, malah diejek. Saat itu, masyarakat masih punya stigma bahwa perempuan pembelajar itu seperti wong londo (orang Belanda atau penjajah). “Olok-olok dari masyarakat itu masih kuat,” paparnya.

Masih mengguritanya stigma negatif masyarakat terhadap perempuan pembelajar bukan berarti usaha Kiai Dahlan tidak berhasil. Yang harus disadari adalah bahwa perjuangan melanjutkan cita-cita Kiai Dahlan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi, jelas Syamsiyatun, perempuan punya beban untuk mendobrak dua stigma: posisinya sebagai kaum inlander (pra-kemerdekaan) dan status keperempuanannya.

Baca Juga

Sejarah ‘Aisyiyah: Kelahiran Perempuan Muslim Berkemajuan

Stigma itulah yang menurut Syamsiyatun membuat perempuan relatif terlambat menginjakkan kakinya di perguruan-perguruan tinggi. Ketika kader ‘Aisyiyah, seperti Siti Baroroh Baried (1925 – 1999) dapat kuliah bahkan sampai ke luar negeri, itu menunjukkan bahwa beliau punya pendirian dan semangat menuntut ilmu yang sangat kuat.

Meski berat dan berliku, cita-cita Kiai Dahlan menghasilkan buah yang manis. Pencapaian akademik Siti Baroroh Baried sebagai perempuan pertama yang meraih gelar guru besar merupakan salah satu bukti keberhasilan itu.

Membangun Kultur Keilmuan

Perlahan tetapi pasti, pintu yang mulanya tertutup rapat itu mulai terbuka. Saat ini, kader ‘Aisyiyah sudah banyak yang melebarkan sayapnya ke penjuru dunia: kuliah di berbagai universitas ternama dunia, mendalami disiplin ilmu yang beragam, dan bergaul dengan banyak orang.

Selain mempunyai implikasi personal, pencapaian tersebut juga berdampak positif bagi keberlangsungan, persebaran, dan pengembangan organisasi. “Begitu mereka kuliah, bertemu dengan banyak orang dan melihat dunia lebih luas, wawasan itu kemudian dibawa masuk ke ‘Aisyiyah,” ucap Syamsiyatun.

Baca Juga

Salmah Orbayinah: Pengajian Ramadhan sebagai Momen Peneguhan Ideologi dan Penajaman Aktualisasi Gerakan Praksis ‘Aisyiyah

Menurutnya, pada masa awal perkembangan, pendidikan informal seperti pengajian memang lebih dimassifkan dalam membangun kultur keilmuan di ‘Aisyiyah. Hal ini mengingat pendidikan formal jumlahnya masih sangat terbatas. Meski begitu, bahkan ketika saat ini pendidikan formal yang dimiliki Muhammadiyah-‘Aisyiyah sudah menjamur di berbagai daerah, pengajian masih menempati posisi yang tak tergantikan. Ini menegaskan bahwa pengajian merupakan ruh organisasi.

Pengajian di ‘Aisyiyah biasanya mengangkat tema-tema yang dibutuhkan masyarakat dan bersifat aktual, sehingga dengan mengikuti pengajian itu, masyarakat mendapat pencerahan atau jawaban atas persoalan yang melilitnya. Pengajian adalah wadah silaturahim sekaligus  peningkatan wawasan keilmuan sehingga anggota ‘Aisyiyah secara khusus atau masyarakat secara umum mampu merespons tantangan maupun perubahan yang terjadi di sekitar mereka secara cerdas dan tepat. (siraj)

Tinggalkan Balasan