Wawasan

Pentingnya Literasi Digital bagi Keluarga

Literasi Digital

Literasi DigitalSalah satu ciri kemajuan teknologi era industri 4.0 adalah perkembangan teknologi telekomunikasi dan persebaran informasi yang sangat cepat. Kemajuan teknologi membuat disrupsi pada tatanan kehidupan sehari-hari. Mulai dari sistem otomisasi yang mengancam nasib banyak orang, sampai bagaimana masyarakat menyerap dan membagikan berbagai infomasi. Saat ini, diperkirakan lebih dari setengah penduduk di Indonesia telah menyentuh internet dan akan semakin meningkat seiring berjalannya waktu.

Nur Ika Fatmawati dalam tulisannya “Literasi Digital, Mendidik Anak di Era Digital bagi Orang Tua Milenial” menerangkan, perkembangan teknologi yang sangat cepat juga turut mendisrupsi kehidupan keluarga. Orang tua dan anak turut menjadi pengguna media digital dari berbagai bentuk, mulai dari smartphone, laptop, tablet, game online, dan media sosial. Kondisi tersebut tak ayal malah membuat semakin intim justru malah membuat hubungan menjadi renggang karena lebih tertarik dengan perangkat digital masing-masing.

Lebih parahnya, perilaku ini dapat sampai membuat orang tua dan menjadi kecanduan dengan gawai mereka. Oleh karenanya, dibutuhkan cara mendidik anak dengan metode yang berbeda dari biasanya. Di sinilah pentingnya memahami mengenai literasi digital, baik untuk anak maupun orang tua supaya kehidupan keluarga tetap harmonis. Dilansir dari edukasi.kompas dan Association American Pediatrics, berikut tahapan yang harus dipahami mengenai literasi digital.

Pertama, meningkatkan pengetahuan orang tua. Di era teknologi yang semakin maju ini dimana, informasi dapat dari berbagai macam sumber. Orang tua dituntut untuk mengetahui dan memahami arus perkembangan zaman. Jika tidak dilakukan, maka orang tua akan kesulitan untuk mendidik anak dan tidak dapat melindungi anak dari dampak negatif penggunaan teknolgi digital.

Sebelum mendidik anak, orang tua harusnya tahu lebih dahulu mengenai situs-situs yang bermanfaat dan mengedukasi. Tidak hanya itu, orang tua juga harus tahu mana situs yang memiliki efek negatif. Dengan begitu orang tua bisa memfilter mana situs yang baik untuk pedidikan anak dan juga mengawasi anak dalam berinternet.

Kedua, aturan penggunaan gawai. Orang tua harus menerapkan aturan bermain dalam penggunaan gawai sewaktu di rumah. Misalnya, dilarang bermain hp sewaktu makan, atau pemberian jam maksimal waktu bermain terlebih saat waktu jam belajar anak. Sebelum memberikan aturan, alangkah lebih baik jika orang tua mencontohkannya terlebih dahulu. Seringkali ada orang tua menerapkan aturan ketat mengenai penggunaan gawai untuk anaknya, namun justru malah orang tua tidak mencontohkan sesuai dengan aturan yang diterapkan. Hal tersebut akan membuat anak menjadi kurang respect dengan orang tuanya.

Baca Juga: Nilai Al-Quran dan Logika Media Sosial

Ketiga, memberikan keragaman aktivitas rekreasi. Awal mula anak mulai kecanduan gawai seringkali karena aktivitas rekreasi yang diberikan oleh orang tua ke anak, seperti game online, video, dll. Untuk mencegahnya, orang tua bisa mengganti atau memberikan inovasi lain selain dari gawai untuk memenuhi kebutuhan rekreasinya. Dengan adanya aktivitas rekreasi yang bermacam-macam seperti olahraga, jalan-jalan, permainan edukasi, maka teknologi digital bukan lagi satu-satunya pilihan hiburan anak.

Keempat, mengajarkan aturan dan norma. Sebenarnya berinteraksi di dunia nyata dan dunia maya itu sama saja, hanya berbeda platform-nya saja. Memang disayangkan, dalam dunia maya memungkinkan penggunanya untuk bersembunyi dan menyamarkan identitasnya (anonymous). Seringkali kondisi tersebut dimanfaatkan untuk kegiatan yang melanggar aturan dan norma tanpa takut ketahuan.

Caci maki, ujaran kebencian, penipuan, tindak krimanal, kata-kata kasar sering kita lihat di media sosial banyak dilakukan oleh akun yang tidak jelas identitasnya. Untuk menanggulangi masalah tersebut, pemerintah sudah membuat aturan melalui UU ITE.

Dalam lingkungan keluarga, orang tua juga harus turut mengedukasi anak mengenai norma kesopanan dan sosial agar anak dapat menggunakan layanan teknologi digital yang ada dengan bijak.

Kelima, penggunaan media digital tidak harus selalu sendiri. Orang tua bisa mengajak anak melihat dan bermain bersama. Hal tersebut dapat mendorong terciptanya sportifitas dan juga interaksi sosial secara online.

Keenam, Memahami pentingnya berinteraksi dan komunikasi langsung di dunia nyata. Sempatkan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan anak, karena untuk menumbuhkan aspek kebahasaan anak. Manfaatkan teknologi digital seperti video call untuk bertinteraksi dengannya. Ini untuk mengajarkan penggunaan gawai tidak hanya untuk kegiatan pasif samata, melainkan juga berguna untuk berkomunikasi dan bersosial dengan orang.

Ketujuh, tidak menggunakan teknologi digital ini sebagai obat penenang anak ketika rewel. Memang metode ini terbukti ampuh dan efektif untuk mengatasi hal tersebut. Terlalu sering memberikan screen time kepadanya akan menimbulkan banyak efek negatif kepadanya, selain itu, orang tua juga perlu mengajarkan anak untuk mengatasi dan mengontrol emosinya.

Itu tadi langkah-langkah untuk menanamkan pemahaman literasi digital pada anak. Banyak metode lain yang dapat dilakukan baik dari pihak internal keluarga, yakni orang tua sebagai pemimpin dalam keluarga ataupun pihak eksternal seperti pemerintag dan masyarakat.

Tentunya, tujuan utama dari pemahaman ini agar masyarakat di Indonesia dapat menjadi masyarakat beradab, mempunyai nilai dan tata krama yang baik, dan beretika baik di dunia maya ataupun di dunia nyata.

Teknik pengasuhan parenting 4.0 dapat diterapkan sebagai metode baru dalam proses pengasuhan anak. Memang mendidik anak di era modern seperti ini tidaklah mudah, dibutuhkan kesabaran ekstra dalam mendidiknya, disisi lain orang tua juga harus mengikuti dan memahami arus perkembangan teknologi. Allah sudah mempercayai dan memberikan Amanah anak kepada orang tua, oleh karena itu harus dijaga, dibimbing, dan merawatnya dengan baik. (miqdad)

Related posts
Konsultasi Keluarga

Strategi Mengelola Hubungan dengan Anak Tiri

Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh Kak ‘Aisy yang saya hormati. Saya seorang perempuan lajang berusia di atas 30 tahun. Saya berencana menikah dengan…
Politik dan Hukum

Peran Keluarga dalam Pendidikan Politik

Oleh: Susilaningsih Kuntowijoyo Tahun 2024 merupakan tahun politik karena pada tanggal 14 Februari 2024 akan diadakan pemilihan presiden dan wakil presiden (Pilpres)…
Keluarga Sakinah

Pengasuhan dan Generasi Anti Perundungan

Oleh: Elli Nur Hayati* Belakangan kita banyak mendengar dan melihat, baik secara langsung maupun tidak langsung, perundungan yang dilakukan terhadap seseorang yang…

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *