Kesehatan

Pentingnya Menjaga Kesehatan Jiwa Mahasiswa

mental health
mental health

mental health (foto: unsplash/gadiel-lazcano)

Oleh: Ratna Yunita Setiyani Subardjo*

Maraknya kasus bullying, kekerasan, dan bunuh diri yang dilakukan oleh mahasiswa di Indonesia akhir-akhir ini membuat prihatin dan miris. Hal ini juga menjadi perbincangan hangat masyarakat. Dalam setengah tahun terakhir (Juni-Juli 2023), data dari Polri menyebutkan bahwa tercatat sebanyak 640 kasus bunuh diri yang ada. Periode yang sama di tahun sebelumnya tercatat 486 kasus terjadi. Artinya Indonesia mengalami 31,7% kenaikan kasus bunuh diri dengan puncak kenaikan pada bulan Juni 2023.

Sementara itu, Asosiasi Bunuh Diri Indonesia menyebutkan bahwa Indonesia darurat kasus bunuh diri dengan kenaikan sebesar 303% sejak tahun 2020. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, di antaranya yaitu faktor adaptasi, genetika, keluarga, pertemanan, gaya hidup, sosial, dan berbagai faktor lainnya.

Faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi mahasiswa secara positif maupun negatif. Akan tetapi, masih banyak mahasiswa yang tidak menyadari dampak positif dan negatif yang ditimbulkan dari faktor-faktor tersebut sehingga mereka lupa akan kesehatan mental mereka. Mereka lupa untuk berfokus pada kesehatan jiwa mereka karena mereka hanya berfokus pada tugas, organisasi, jadwal kuliah, serta tuntutan-tuntutan yang diterima dari orang-orang di sekitarnya dalam pemaknaan diri mereka.

Regulasi diri dalam belajar yang baik akan membantu mahasiswa untuk memenuhi tuntutan-tuntutan yang dihadapinya. Regulasi diri adalah kemampuan seseorang untuk melakukan kontrol terhadap emosi dan perilakunya di situasi apapun secara mandiri.

Masalah kesehatan jiwa di Indonesia pada masa ini masih tergolong sangat tinggi, terutama pada kalangan remaja. Mahasiswa adalah bagian dari remaja. Di periode ini, mereka masih memiliki emosi yang tidak stabil dan belum memiliki kemampuan yang baik untuk memecahkan masalah yang ada.

Selain itu, adanya ego aku sebagai bagian dari pencarian jati diri menjadi salah satu faktor yang ikut bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan jiwa di kalangan remaja. Sebab, dalih pencarian jati diri membuat remaja sering kurang mempertimbangkan risiko dari pilihan yang mereka lakukan dalam mencari siapa aku dan menunjukkan akunya.

Masa remaja merupakan masa di mana mereka sering mengalami stres, terutama pada peristiwa-peristiwa tertentu dalam hidup mereka. Remaja dianggap sebagai golongan yang rentan untuk mengalami gangguan jiwa. Oleh karena itu, remaja perlu mendapatkan perhatian lebih karena remaja merupakan aset negara dan generasi penerus bangsa.

Adaptasi Lingkungan

Kesehatan jiwa memiliki peranan yang sangat penting bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan perkuliahannya yang baru. Tentunya kehidupan di lingkungan kampus dan sekolah jauh berbeda. Mahasiswa baru akan menemukan berbagai macam pergaulan yang sangat beragam serta akan menemukan metode pembelajaran yang berbeda dibanding masa sekolah.

Oleh karena itu, secara tidak langsung mahasiswa baru dituntut untuk bisa beradaptasi terhadap lingkungan barunya. Selain mahasiswa baru, mahasiswa lama pun mengalami beberapa dampak yang diakibatkan oleh kuliah daring, terutama bagi mahasiswa yang mengikuti organisasi.

Dengan adanya kuliah daring, maka secara otomatis tugas-tugas perkuliahan pun akan semakin banyak. Dan sekarang, mereka perlu menyesuaikan diri kembali dengan model pembelajaran yang menuntut kehadiran mereka di kelas. Tentu ini juga akan menyita energi, emosi, tenaga, dan membutuhkan manajemen diri yang seimbang.

Namun sayangnya, banyak mahasiswa yang tidak peduli dengan kesehatan mental mereka. Mahasiswa tergolong masih pada usia yang belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan emosi. Bahkan terkadang terdapat mahasiswa yang tidak memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah karena adanya kebiasaan yang dibawa dari rumah atau pola asuh yang membuat remaja menjadi pribadi bergantung.

Sejalan dengan karakteristik dari generasi Z yang mudah dalam mendapatkan keinginan sebagai bagian dari gaya hdup instan dan modern. Sehingga pola berperilaku sabar, menunggu proses dan menerima apa yang terjadi sebagai bagian dari pembelajaran dalam hidup menjadi sebuah PR besar di kalangan generasi Z.

Baca Juga: Pengasuhan dan Generasi Anti Perundungan

Berkaitan dengan ini, mahasiswa membutuhkan kesehatan mental yang baik supaya mampu mengendalikan emosi dan memecahkan setiap masalah yang mereka hadapi. Salah satu cara untuk menjaga kesehatan jiwa adalah dengan menjaga pola hidup. Perlu menjaga pola makan, pola tidur, dan olahraga yang cukup.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah menjaga pola manajemen diri dalam menghadapi krisis dan masalah hidup sehari-hari sebagai bagian dari proses bertumbuh layaknya fisik yang perlu asupan dan gizi. Demikian juga dengan kondisi jiwa, ia juga memerlukan asupan bergizi agar dapat tumbuh dengan mindset dengan kepribadian sehat. Sebab kesehatan jiwa sama pentingnya dengan Kesehatan fisik.

Managemen Waktu

Selain itu, di tengah banyaknya tugas dan mengikuti berbagai organisasi, mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam managemen waktu dan diri. Seringkali hanya karena tugas dan banyaknya aktivitas membuat mahasiswa justru merasa berat menjalani hari-hari yang kemudian berakhir dengan keputusasaan dan akhirnya mulai menarik diri, merasa masalah tak kunjung selesai, hingga mengalami kecemasan dan berakhir dengan jalan pintas, mulai dari memikirkan ide bunuh diri, percobaan bunuh diri, hingga memutuskan untuk bunuh diri.

Sebenarnya, orang yang melakukan bunuh diri bukan ingin menghilangkan nyawa dirinya, namun ingin menyelesaikan masalahnya. Ia merasa dengan mengakhiri nyawa maka berakhir juga masalah hidupnya. Lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh terhadap kesehatan jiwa mahasiswa.

Oleh karena itu, mahasiswa perlu menciptakan lingkungan dan relasi yang positif. Relasi yang mendukung dan saling peduli akan membuat mahasiswa merasa tenteram sehingga akan menjaga kesehatan mental mereka. Menjadi mahasiswa harus tangguh dan mandiri. Saling peduli dan meningkatkan rasa empati satu sama lain. Sehingga akan tercipta lingkungan yang baik untuk kesehatan mental. Terlebih bagi mereka yang hidup kos jauh dari sanak saudara, tentu ini akan menjadi tambahan amunisi bagi tumbuhnya jiwa yang sehat.

Data yang dirilis oleh LDP MCCC PP Muhammadiyah (Layanan Dukungan Psikososial Muhammadiyah Covid-19 Command Center) dari kurun waktu Maret 2020 – Agustus 2021 menyebutkan bahwa dari sekitar 865 kasus yang masuk dan melakukan konsultasi online, terdapat sekitar 170 kasus dengan ide bunuh diri dan 56  di antaranya sudah melakukan upaya bunuh diri termasuk diantaranya WNA yang berstatus sebagai mahasiswa di salah satu PT di Indonesia.

Data terbaru yang dirilis oleh WHO saat pandemi Covid-19 menunjukkan adanya penambahan kasus gangguan kesehatan jiwa secara signifikan di sejumlah negara. Menurut data dari situs resmi WHO, mereka melakukan survei di 130 negara. Hasilnya, ada dampak buruk Covid-19 pada akses layanan kesehatan mental.

Hasil survei WHO menyatakan lebih dari 60% melaporkan gangguan layanan kesehatan mental bagi orang-orang yang rentan, termasuk anak-anak dan remaja (70%); orang dewasa yang lebih tua (70%), dan wanita yang membutuhkan layanan antenatal atau postnatal (61%). Sekitar 75% negara melaporkan setidaknya sebagian gangguan terjadi di sekolah (78%), dan tempat kerja layanan kesehatan mental (75%).

Betapa ini menjadi PR kita bersama untuk lebih peduli, melakukan sesuatu, baik untuk diri dan keluarga kita maupun orang lain di sekitar kita yang ikut menjadi tanggung jawab kita bersama. Kita juga punya tanggung jawab bersama untuk menurunkan angka pertambahan bunuh diri yang semakin mengkhawatirkan. Terutama kita sebagai bagian dari komunitas PT di lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta, kita ada di daerah rentan bunuh diri, yang tentunya perlu menjadi alarm bagi kita untuk bersama mencegah aksi bunuh diri.

4 Kunci Resiliensi

Mari bergandengan tangan bersama, sebagaimana kita mengetahui dampak yang diberikan oleh perubahan kesehatan mental yang sangat patut diwaspadai. Beberapa tips ini mungkin bisa membantu untuk mengurangi permasalahn kesehatan jiwa baik secara individu maupun kelompok.

Dalam menjaga kesehatan jiwa kita memerlukan resiliensi. Resiliensi adalah daya tahan kita terhadap stres. Ada 4 kunci penjaga resiliensi kita, yaitu “I am, I have, I can, dan I do”.

Pertama, I am. Maknanya adalah kita mengerti, memahami apa saja kelebihan dan kekurangan diri kita, kita tahu kekuatan dan kelemahan kita, kita paham jika terjadi sesuatu terhadap diri saya seperti ini maka itu berarti saya perlu bagaimana.

Mereka yang kuat dalam I am akan dapat mengelola masalahnya dengan kekuatan dirinya. Namun terkadang, kita merasa bahwa diri kita terlalu banyak mendapat masalah yang berat pada saat bersamaan, sehingga kita perlu penopang lain untuk membantu kita bertahan. Maka kita memerlukan kunci resiliensi kedua, yaitu I have.

Baca Juga: Peduli Kesehatan Jiwa, Tanamkan Nilai Spiritual

Kedua, I have. Maknanya adalah saya punya. Saya punya siapa? Secara pendekatan spiritual, ketahui hal mana saja yang dapat kita kendalikan dan tidak dapat kita kendalikan. Dengan mengetahui hal tersebut dan selalu bersandar kepada Sang Maha Kuasa membuat hati lebih tenang. Namun kadang saat kita dalam kondisi tertekan oleh masalah, kita perlu figur lanagsung yang nyata dapat kita lihat dan kita ajak berkomunikasi face to face dengan bahasa yang kita pahami.

Sehingga, saya punya bisa dimaknai dengan support system; keluarga, teman, komunitas atau dosen dan orang-orang di sekitar yang dapat mmeberikan dukungan dan menerima kondisi kita, senantiasa hadir saat kita perlukan. Jika dalam kondisi tertentu kita memerlukan hal yang lebih dalam dan serius, maka support system dapat diartikan sebagai tenaga profesional.

Ketiga, I can. I can adalah satu motivasi yang kita perlukan untuk membuat kita bersemangat. Ia seperti petunjuk kita untuk mencapai masa depan kita, yang dapat berupa harapan, cita dan angan untuk maju.

Kita perlu memiliki harapan dan cita-cita di dalam pikiran kita untuk membuat kita merasa bahwa kita akan selalu bersemangat menyambut hari esok. Namun I can saja tidak cukup karena mimpi dan cita-cita mesti kita lakukan, karenanya kunci keempat resiliensi adalah I do.

Keempat, I do. Yaitu melakukan sesuatu untuk setiap angan cita harapan dan mimpi kita.  Sebagai seorang mahasiswa yang bermimpi lulus tepat waktu, dengan jumlah IPK tertentu, tentu membutuhkan aksi atau pelaksanaan. Maka pelaksanaan tersebut dapat berupa; berangkat kuliah, mengikuti kuliah dengan baik dan mengerjakan tugas serta mengerjakan ujian dengan maksimal menjadi bagian dari usaha bertumbuh amenyehatkan jiwa.

Salah satu hal lainnya yang dapat dilakukan adalah menjaga kesehatan fisik kita dengan olahraga teratur, usahakan untuk melakukan olahraga tiap harinya sesuai dengan kebutuhan tubuh masing masing. Berolahraga terbukti menurunkan jumlah hormon kortisol yang menjadi pemicu stres dalam tubuh.

Penting bagi kita semua untuk sama sama menyadari bahwa menjadi mahasiswa yang tangguh dan sehat jiwa mutlak adanya sebab mahasiswa adalah garda depan bangsa menyongsong masa depan Indonesia. Di tangan merekalah kemajuan bangsa ini di masa depan dititipkan. Saatnya satu sama lain saling peduli dan meningkatkan rasa empati. Dengan beberapa cara di atas besar harapannya bisa membantu untuk tetap menjaga kondisi kesehatan jiwa mahasiswa.

*Dosen Psikologi Unisa Yogyakarta, Student PhD program di Universiti Kebangsaan Malaysia, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi PCIA Malaysia, Penulis 24 buku, Penerima Gender Championship 2021, Ketua LDP MCCC PP Muhammadiyah, Pembina Komunitas Sobat Pendengar yaitu sebuah wadah bagi remaja dengan suicide cases, dll.

Related posts
Muda

Tanda-Tanda Kamu Mengalami Burn Out

Oleh: Dede Dwi Kurniasih Kalau hari ini Sobat Muda sedang merasa tidak punya motivasi untuk melakukan sesuatu, selalu rebahan, dan terus menghindari…
Parenting

Mengolah Stres Pada Anak

Dewasa ini media sosial sering dihiasi dengan postingan-postingan bernuansa sendu, mulai dari masalah putus hubungan, masalah pekerjaan, hingga masalah perceraian. Postingan yang…
Wawasan

Bagaimana Mendampingi Remaja Mengelola Stres?

Oleh: Lucia Peppy Novianti* “Ahhh… Kenapa tugasnya banyak sekali? Sekolah dari rumah malah bikin aku tambah pusing aja rasanya!” “Kenapa sih ga…

7 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *