Penulisan Sejarah Muhammadiyah melalui Pendekatan Family History Perlu Dimasifkan

Berita 27 Nov 2021 0 78x

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Dengan potensi Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang dimiliki, Mutiah Amini menyayangkan bahwa hanya ada sedikit di antaranya yang punya Program Studi Sejarah. “Kalau jumlah ini bisa kita diperbesar, ini menjadi peluang kita mendapatkan historiografi Muhammadiyah secara lebih besar,” ujarnya dalam forum Kongres Sejarawan Muhammadiyah Pertama, Sabtu (27/11).

Dosen Universitas Gadjah Mada itu menyampaikan materi dengan judul “Peluang Mengembangkan Family History dalam Penulisan Sejarah Muhammadiyah”. Penulisan sejarah family history ini penting sebagai alternatif praktis, mengingat masih minim karya historiografi Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang bisa ditemukan.

Dalam konteks itulah, menurut Mutiah, apa yang dilakukan Muhammadiyah melalui kongres ini adalah bentuk kesadaran baru penulisan sejarah Muhammadiyah. “Ini menjadi modal awal untuk kita menulis sejarah Muhammadiyah secara lebih komprehensif,” katanya.

Pertanyaannya, lanjut Mutiah, di mana porsi penulisan family history? Padahal historiografi Muhammadiyah akan lebih kaya sekiranya porsi penulisan family history lebih diperbanyak.

Untuk menulis sejarah Muhammadiyah melalui dirinya sendiri, setidaknya ada 4 (empat) hal yang perlu dijadikan fokus, yakni: (a) perubahan substansi di dalam rekonstruksi masa lalu Muhammadiyah melalui pendekatan family history; (b) mayoritas anggota Muhammadiyah mempunyai koneksi erat dengan aktivis Muhammadiyah; (c) pendekatan family history sudah banyak dipergunakan di dalam tradisi historiografi; (d) melalui family history, aspek-aspek personal di dalam pengembangan Muhammadiyah dapat dilihat.

Baca Juga: Tantangan dan Peluang Penulisan Sejarah Aisyiyah

Selanjutnya, pola penulisan family history Muhammadiyah adalah sebagai berikut: pertama, melihat relasi Muhammadiyah dengan organisasi otonomnya dalam kerangka sebagai sebuah keluarga. Jika hal ini dilakukan, terang Mutiah, maka ada dua pertanyaan mendasar yang bisa menjadi acuan, yaitu (a) bagaimana relasi sosio-kultural antara Muh dengan organisasi otonom terbangun, dan (b) bagaimana implikasinya di dalam mengembangkan organisasi.

Kedua, menempatkan sejarah keluarga sebagai satu hubungan relasi internal antarwarga Muhammadiyah. “Artinya, jika karya sejarah sebelumnya telah menulis berbagai hal tentang perkembangan Muhammadiyah di lingkup lokal dan bagaimana figur-figur penting kemudian beraktivitas, maka menjadi penting pula untuk melihat bagaimana relasi internal tentang kemuhammadiyahan ini tumbuh di dalam diri keluarga/warga Muhammadiyah,” terangnya.

Mutiah menerangkan, sejarah Muhammadiyah membuktikan bahwa ada relasi atau keterkaitan antar satu anggota dengan anggota Muhammadiyah-‘Aisyiyah lain.

Mengenai potensi pengembangan penulisan family history, berikut sumber data yang bisa digunakan. Pertama, data pengembangan cabang. Ketika Muhammadiyah bisa berkemang dengan cepat pada waktu yang singkat, artinya peluang untuk mengembangkan family history menjadi satu alternatif yang bisa dikembangkan bersama.

Kedua, perkembangan pendidikan. Mutiah mengamati, salah satu alasan orang masuk ke lembaga pendidikan tak lain adalah karena ada relasi keluarga. Ketiga, ideologi keluarga. Muhammadiyah-‘Aisyiyah selalu menekankan terbangunnya kehidupan keluarga yang sakinah, termasuk jugamenjalin kekerabatan di antara warga Muhammadiyah.

Beberapa sumber lain yang dapat digunakan adalah dokumen, foto, surat kabar/majalah, wawancara, undangan rapat, poster, catatan rapat, catatan harian, dan sebagainya. “Ini merupakan sumber yang secara langsung bisa kita perguanakan untuk menyusun sejarah family history ini,” terang Mutiah.

Family history dimulai dari proses menjadi Muhammadiyah. Kita bisa memulai dari hal-hal yang sifatnya publik. Bagaimana mereka menyampaikan ucapan-ucapan syukur, identitas mereka, dan bagaimana menjadi Muhammadiyah itu tumbuh. Karena komunitas itu membentuk pribadi-pribadi di dalam keluarga. Dan itu bisa dimulai dari hal-hal yang sifatnya sederhana,” imbuhnya.

Pungkasan, ada dua kesimpulan yang disampaikan Mutiah, yakni: (a) family history sangat potensial dikembangakan, terutama jika dilihat perkembangan yang cepat dan direproduksi melalui ikatan keluarga sejak awal hingga kini; (b) penulisan family history menjadi peluang cepat untuk mengisi kekosongan historiografi Muhammadiyah saat ini. (sb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *