Peran Anak dalam Mewujudkan Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah 4 Sep 2021 0 74x
Keluarga Sakinah

Keluarga Sakinah

Oleh: Shoimah Kastolani

Berbicara keluarga tidak akan terlepas dari membicarakan jenis anggota keluarga. Menurut pendapat Goldenberg (1980), bentuk keluarga dibagi menjadi dua, yaitu keluarga inti (nuclear family) dan keluarga besar (extended family). Keluarga inti terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Sedangkan keluarga besar, selain terdiri atas keluarga inti, juga terdiri atas sanak saudara secara vertikal, seperti orang tua atau mertua, menantu, dan cucu, serta horizontal yang berasal dari garis suami atau istri.  Pembahasan kali ini kita batasi pada keluarga inti.  Keluarga inti atau disebut juga dengan keluarga batih adalah yang terdiri atas ayah, ibu, dan anak. Keluarga inti merupakan bagian dari lembaga sosial yang ada pada masyarakat.

Satu di antara tujuan berkeluarga adalah terbentuknya suatu keluarga yang sakinah. Sakinah berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah ketenangan, ketenteraman, aman, atau damai.  Sebagaimana arti kata tersebut, keluarga sakinah berarti keluarga yang di dalamnya mengandung ketenangan, ketenteraman, keamanan, dan kedamaian antar anggota keluarga.

Adapun di antara ketenteraman sebuah keluarga itu dapat diwarnai dengan kehadiran anak. Pasalnya, salah satu fungsi pernikahan adalah untuk meneruskan keturunan, yaitu memiliki buah hati  dari  buah cinta dalam perkawinan.  Dengan demikian, upaya mewujudkan keluarga sakinah bukan hanya dibebankan kepada kedua orang tua, yakni ayah dan ibu saja, tetapi juga anak sebagai bagian dari anggota keluarga.

Anak sebagai Mutiara Kebahagiaan Keluarga

Anak dalam keluarga adalah pelengkap kebahagiaan keluarga. Terdapat serangkaian kebahagian bagi orang tua yang dapat dinikmati mulai masa pertumbuhan anak dalam kandungan, sampai dihantarkan pada jenjang pernikahan. Semenjak anak menangis ketika dilahirkan, ia sudah membuncahkan kebahagiaan bagi orang tuanya. Begitu juga saat anak sudah mulai  dapat mengucapkan sepatah dua patah kata, seperti menyebut mama atau papa, dengan celotehnya yang lucu dan menggemaskan. Anak juga meronai keceriaan keluarga ketika mulai menapakan kaki ke tanah untuk belajar berjalan, dan seterusnya.

Sesungguhnya, peran seorang anak dalam mewujudkan keluarga sakinah, secara umum,  memiliki peran yang sama, yaitu belajar menghormati orang tua. Anak mendapatkan hak kasih sayang dari kedua orang tua, yaitu ayah dan ibu. Untuk membalas hak tersebut, ada kewajiban yang harus dipenuhi oleh anak.

Bentuk menghormati terhadap orang tua ini dapat berupa berbagai perilaku positif atau adab dalam berkeluarga.  Misalnya, sejak kecil, anak dibiasakan taat kepada orang tua  karena orang tua pasti menginginkan anaknya dapat bertumbuh kembang dengan baik. Imbal baliknya, ketika orang tua menyuruh dan melarang, hendaknya menggunakan argumentasi yang mendidik. Apabila sudah dibiasakan dengan demikian kemungkinan membantah itu menjadi kecil. Jika ada sedikit protes, anak akan menyertakan alasan yang membuka peluang untuk terjadinya diskusi.

Baca Juga: Pendidikan Karakter Takwa dalam Keluarga Sakinah

Peran selanjutnya adalah mendengarkan nasihat orang tua. Keluarga merupakan sarana untuk penanaman agama, dan agama itu adalah nasihat (الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ). Nasihat orang tua ini dapat pula berupa saran-saran untuk anak membiasakan memilih yang terbaik. Dengan adanya saran dan argumentasi dari orang tua, anak akan terbiasa berpikir dengan pertimbangan dan terjalin komunikasi harmonis antara orang tua dan anak.

Dalam komunikasi ini, anak juga harus memahami bentuk komunikasi yang dituntunkan Allah, yakni qaulan kariman, perkataan yang memuliakan orang tua. Qaulan kariman bermakna perkataan mulia, yang dibarengi dengan rasa hormat dan pengagungan. Artinya, kalimat yang diucapkan enak didengar, disuarakan dengan lemah lembut, dan penuh tata krama. Allah sudah mengingatkan kepada kita dengan firman-Nya dalam QS. al-Isra’ [17]: 23 berikut:

فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفّٖ وَلَا تَنۡهَرۡهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوۡلٗا كَرِيمٗا 

Artinya, “…maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia”.

Ketika mulai memasuki usia remaja, seringkali anak mulai mengemukakan pendapatnya dalam keluarga yang kadang kala bertentangan dengan pendapat orang tuanya. Untuk itu,  sejak dini, anak harus dibiasakan untuk  bersikap terbuka dan menerima semua pendapat, lalu mengambil keputusan yang terbaik untuk semua anggota keluarga. Anak juga harus belajar bermusyawarah dalam keluarga serta menahan diri tidak memaksakan kehendaknya kepada orang tua. Anak perlu dibiasakan untuk mempertimbangkan kemaslahatan keluarga dalam proses pengambilan keputusannya.

Anak yang sudah memiliki pergaulan luas dalam masyarakat harus mampu menjaga nama baik keluarga dengan bersikap positif, sebagai pribadi yang tumbuh dalam nilai-nilai agama. Dalam hal ini, rahasia keluarga adalah hal penting dalam keluarga. Setiap keluarga pasti memiliki rahasia yang tidak perlu atau tidak pantas diketahui oleh orang lain. Oleh karena itu, anak-anak harus  mampu menjaga rahasia tersebut, tidak mengumbar aib atau cela keluarganya sendiri.  Apabila rahasia keluarga telah tersebar di masyarakat, apalagi rahasia keluarga yang buruk, maka akan mencemarkan nama baik keluarga.  Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya, “Tidaklah seseorang menutupi aib orang lain di dunia, melainkan Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat kelak” (Hadis Shahih Muslim).

Jika menutup aib orang lain saja dianjurkan, apalagi menjaga rapat-rapat rahasia keluarga.

Kesalehan Anak, Harapan Keluarga

Anak yang saleh dan salehah adalah kebanggaan orang tua.   Apabila sedari usia dini, anak diasuh dengan penuh kasih sayang oleh orang tuanya, maka setelah beranjak dewasa, adalah bagian dari adab jika sang anak berbalik memberikan kasih sayang untuk orang tuanya. Walaupun demikian, kita tahu bahwa kasih sayang orang tua tidak akan mampu dikuantifikasi anak untuk dibalas dengan yang serupa.

Beruntungnya, dengan menjadi anak yang saleh saja sudah mampu membuat orang tua sangat gembira. Seorang anak tidak harus memberikan materi kepada orang tuanya, kecuali apabila si anak mampu memberikannya. Cukup menjadi anak yang saleh, orang tua sudah akan sangat bahagia.

Anak saleh ketika mulai menginjak dewasa berikhtiar mampu sebagai pendukung ayah dalam mengayomi keluarganya, mengayomi adik adiknya atau saudaranya.  Biasanya, ini berlaku untuk si sulung. Meskipun demikian, setiap anak dapat melakukannya. Anak yang terbiasa mendisiplinkan diri dalam segala hal, terutama dalam mengelola waktu, maka dapat dipastikan mampu berikhtiar untuk mandiri, yang pada akhirnya dapat meringankan beban orang tua, bahkan dapat membantu kebutuhan keluarga secara material.

Kedewasaan seseorang bukan hanya ditandai dengan matangnya fisik, akan tetapi juga ditentukan dengan kematangan pikir. Dalam mengikuti perkembangan zaman, diharapkan anak memiliki wawasan yang luas, guna mengantisipasi berbagai tantangan yang berada di hadapannya. Anak yang mau mengunakan akal pikir untuk mengembangkan wawasan ilmu dan menyempurnakan agama adalah suatu hikmah yang luar biasa dari Allah. Allah berfirman dalam QS. al-Baqarah [2]: 269,

يُؤۡتِي ٱلۡحِكۡمَةَ مَن يَشَآءُۚ وَمَن يُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِيَ خَيۡرٗا كَثِيرٗاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ 

Artinya, “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang al-Quran dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)”.

Hikmah adalah kemampuan untuk memahami rahasia-rahasia syariat agama yang ada dalam al-Quran dan as-Sunnah. Dengan hikmah, kita akan sangat mudah memahami sesuau. Maka bersyukurlah, jangan sombong ketika dianugerahi Allah kemampuan istimewa ini. Hikmah ini dapat dijadikan sarana anak untuk ikut menguatkan keluarga dalam kehidupan beragama dan menjadi landasan mendasar untuk menggapai keluarga sakinah.

Baca Juga: Beginilah Makna Keluarga Sakinah Menurut ‘Aisyiyah

Ketika anak sudah cukup usia masa pernikahan dan membangun keluarga intinya sendiri, menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang tuanya. Untuk menciptakan ketenangan keluarga orang tuanya dan keluarga sendiri yang akan dibangunnya, tentu melewati masa-masa pemilihan pasangan. Pernikahan bukan hanya untuk kepentingan diri sendiri, akan tetapi juga untuk kepentingan dua keluarga besar. Maka dalam hal ini, peran komunikasi dalam musyawarah dari kedua belah pihak sangat dibutuhkan. Bagi anak laki-laki, ketika memilih pasangan harus mempertimbangkan aspek kuatnya agama calon istrinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  mengajarkan:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لاِرْبَعٍ: لِمَالِهَا، وَلِحَسَبِهَا، وَجَمَالِهَا، وَلِدِينِهَافَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْيَدَاكَ

Artinya, “Wanita itu dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena agamanya. Maka pilihlah karena agamanya, niscaya kamu akan beruntung (H.R. Bukhari bersumber dari Abu Hurairah)

Bagi anak perempuan, ditekankan pemilihan pada pertimbangan akhlaknya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا جاءَكم من ترضَونَ دينَهُ وخلُقَهُ فأنكِحوهُ إلَّا تفعَلوا تكُن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ

Artinya, “Bila orang yang agama dan akhlaknya kamu ridhai datang melamar anak gadismu, maka nikahkan dengannya. Sebab bila tidak, akan terjadi fitnah di muka bumi dan banyak kerusakan” (HR. Tirmidzi dan Hakim bersumber dari Abu Hurairah).

Menggapai keluarga sakinah dibutuhkan kerjasama yang bagus antar anggota keluarga, baik ayah, ibu, maupun anak, sesuai dengan fungsi dan perannya masing-masing. Dengan demikian, anak dalam keluarga bukan sebagai obyek, akan tetapi sebagai subyek yang ikut bertanggung jawab mewujudkan keluarga sakinah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *