Peran Bahasa Ibu dalam Pendidikan

Aksara 30 Jul 2020 0 65x

Sumber ilustrasi : wikipedia.org

Negara Kesatuan Republik Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan jumlah bahasa  ibu terbanyak di dunia. Menurut Arief Rahman, Ketua Harian  Komisi Nasional untuk Badan Pendidikan Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Dunia (UNESCO), Indonesia sedikitnya memiliki 783 bahasa ibu Dari jumlah itu empat ratusan bahasa ibu ada di Papua  Sayangnya, keanekaragaman bahasa ibu di Papua  semakin menyusut karena tidak digunakan. Dengan jumlah bahasa ibu sebanyak itu dibutuhkan satu bahasa nasional, yaitu bahasa Indonesia.  

Sumpah Pemuda 1928, yang berisi pengakuan  bahwa bahasa Indonesia adalah  bahasa nasional kita  merupakan langkah pertama yang menentukan di dalam perumusan garis kebijaksanaan  mengenai bahasa nasional kita. Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36 yang menyatakan bahwa  “Bahasa Negara ialah  Bahasa Indonesia” memberikan dasar yang kuat dan resmi  bagi pemakaian bahasa Indonesia bukan saja sebagai bahasa perhubungan pada tingkat nasional tetapi juga sebagai bahasa resmi kenegaraan. Kongres Bahasa Indonesia  1954 di Medan  yang mengakui  bahwa bahasa Indonesia tumbuh  dan berkembang dari bahasa Melayu, dan bahwa di dalam pertumbuhan dan perkembangannya itu  bahasa Indonesia telah diperkaya oleh bahasa bahasa lain, terutama bahasa-bahasa daerah yang terdapat di Indonesia merupakan langkah maju yang berdasarkan kenyataan.

Dalam pembahasan ini telah muncul dua istilah yang sering dipakai bersamaan  yaitu bahasa ibu dan bahasa daerah  Yang dimaksud dengan bahasa ibu ialah bahasa  pertama yang dikuasai manusia sejak awal hidupnya melalui interaksi  dengan sesama anggota masyarakat bahasanya seperti keluarga dan masyarakat sekelilingnya.  Bahasa daerah adalah bahasa  yang lazim dipakai di suatu daerah, atau suku bangsa tertentu. Dalam wilayah Republik Indonesia sudah umum diketahui bahwa terdapat beratus-ratus bahasa daerah yang merupakan bahasa ibu bagi penduduk yang bersangkutan, misalnya Aceh, Bali, Batak, Bugis,  Jawa, Sunda,  Mongondow, Madura, dsb.

Bahasa Indonesia  sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, dan bahasa resmi memiliki  daerah penggunaan yang lebih luas daripada bahasa daerah dan meliputi seluruh wilayah negara kita. Akibatnya ialah bahwa tiap daerah di samping menggunakan bahasa Indonesia bagi situasi tertentu, tetap menggunakan bahasa daerah, bahasa ibunya dalam situasi-situasi yang lain. Bangsa Indonesia pada umumnya terlahir bilingual, dwibahasawan  menguasai dua bahasa sekaligus untuk mengucapkan pikiran dan perasaannya. Keadaan semacam itu kita temukan pula di tempat-tempat lain di dunia yang di samping  bahasa resmi yang ditetapkan pemerintah sebagai bahasa negara, masih memakai bahasa-bahasa setempat sebagai  bahasa ibu,  bahasa pergaulan sehari-hari bagi penduduk setempat dalam hubungan yang tidak formal dan terasa akrab. Dalam suasana akrab  orang merasa  lebih “sreg”  (comfortable)  menyatakan isi hatinya dalam bahasa ibu.

Almarhum Bapak KH.A.R. Fachruddin, mantan Ketua Muhammadiyah, merasa lebih  rumesep  (meresap dalam hati) menggunakan bahasa Jawa dalam Soal Jawab Agama  yang disampaikan  di Radio Republik Indonesia Yogyakarta  tahun 1980. Pada mula penerbitannya majalah Suara Aisyiyah  pernah pula menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantarnya karena bahasa Jawa itulah yang lebih banyak digunakan daripada bahasa Indonesia

Bahasa adalah alat yang paling kuat untuk menjaga dan mengembangkan kekayaan budaya suatu bangsa. Kalau suatu bahasa hilang atau punah, hilang pula tradisi  dan budayanya. Oleh karena itu, dihimbau  para orang tua untuk membiasakan anak-anak mereka berbicara dalam bahasa ibu mereka. Paling tidak dalam lingkup keluarga bahasa tetap digunakan. UNESCO mendukung semua upaya untuk mempromosikan penyebaran bahasa ibu.Tujuannya tidak hanya untuk memperkuat keberagaman linguistik  dan pendidikan multilingual tetapi budaya dan tradisi di seluruh dunia. 

Hari Bahasa Ibu Internasional  diperingati setiap tanggal 21 Februari diadopsi oleh UNESCO pada November 1999. Berdasarkan hasil penelitian terbaru Global Education Monitoring yang dirujuk UNESCO, 40 persen populasi dunia  ternyata mengakses pendidikan  dengan bahasa yang mereka sendiri tidak pahami Laporan itu berjudul  cukup kritis  “Jika tak Paham Bahasa Guru, Bagaimana Anda Bisa Belajar?” Dalam penelitian itu, pakar pendidikan berpendapat, bila para murid diajarkan bukan dalam bahasa sehari-hari  mereka di rumah, hal itu akan berdampak negatif.. Ditegaskan pentingnya  menggunakan bahasa ibu si anak dalam proses belajar mengajar. Hal itu nantinya mendorong  sikap keterbukaan  di dalam pendidikan sekaligus mempromosikan keberagaman bahasa 

Penelitian itu mengungkapkan, di negara-negara yang multietnik semisal  Turki, Pakistan, Nepal, Bangladesh, dan Guatemala  dominasi bahasa nasional seringkali  mengabaikan  imbas budaya  bagi para murid   Sebaiknya  anak-anak diajar dalam bahasa yang mereka pahami. Setidaknya hal itu mesti diterapkan dalam enam tahun pertama pendidikan dasar. Para guru juga dianjurkan  memahami dua bahasa sekaligus, yakni bahasa nasional dan bahasa ibu setiap muridnya. (Siti Sundari)

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 4 April 2016, Rubrik Aksara

 

Leave a Reply