Wawasan

Peran Ibu dalam Menjaga Kelestarian Lingkungan dan Menghadapi Bencana

Lingkungan

LingkunganOleh: Muslikah*

Dalam Q.S. al-Baqarah: 29, nyata sekali dijelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Allah juga menjelaskan bahwa alam yang Dia ciptakan ini dalam keadaan seimbang, seperti apa yang difirmankan-Nya dalam Q.S. al-Hijr: 19 (yang artinya), “dan Kami (Allah) telah menghamparkan bumi dan Kami pancangkan padanya gunung-gunung serta kami tumbuhkan segala sesuatu di sana menurut ukuran”.

Walaupun alam diciptakan untuk kehidupan manusia, namun bukan berarti manusia dapat sesuka hati memperlakukan alam ini. Perlu diketahui bahwa makhluk yang ada di alam ini tidak hanya manusia. Perilaku manusia dalam memanfaatkan alam yang tidak dilandasi oleh kesadaran akan pentingnya kelestarian alam, dapat mengakibatkan kerusakan alam.

Kerusakan alam dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu penyebab tidak langsung dan langsung. Penyebab yang tidak langsung adalah penyebab kerusakan yang berasal dari alam, misal gunung meletus, gempa bumi, tsunami, dan sebagainya. Penyebab langsung adalah karena ulah manusia. Tetapi bila ditelusur lebih jauh, sebenarnya segala bencana yang terjadi pada hakekatnya adalah ulah manusia.

Dalam Q.S. ar-Rum: 41, Allah sudah menjelaskan bahwa kerusakan lingkungan disebabkan oleh ulah manusia. Artinya, “telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia”. Kerusakan alam dapat memberikan imbas pada makhluk lain. Maka manusia harus menyadari bahwa ia memiliki kewajiban untuk selalu menjaga agar alam selalu dalam keadaan serasi dan seimbang.

Kesadaran untuk selalu menjaga kelestarian alam, dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Bila masing-masing anggota keluarga sudah memiliki kesadaran untuk menjaga kelestarian lingkungan, maka pastilah kelestarian alam akan terjaga dan bencana tidak akan terjadi. Sebuah keluarga, yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak adalah lembaga terkecil di masyarakat, meskipun tanpa legalitas.

Ibu, sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anak memiliki peran yang besar untuk menanamkan kesadaran tersebut. Ibu merupakan model bagi anak-anaknya, maka apapun yang dilakukan oleh seorang biasanya akan ditiru oleh anak-anaknya. Maka kepada para ibu harus selalu meningkatkan kualitas diri agar memiliki kemampuan untuk menjadi duta lingkungan hidup bagi anggota keluarganya. Semua ibu harus sadar kalau merupakan tiang negara, agar negara kuat maka para ibu harus kuat pula.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan para ibu kepada anak-anaknya sebagai upaya menanamkan kesadaran menjaga kelestarian lingkungan hidup, antara lain: memberikan pemahaman pada anggota keluarga akan arti pentingnya memelihara kebersihan lingkungan, dimulai dari kebersihan rumah, maupun di luar rumah.

Ketika membuang limbah dari rumah tangga, baik yang berupa limbah padat atau cair, dapat menyampaikan pada seluruh keluarga agar membuangnya secara benar dan tepat. Untuk limbah padat, disediakan tempat yang berbeda, ada yang untuk limbah organik, limbah anorganik, limbah bahan beracun dan berbahaya, sekaligus dapat diterangkan kepada anak alasan melakukan hal tersebut.

Terhadap limbah organik yang berasal dari daun-daun yang ada di sekitar rumah, dapat disampaikan bahwa limbah-limbah tersebut dapat dibuat menjadi pupuk kompos atau pupuk hijau kemudian diajarkan pula bagaimana cara membuatnya secara sederhana, sedangkan untuk limbah organik yang berasal dari dapur bisa diajarkan cara membuatnya menjadi MOL (Mikro Organisme Lokal) atau pupuk cair.

Dapat pula diajarkan kepada anak untuk dapat mengelola limbah anorganik, baik secara reuse (menggunakan kembali), reduce (mengurangi) dan  recycle (daur ulang). Reuse dengan menggunakan kembali limbah organik untuk memnuhi kebutuhan kita, misal menggunakan botol bekas sirup untuk tempat minyak goreng. Reduce dapat dilakukan ketika ibu berbelanja ke pasar membawa tas dari rumah, tidak membawa plastik dari pasar untuk belanjaan. Recycle, membuat limbah menjadi produk yang memiliki nilai estetis, nilai manfaat dan nilai jual lebih tinggi, misal membuat bekas bungkus kopi menjadi tas atau bunga dan lain sebagainya.

Baca Juga: Perempuan dan Lingkungan Hidup

Dalam memanfaatkan air, juga harus diberikan contoh agar memanfaatkan air secara bijak, kemudian membuang limbah air tidak sembarangan. Beri penjelasan bahwa air selokan yang kotor dengan sampah organik, selain dapat menyebabkan bau juga mengakibatkan penurunan kadar oksigen.

Bisa juga disampaikan kepada anak-anak bahwa air memiliki manfaat yang amat besar terhadap kelangsungan semua makhluk di bumi ini. Oleh karena itu tidak boleh mencemari air, misal membuang air bekas  mencuci ke perairan langsung atau mencari ikan di sungai dengan menggunakan racun. Racun yang di sungai bisa mengakibatkan penurunan kualitas air sungan dan mengakibatkan penurunan kuantitas organisme yang ada di sungai. Air sungai yang tercemar tidak hanya mematikan ikan yang besar tetapi juga mematikan ikan yang kecil atau telur-telur ikan bahkan makhluk-makhluk lain yang ada di sungai.

Keanekaragaman tumbuhan yang ada di alam juga harus dijaga oleh manusia. Ibu bisa mengajarkan kesadaran kepada anak-anak akan pentingnya menanam tumbuhan-tumbuhan di sekirat tempat tinggal. Bisa diterangkan betapa besarnya manfaat tumbuhan terhadap manusia dan juga  hewan.

Tumbuhan merupakan sumber oksigen bagi manusia dan hewan. Akar tumbuhan bisa menyimpan air sehingga dapat membantu agar tanah tidak mudah terkikis. Ibu dapat mengajarkan kepada untuk mencintai tanaman dan melakukan penanaman atau penghijauan di sekitar rumah dengan memanfaatkan barang-barang sebagai tempat menanam.

Bila perlu kita sampaikan kepada anak bahwa menanam tanaman merupakan sebuah sedekah seperti yang disabdakan Rasul (yang artinya), “barangsiapa yang menanam suatu tanaman, jika kemudian tanaman itu dimanfaatkan oleh anak manusia atau suatu makhluk, maka itu menjadi sedekah baginya”.

Tanah merupakan tempat hidup banyak makhluk, maka tanah juga harus dijaga. Membuang sampah secara sembarang juga akan dapat menghilangkan kesuburan tanah. Apalagi limbah plastik, tanah tidak memiliki kemampuan untuk menguraikannya. Kesadaran untuk menjaga kesuburan tanah juga harus ditanamkan oleh para ibu kepada generasi-generasi penerusnya.

Hal terpenting yang harus ditanamkan kepada anak-anak adalah kesadaran bahwa manusia makhluk Allah yang harus selalu mematuhi perintah Allah. Allah melarang manusia untuk berbuat kerusakan di muka bumi, kalau kita berbuat kerusakan maka berarti kita sudah tidak patuh kepada Allah.

Apabila upaya pelestarian sudah dilakukan tetapi masih juga terjadi bencana, maka itu di luar kuasa manusia. Seperti sudah diketahui bahwa bencana kadang dapat terjadi, baik itu karena ulah langsung manusia atau tidak langsung. Untuk  menghadapi bencana, seorang ibu juga harus memberikan pemahaman kepada seluruh anggota keluarga, terutama kepada anak-anak dan lansia tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan. Hal ini penting, sebab bila tidak memiliki pemahaman maka orang bisa salah dalam menyikapi bencana yang terjadi.

Dalam menghadapi bencana yang terjadi maka harus bergerak cepat untuk bisa menyelamatkan diri. Ibu bisa mengajak anak untuk melakukan simulasi tentang apa yang harus dilakukan bila terjadi bencana, misal banjir, kebakaran, tsunami atau gempa. Bisa diajarkan kepada anak pentingnya pengelolaan diri ketika menghadapi bencana, misal jangan gugup karena bila gugup akan merusak konsentrasi dan itu bisa mengakibatkan kesalahan tindakan.

Manakala semua ibu sudah menanamkan kepada anak-anaknya memiliki kesadaran dalam melestarikan lingkungan, maka kelestarian lingkungan akan terjaga dan tidak akan terjadi bencana. Kalaupun bencana terjadi, apabila masing-masing sudah memiliki pemahaman dalam menghadapi bencana, maka dampak yang timbul dari bencana itu dapat diminimalisir.

*Sekretaris PDA Demak

Related posts
Konsultasi Keluarga

Dukungan bagi Perempuan untuk Berilmu

Pertanyaan: Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh Saya seorang guru di suatu Taman Kanak-Kanak di kota kecil. Saya juga ibu rumah tangga yang telah…
Berita

Siti Noordjannah Djohantini: Perempuan Harus Dilibatkan dalam Proses Menghadirkan Kehidupan Kebangsaan yang Maju

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Membincangkan tentang kehidupan kebangsaan yang bermartabat dan berkeadilan tentu tidak dapat dipisahkan dari bagaimana proses demokrasi berlangsung. Ketua…
Berita

Demi Pemilu yang Bermakna, LPPA PP Aisyiyah: Harus Ada Keterwakilan Perempuan sebagai Penyelenggara Pemilu

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Kamis (19/1), Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah menggelar ‘Aisyiyah Update dengan tema “Mengawal Keterwakilan Perempuan…

6 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *