Wawasan

Peran Orang Tua dalam Perundungan Siber

cyber bullying
cyber bullying

cyber bullying (ilustrasi: freepic)

Oleh: Edwi Arief Sosiawan*

Perundungan (bullying) dari sisi pelaku adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain baik secara psikis maupun secara fisik. Sementara dari sisi korban bermakna pengalaman yang terjadi ketika seseorang merasa teraniaya oleh tindakan orang lain dan ia takut apabila perilaku buruk tersebut akan terjadi lagi sedangkan korban merasa tidak berdaya untuk mencegahnya (Andrew Mellor, 1997). Jenis-jenis perundungan umumnya meliputi perundungan fisik (penganiyaan seperti memukul, dsb), psikis (berbentuk teror ancaman, dsb) dan verbal (kata-kata sarkasme dan ejekan kasar).

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perundungan dari sisi pelaku secara umum menurut Quiroz (2006) adalah: pertama, ingin berkuasa. Pelaku perundungan menginginkan dirinya dianggap dan dikenal berkuasa. Gaya presentasi diri intimidation yang mengedepankan rasa takut menyebabkan pelaku melakukan bullying pada pihak lain yang dianggap lemah. Faktor ini akan meningkat jika pelaku memang memiliki kesenangan berkelahi untuk menunukkan kekuatannya.

Kedua, mencari perhatian karena kurangnya perhatian dari pihak lain. Pelaku ingin menunjukkan eksistensi dirinya melalui “cari” perhatian dari pihak lain di sekitarnya dengan cara melakukan perundungan orang yang lebih lemah.

Ketiga, pernah menjadi korban kekerasan. Sublimasi dan balas dendam menjadi pemicu pelaku perundungan yang pernah menjadi objek kekerasan di masa lampau. Keempat, pengaruh media (televisi, film, game), imitasi (meniru) tindakan kekerasan dari film atau game yang mengandung kekerasan merupakan salah satu pembudayaan perilaku perundungan di kalangan pelaku.

Dampak yang ditimbulkan dari sisi korban tentunya secara umum akan mengakibatkan pengaruh pada psikis (jiwa) korban serta fisik yang terdiri atas: pertama, gangguan mental seperti depresi, kegelisahan, dan masalah tidur. Gangguan mental ini bisa saja terjadi berkepanjangan, bila korban adalah anak-anak maka akan dapat terbawa hingga dewasa. Pada taraf tertentu akibat gangguan mental sebagai dampak perundungan akan mengakibatkan korban cenderung melakukan tindakan agresif bahkan kriminal (Hillsdale; 1991).

Kedua, gangguan kesehatan fisik yang mengakibatkan beberapa keluhan seperti sakit kepala, sakit perut atau ketegangan otot. Akibat yang lebih jauh lagi untuk mengatasi gangguan fisik tersebut beberapa korban akan menjadi kecanduan terhadap obat-obatan, narkoba, dan alkohol.

Ketiga, merasa tidak aman dan nyaman di lingkungan dimana dia di-bully seperti misalnya sekolah yang tentunya akan berdampak pada penurunan kemampuan belajar serta penurunan kamampuan akademis.

Baca Juga: Faktor dan Jenis Bullying Pada Anak

Perundungan ternyata tidak hanya terjadi di dunia nyata (offline) namun juga terjadi di dunia online (virtual/maya) yang populer disebut dengan cyberbullying (perundungan siber). Tidak jauh berbeda batasan perundungan siber dengan perundungan offline yang dinyatakan sebagai perlakuan kasar yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang, menggunakan bantuan alat elektronik (media internet) yang dilakukan secara berulang dan terus menerus sehingga target atau korban kesulitan membela diri (Smith et al, 2008). Secara tidak langsung menurut Juvonen (2008) perkembangan dan penggunaan teknologi komunikasi menjadi wadah baru aksi kekerasan dan perundungan khusunya pada pengguna remaja.

Meskipun terjadi dalam dunia maya (online) namun justru korban susah keluar (escape) dari perundungan siber karena karateristik anomitas sehingga pelaku bisa menggunakan identitas palsu serta relatif sulit untuk dideteksi. Secara umum variasi bentuk perundungan siber menurut Nancy Williard (2007) terdiri dari flaming; berupa perundungan dengan cara mengirimkan teks berupa kata-kata yang penuh amarah, sarkas, dan frontal. Umumnya pelaku bentuk perundungan seperti ini disebut sebagai haters.

Harassment; perundungan siber dengan melakukan pengiriman pesan secara terus menerus dan berulang melalui jejaring sosial. Selanjutnya, denigration atau cyberstalking; dalam bahasa awam adalah melakukan pencemaran nama baik melalui penyebaran secara viral tentang keburukan seseorang dengan maksud merusak reputasi nama baik seseorang melalui situs jejaring sosial.

Impersonation; melakukan pemalsuan identitas atau memakai identitas orang lain dengan mengirimkan konten yang tidak baik. Outing; berupa pelanggaran privasi seseorang dengan menyebarkan rahasia orang lain umumnya dalam bentuk foto-foto pribadi. Trickery; yaitu perundungan dengan tipu daya untuk membujuk agar mendapatkan rahasia atau foto pribadi seseorang.

Tidak Dilaporkan

Berbagai penelitian umumnya menunjukkan bahwa kejadian perundungan siber tidak banyak dilaporkan oleh korban bahkan para korban menyembunyikannya dari para orang tua. Pada akhirnya dampak dari perundungan siber dibandingkan dengan perundungan offline lebih mengarah pada dampak yang bersifat psikologis dibanding fisik yang meliputi depresi, perilaku agresif, bahkan beberapa kasus korban melakukan tindakan bunuh diri karena isi konten perundungan tersebar secara viral dan global.

Faktor penyebab pelaku perundungan siber tidak berbeda jauh dibanding perundungan offline namun lebih kompleks pemicunya. Para pelaku perundungan siber umumnya adalah mereka yang mengalami gejala penyimpangan kepribadian. Oleh karena itu para pelaku perundungan siber adalah mereka yang berperilaku anti sosial, seperti ingin balas dendam, melampiaskan kemarahan, atau melampiaskan rasa frustasi.

Selain itu, para pelaku juga adalah mereka yang tidak punya pekerjaan sehingga mereka melakukan perundungan siber sebagai keisengan dan ingin mencari keributan dengan menggunakan fasilitas teknologi komunikasi yang ada di dekat mereka. Faktor lainnya dari penyebab perundungan siber adalah adanya perasaan ‘tidak dianggap’ atau atau diacuhkan oleh lingkungan sekitarnya sehingga menyalurkan rasa kesepian dan alienasi dengan melakukan perundungan siber agar merasakan bagaimana rasanya menjadi orang yang berkuasa dan dianggap oleh sekitarnya.

Kasus perundungan siber di Indonesia menurut berbagai penelitian menunjukkan angka yang tinggi, yaitu setiap delapan anak salah satunya telah mengalami perundungan siber (Napitulu, 2012). Penelitian UNICEF Indonesia pada tahun 2014 menengarai umumnya anak-anak Indonesia 89% nya mengakses media sosial namun tidak mengetahui risiko yang terjadi pada diri mereka. Data tersebut mengarahkan pada konklusi adanya korelasi risiko perundungan siber pada anak-anak adalah benar-benar tinggi dikarenakan anak-anak Indonesia umumnya tidak memiliki literasi terhadap resiko perundungan siber.

Baca Juga: Pencegahan Grooming dalam Perspektif Islam

Oleh karena itu, peran pemerintah melalui lembaga berwenang serta orang tua menjadi sangat penting dalam pencegahan perundungan siber. Beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh para orang tua dalam mencegah perundungan siber adalah sebagai berikut:

Pertama, langkah yang paling utama dan pertama adalah memberikan literasi penggunaan media internet, khususnya media sosial baik yang menggunakan platform komputer atau platform smartphone. Hal ini harus dilakukan mengingat penyebab utama anak-anak menjadi korban perundungan siber adalah ketidaktahuan mereka terhadap risiko penggunaan media online (internet, media sosial, dan sebagainya). Pemberian literasi kepada anak-anak agar dijauhkan dari perundungan siber.

Literasi bisa ini meliputi beberapa hal, antara lain mengajarkan kepada anak-anak untuk menolak untuk meneruskan pesan-pesan yang bersifat provokasi, penghinaan, mengejek, dan sebagainya yang mengarah ke perundungan siber. Tindakan ini juga dilanjutkan dengan memberitahu teman-teman mereka untuk menghentikan pesan-pesan yang bersifat perundungan.

Mengajarkan kepada anak-anak untuk memblokir atau melakukan delete contact (delcon) dengan pelaku perundungan siber serta melakukan penghapusan pesan tanpa perlu membacanya. Memberitahukan dan memberikan pengertian kepada anak-anak untuk tidak melakukan unggahan/posting serta menyebarkan informasi tentang data pribadi seperti nama lengkap, alamat rumah, nomor telepon atau HP, nama sekolah, nama orang tua, nama saudara kandung, serta data-data pribadi teman-teman mereka secara online.

Mengajarkan pada anak-anak untuk tidak berbagi password semua fasilitas media sosial, fasilitas internet, serta smartphone mereka dengan siapa pun, kecuali dengan orang tua mereka. Anak-anak Juga diajarkan untuk tidak memposting/mengunggah pesan di saat mereka sedang dalam kondisi kesal atau marah serta mengajarkan kepada mereka sopan santun dan etika menggunakan media internet khususnya media sosial. Memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang akronim dan kosa kata istilah-istilah dalam penggunaan media internet dan media sosial.

Orang tua perlu selalu memantau/memonitor penggunaan media sosial di kalangan anak-anak bahkan bila perlu menjadi followers dari akun media sosial anak. Langkah ini juga akan sempurna jika para orang tua mau meluangkan waktunya mendengarkan cerita anak-anak tentang aktivitas kehidupan mereka di dunia online.

Secara teknis untuk memudahkan pemantauan dan monitoring pada anak-anak dalam pengguanaan media sosial adalah sebagai pertama, meletakkan komputer PC di daerah yang terpantau seperti ruang keluarga agar lebih mudah memonitor penggunaan media sosial di kalangan anak-anak daripada membiarkan mereka menggunakan laptop atau gawai (gadget) di ruang privasi mereka seperti kamar tidur dan sebagainya.

Kedua, memberikan batasan pulsa data akses ke smartphone anak-anak jika mereka menggunakannya untuk surfing di web. Ketiga, mengatur filter di PC komputer dan bila perlu melaporkan atau bahkan memblokir konten situs web yang tidak pantas dikonsumsi anak-anak. Keempat, mengetahui dengan siapa anak-anak berkomunikasi secara online, dan memancing mereka tentang teman-teman mereka yang sudah dewasa serta menanyakan dengan sabelum siapa.

Perlu Penanganan

Apabila anak-anak telah mengalami perundungan siber atau menjadi korban maka ada beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu mendokumentasikan serta menyimpan bukti-bukti perundungan siber dengan cara melakukan screencapture di PC komputer atau melalui screenshot pada gawai smartphone yang digunakan.

Melaporkan tindakan perundungan siber kepada pihak kepolisian agar ditindaklanjuti menggunakan undang-undang yang ada. Sementara waktu anak-anak dijauhkan dari penggunaan internet dan media sosial untuk menghilangkan rasa trauma akibat perundungan siber. Pada posisi ini peran orang tua untuk mengembalikkan kepercayaan diri kepada korban menjadi sangat penting.

Baca Juga: Mengenal Kekerasan Berbasis Gender Online

Permasalahan perundungan siber di kalangan anak-anak memerlukan penanganan secara seksama. Peran pemerintah dan aparat penegak pengadilan dalam perlindungan terhadap perundungan telah dilakukan, namun kunci utama tetap terletak pada keluarga, yaitu orang tua. Peran orang tua memberikan literasi dan pemahaman kepada anak-anak ketika menggunakan media internet khususnya media sosial adalah hal yang paling utama.Hal ini tentunya akan dibatu oleh para pendidik di sekolah, karena pilihan memberikan literasi jauh lebih bijaksana daripada melarang anak-anak menggunakan media internet dan media sosial.

Orang tua juga perlu mempelajari cara mengatasi andai anak-anak menjadi korban perundungan siber, serta perlu mempelajari hukum dan undang-undang terkait perundungan siber seperti UU No19 tahun 2016 perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, UU 35 Tahun 2014 perubahan atas No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak, dan lainnya agar secara komprehensif mereka menjadi sangat berdaya dalam memerangi perundungan siber.

*Pemerhari Psikologi Komunikasi dan Perkembangan teknologi Komunikasi

Related posts
Berita

SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban Gelar Workshop Sekolah Bebas Perundungan

Tuban, Suara ‘Aisyiyah – SMK Pelayaran Muhammadiyah Tuban menggelar workshop terkait penerapan sekolah bebas perundungan (bullying), Selasa (14/12). Margo Sanotoso selaku Ketua…

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.