Peran Perempuan dalam Pengembangan Gerakan Keilmuan dan Pemikiran (1)

Perempuan 7 Aug 2020 0 92x

Oleh: Masyitoh Chusnan

Perempuan seringkali diperlakukan secara tidak wajar, karena ia tidak mengetahui kadar kemampuannya. Kasus seperti ini, sesuai dengan  yang  dikatakan  oleh Filosof.  Ada orang yang alim, tapi dia tidak menyadari, kalau sebetulnya dia alim, maka yang demikian disebut, “Naaimun”, orang yang tidur, oleh karena itu bangunkan dia dan sadarkan. 

Tulisan ini hendak mengajak kita berefleksi, tak sekedar pada pembahasan Peran Perempuan adalah Pengembangan Gerakan Keilmuan dan Pemikiran,tapi ingin mengungkap terlebih dahulu bahwa al-Qur’an memberikan pujian kepada Ulil Albab yang berzikir dan berpikir tentang kejadian langit dan bumi. Zikir dan berfikir tersebut, mengantarkan manusia mengetahui rahasia-rahasia alam jagat raya sebagai sumber ilmu pengetahuan. Yang lebih membanggakan kaum perempuan adalah bahwa yang dinamai Ulil Albab tidak terbatas pada kaum laki-laki saja, melainkan juga kaum perempuan. Hal ini terbukti dari lanjutan ayat yang menjelaskan tentang kewajiban me-nuntut ilmu juga hadis nabi, yang ditujukan pada laki-laki dan perempuan yakni : “Menuntut ilmu adalah kewajiban  setiap muslim  dan muslimah “ (HR. al-Thabarani). Ketika al-Qur’an menguraikan tentang sifat-sifat Ulil Albab, Allah menegaskan;

Maka Tuhan mereka mengabulkan permohonan mereka dengan berfirman, sesungguhnya aku tidak akan menyia-nyiakan amal  orang-orang yang beramal diantara kamu baik laki-laki maupun perempuan” (Qs Ali Imran : 195). Ini berarti bahwa kaum perempuan juga mampu berfikir, mempelajari, dan kemudian mengamalkan apa yang mereka hayati, setelah berdzikir kepada Allah Swt dan mempelajari alam jagat raya yang tentunya berkaitan dengan berbagai disiplin ilmu, sesuai dengan minatnya.

Beberapa Contoh Perempuan Genius dan Tokoh Pemimpin Dunia

Sejarah membuktikan bahwa banyak perempuan yang pengetahuannya cukup menonjol dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan, sehingga menjadi rujukan sekian banyak tokoh laki-laki. Istri Nabi, Aisyah ra adalah salah seorang yang memiliki pengetahuan yang sangat prima serta termashur pula sebagai seorang kritikus, hingga muncul ungkapan terkenal yang dinisabahkan oleh sementara ulama sebagai pernyataan Nabi Muhammad saw : “Ambillah setengah pengetahuan agama kalian dari al-Humaira, yakni Aisyah.”

Demikian juga Fakhr al-Nisa (Kebanggaan Perempuan) yang nama aslinya al-Syaikhah Syuhrah, ia adalah seorang guru Imam Syafi’i, tokoh mazhab yang pandangan-pandangannya menjadi anutan kaum muslimin di seluruh dunia. Selain itu, beberapa wanita lain, mempunyai kedudukan ilmiah yang sangat terhormat, misalnya al-Khansa dan Rabi’ah al-Adawiyah, sang sufi perempuan. Diranah politik terdapat beberapa nama yang patut dikagumi, tentu bukan saja karena kepemimpinannya yang menonjol, di balik itu pastilah dia adalah orang-orang yang cerdas dan genius.

Jika kita menengok kebelakang, bagaimana seorang tokoh perempuan Cleopatra (51-30 SM), dapat memimpin negeri mesir. Keberhasilannya melebihi keberhasilan kepala negara yang laki-laki. Dia seorang perempuan yang cerdik dan kuat, kepemimpinannya diakui dunia. Statemen yang mengatakan bahwa semua penguasa tertinggi yang berjenis kelamin perempuan pasti akan gagal, maka terbantahkan. Lihat pula bagaimana Ratu Saba yang ceritanya ditorehkan pada tinta emas di dalam ayat al-Qur’an, betapa bijaksananya Ratu Saba memimpin wilayah Yaman (Qs al-Naml : 44) yang kemudian dia bisa bekerja sama dengan Sulaiman, sang nabi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa mengabaikan perempuan berarti mengabaikan setengah dari potensi masyarakat, dan melecehkan perempuan berarti melecehkan seluruh umat manusia, karena tidak ada seorang manusiapun  (kecuali Adam dan Hawa) yang tidak lahir melalui seorang perempuan.

Peran Perempuan Dalam Pengembangan Gerakan Keilmuan dan Pemikiran 

Menuangkan ide dan pemikiran dalam tulisan, tidak terlepas dari aspek kelimuan itu sendiri. Ilmu diperoleh dari membaca, menghayati, merenung (tadabur alam) dan lain sebagainya. Tanpa membaca/Iqra, mustahil ilmu pengetahuan akan diperoleh. Memperoleh ilmu pengetahuan, juga tidak terlepas dari aktifitas berfikir. Maka tiga aspek itu (membaca/Iqra, menulis dan berfikir) tidak dapat dipisahkan. Dalam rangka mengembangkan gerakan keilmuan, budaya membaca merupakan sebuah keniscayaan demikian juga berfikir. Allah memerintahkan agar manusia dapat selalu menggunakan akal fikirannya. Perintah berfikir di dalam al-Qu’ran dapat ditemui di banyak ayat dan di berbagai konteks. Bisa berbentuk peringatan Allah dengan ; Afalaa Yatafakkarun, afala ya’qilun, afalaa yanzhurun, afala yubshirun, afalaa ya’lamun dan seterusnya.

Budaya membaca, sangat jelas perintah Allah yang pertama kali kepada Nabi Muhammad saw adalah kalimat Iqra. Dari sini sumber pengetahuan, sumber kepahaman, sumber kearifan diperoleh.  Budaya menulis merupakan sarana yang sangat stategis  dan efektif baik dalam rangka. 

Bersambung ke Peran Perempuan dalam Pengembangan Gerakan Keilmuan dan Pemikiran (2) 

 

Leave a Reply