Peran Perempuan dalam Pengembangan Gerakan Keilmuan dan Pemikiran (2)

Perempuan 7 Aug 2020 0 173x

Lanjutan dari Peran Perempuan dalam Pengembangan Gerakan Keilmuan dan Pemikiran (1)

Oleh: Masyitoh Chusnan (Ketua PP ‘Aisyiyah)

Budaya membaca, sangat jelas perintah Allah yang pertama kali kepada Nabi Muhammad saw adalah kalimat Iqra. Dari sini sumber pengetahuan, sumber kepahaman, sumber kearifan diperoleh.  Budaya menulis merupakan sarana yang sangat stategis  dan efektif baik dalam rangka advokasi diri maupun memberikan advokasi dalam kaitan dengan dakwah dan perjuangan kaum perempuan sebagai bagian status Ulil Albab. Pertanyaan mendasar adalah bagaimana membudayakan aktifitas menulis dalam keseharian yang dapat menjadi strategi dan peningkatan kaum perempuan dalam mengembangkan gerakan keilmuan dan pemikiran. Gerakan literasi merupakan langkah strategis untuk mencapai tujuan diatas. Beberapa pendekatan yang mungkin dapat dipertimbangkan dan dilakukan antara lain:

Pertama.  Pendekatan Keilmuan. Menulis merupakan kegiatan ilmiah, yang mau tidak mau bersinggungan dengan logika (kebenaran, orisinalitas dan temuan baru hasil pemikiran), dimensi etika (kepatutan, tata aturan dan teknik penulisan ), dan yang ketiga dimensi estetika (keindahan, kekinian, pantas dan enak dibaca). Jadi budaya lisan ditingkatkan menjadi budaya tulisan, sebagai langkah untuk menuju gerakan literasi guna peningkatan peran perempuan dalam pengembangan keilmuan dan pemikiran

Kedua. Pendekatan keagamaan. Dalam berkomunikasi agar komunikasi itu efektif baik lisan maupun tulisan dapat dilakukan melalui pendekatan Qura’ani. Di dalam al-Qur’an  dikenal media komunikasi dengan enam alat,yakni : Pertama,  Qaulan Sadida (perkataan yang benar, sederhana, mudah dimengerti (straight to the point). Kedua, Qaulan Baliqha (perkataan yang tepat, punya makna, fakish). Ketiga, Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik dan pantas). Keempat, Qaulan Karima (perkataan yang mulia dan bertatakrama). Kelima, Qaulan Layyinan (Perkataan yang lembut, berkomunikasi dengan hati). Keenam, Qaulan Maisura (perkataan yang mudah dimengerti menyerapkan, dan menggembirakan).

Dari enam kategori tersebut dapat dijadikan landasan berpijak untuk menulis, menuangkan ide, dan pemikiran sebagai sumber keilmuan. Dan ini dapat dilakukan oleh kaum perempuan yang pada dasarnya  mampu melakukan perannya yang lebih optimal untuk mencerdaskan umat dan bangsa.

Perempuan di ranah domestik mempunyai peran yang sangat signifikan dalam mendidik anak-anaknya dan membentuk mereka menjadi manusia yang cerdas berilmu berfikiran maju, karena perempuan dianugerahi Allah dengan beberapa kelebihan yang tidak diberikan kepada laki-laki. Dari sisi psikis seorang ibu lebih peka dan perasa terhadap apa yang terjadi pada putra-putrinya daripada seorang Ayah. Perempuan mengemban tugas yang berat yakni mendidik dan membentuk watak serta kepribadian anak, oleh karena itu posisi seorang perempuan sangat penting dan strategis.

Para pakar  psikologi  mengatakan  bahwa perlakuan dan pengalaman anak di masa kecil bersama ibunya mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam  pembentukan watak dan kepribadian anak. Napoleon Bonaparte (1815 M) secara tegas menyatakan bahwa : “Aku adalah ciptaan ibuku.” Demikian pula Abraham Lincoln (1809-1865 M) berkata, “Apa yang aku ketahui, yang aku lakukan dan aku mimpikan, semuanya adalah hasil kerja ibuku.”

Demikian strategis dan besar peran seorang ibu atau seorang perempuan dalam pembentukan watak dan kecerdasan anak. Peran besar dalam pembentukan watak tersebut, perempuan dituntut untuk menyadari akan perannya. Kedangkalan pengetahuan dan pendidikan  perempuan, mau tidak mau suka atau tidak suka akan melahirkan anak-anak yang berwatak kurang baik dan tidak berpengetahuan karena seorang ibu adalah sekolah yang pertama (al-madrasah al-ula). Fungsi al-madrasah al-ula adalah membentuk manusia unggul berbudi pekerti luhur, cerdas, berpengetahuan sehingga kelak akan terbentuk generasi yang tangguh. Demikian besar peran perempuan, sampai-sampai ada yang berkata : “Bukan hanya anak hasil didikan ibu, tetapi juga suami dapat menjadi hasil didikan istri.” Meskipun gambaran diatas bukan berarti menafikan peran Ayah, karena pada hakekatnya kedua orang tua sama-sama memiliki peran yang sangat besar. Seorang ayah berfungsi sebagai penanggung jawab pendidikan sedangkan ibu atau perempuan sebagai pelaksana pendidikan. Wallahu a’lamu bisshowab.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 5 Mei 2016, Rubrik An-Nur

 

Leave a Reply