Peran Perempuan Muslim dalam Memakmurkan Dunia

Perempuan Wawasan 5 Apr 2021 4 202x
Perempuan Muslim Memakmurkan Dunia

Perempuan Muslim Memakmurkan Dunia

Oleh: Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag.

Allah swt. menciptakan manusia dengan sebaik-baik ciptaan. Dialah yang menciptakan segalanya dengan sempurna. Dia mulai penciptaan manusia tak lebih dari tanah liat, kemudian menjadikan keturunannya dari sari air yang hina. Lalu membentuk rupanya dan meniupkan ke dalamnya roh ciptaan-Nya. Dia memberi manusia pendengaran, penglihatan, dan daya mengerti.

Allah swt. menciptakan manusia, tanpa kecuali, untuk beribadah dengan baik dan benar, berlandaskan keikhlasan, sesuai dengan tuntunan Nabi-Nya; jauh dari kemusyrikan dan kesesatan. Allah berfirman dalam QS. adz-Dzariyat [51]: 56, yang artinya, “Aku menciptakan jin dan manusia hanya supaya beribadah kepada-Ku”. Demikian juga dalam QS. al-Bayyinah [98]: 5, yang artinya, “Dan kepada mereka diperintahkan hanya supaya menyembah Allah dengan ikhlas beribadah kepada-Nya, beragama yang benar, mendirikan salat dan mengeluarkan zakat, itulah agama yang lurus dan benar”.

Manusia yang tidak taat kepada Allah swt. ibarat produk gagal. Kegagalan manusia melaksanakan amanat sekali-kali bukan karena kesalahan pihak yang menciptakan. Bukankah Allah swt. telah melengkapi manusia dengan bimbingan naluri, pancaindera, akal pikiran, dan agama? Manusia memang punya kecenderungan untuk memperturutkan hawa nafsu; berkubang dalam lumpur kehidupan (QS. al-A’raf [7]: 176).

Manusia sebagai Khalifah

Secara primordial, Allah swt. menciptakan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Setiap Muslim dan Muslimah, dengan demikian, mendapat amanat untuk menjadi khalifah (QS. al-Baqarah [2]: 30). Khalifah yang sempurna ialah yang mempunyai kemampuan inisiatif sendiri. Kebebasan bertindaknya memantulkan adanya kehendak Penciptanya dengan sempurna, melebihi kemampuan malaikat.

Di antara karakter dan sikap hidup khalifah ialah bertindak benar, memberi keputusan di antara manusia dengan adil, selalu ingat hari perhitungan dan tidak mengikuti hawa nafsu, sebagaimana difirmankan Allah swt. dalam QS. Shad [38]: 26. Orang bijak berkata, “ra’sul hikmati makhafatullah wa ra’sul khathiati ittiba’ul hawa” (induk kearifan adalah takut kepada Allah, dan induk kesalahan adalah memperturutkan hawa nafsu).

Sebagai khalifah, perempuan Muslim, bersama laki-laki Muslim, bertugas memakmurkan dunia, sesuai dengan firman Allah swt. dalam QS. Hud [11]: 61. Allah swt. menjadikan manusia penghuni bumi untuk mengelola dan memakmurkannya. Untuk tugas itu Allah swt. memperlengkapi mereka dengan segala potensi dan sarana berupa naluri, intuisi, pancaidera, dan akal pikiran (QS. an-Nahl [16]: 78).

Sebagian manusia tidak bersyukur dan tidak mau bersungguh-sungguh melaksanakan amanat tersebut, padahal kelak setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas segala anugerah-Nya (QS. al-Mu’minun [23]: 78; QS. al-A’raf [7]: 179; QS. al-Isra’ [17]: 36).

Beribadah dan Beramal dengan Ilmu

Ibadah dan khilafah diejawantahkan dalam amal kebaikan yang dilandasi iman dan ilmu yang benar (QS. al-Ashr [103]: 1-3; QS. al-Kahfi [18]: 110). Amanat khilafah tak lain adalah pesan untuk berprestasi dalam segala lini kehidupan dengan memilih profesi yang diminati dan ditekuni (QS. an-Nahl [16]: 97).

Barangsiapa di antara hamba mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan, dengan ikhlas dan sesuai dengan sunnah, serta beriman kepada Allah dan rasul-Nya, juga mengimani balasan di akhirat, maka Allah akan memberinya kehidupan dunia yang aman, tenteram, sejahtera, dan bahagia. Sedangkan di akhirat kelak, Allah akan memberinya balasan yang berlipat ganda dan pahala yang melimpah, keuntungan besar, dan kemenangan yang agung, yakni bersama Allah Yang Maha Mulia di dalam surga-Nya.

Orang-orang beriman tidak wajib semua pergi ke medan perang dan meninggalkan negeri mereka kosong. Harus ada yang tetap tinggal dan ada pula yang menuntut ilmu dalam berbagai cabang dan bidang. Bila mereka kembali ke kampung halaman, mereka harus mengajarkan dan mengamalkan ilmunya untuk membangun kehidupan masyarakat, baik di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik, budaya, dan sebagainya.

Artinya, “seharusnya jangan semua kaum mukmin berangkat bersama-sama. Dari setiap golongan sekelompok mereka ada yang tinggal untuk memperdalam ajaran agama dan memberi peringatan kepada golongannya bila sudah kembali, supaya mereka dapat menjaga diri” (QS. at-Taubah [9]: 122).

Mengacu pada ayat tersebut, tidak sepatutnya perempuan Muslim hanya berkecimpung dalam satu sektor kehidupan saja, melainkah hendaklah terjun dalam berbagai sektor, sesuai dengan kemampuan, minat, bakat, dan potensi yang dianugerahkan Allah swt.

Peran Perempuan Muslim

Perempuan Muslim niscaya menjadi rahmat bagi alam semesta, sesuai dengan misi kehadiran Nabi Muhammad saw. dalam kancah kehidupan ini. Artinya, “Kami utus engkau, semata-mata sebagai rahmat bagi alam semesta” (QS. al-Anbiya’ [21]: 107).

Peran perempuan Muslim ialah melanjutkan peran Nabi saw. dalam medan kehidupan: menjadi saksi, pembawa kabar gembira, pemberi peringatan, mengajak kepada Allah, dan menjadi pelita kehidupan. Aktivitas perempuan Muslim dalam praksis kehidupan pertama-tama adalah mewujudkan keseimbangan hidup duniawi dan ukhrawi.

Perempuan Muslim niscaya menyampaikan amanat kepada yang layak menerima, melakukan advokasi hukum, keadilan dan hak-hak orang lemah, pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi dan pendidikan serta mencegah kekerasan terhadap anak dan perempuan (QS. ali-Imran [3]: 110; QS. an-Nisa’ [4]: 58; QS. al-Maun [107]: 1-7).

Realisasi memakmurkan dunia secara kelembagaan di bidang pendidikan dan pengembangan ilmu pengethuan ialah dengan menyelenggarakan Pendidikan Anak Usia Dini, TK, SMP, SMA di setiap kota di seluruh Indonesia, serta menyelenggarakan pendidikan tinggi bertaraf nasional.

Dalam sektor ekonomi, secara kelembagaan ‘Aisyiyah bisa mengembangkan koperasi, baitul mal dan industri rumah tangga dengan skala yang lebih besar, seperti produksi sabun cucui untuk warga Muhammadiyah di setiap daerah. Dalam bidang kesehatan, secara kelembagaan ‘Aisyiyah mengembangkan Balai Kesehatan Ibu dan Anak menjadi Rumah Sakit ‘Aisyiyah yang berkualitas dan terpercaya.

4 thoughts on “Peran Perempuan Muslim dalam Memakmurkan Dunia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *