Perbedaan Latar Belakang Budaya dalam Merespons Covid-19

Sosial Budaya 30 Nov 2020 0 72x

Sumber Ilustrasi : nasional.kompas.com

OLeh : Atik Triratnawati

Dunia kini ini tengah dilanda pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 19).  Meski pandemi Covid-19 telah menyebar di hampir seluruh penjuru di dunia, tetapi masing-masing negara meresponsnya dengan cara yang berbeda. Walau otoritas kesehatan dunia telah memberikan protokol kesehatan mengatasi Covid-19, akan tetapi dalam praktiknya, terdapat perilaku manusia yang berbeda-beda dalam merespons penyakit ini. Salah satu faktor penyebabnya adalah budaya. Di sinilah pentingnya belajar mengenai budaya manusia bahwa perilaku seseorang dipengaruhi oleh budaya termasuk dalam menanggapi penyakit.

Mengapa penyakit yang sama direspons secara berbeda oleh suatu bangsa/ras/suku/kelompok masyarakat? Dalam dunia akademik, dikenal cabang ilmu Antropologi Kesehatan yaitu cabang ilmu antropologi yang mempelajari hubungan antara penyakit, ekologi, dan faktor sosial budaya. Melalui ilmu ini, manusia akan memahami bagaimana sebuah penyakit direspons secara berbeda-beda. 

Di negara maju seperti Taiwan, semua warga diwajibkan membasuh tangan dengan hand sanitizer setiap jamnya. Selain itu, masyarakat taat melakukan isolasi mandiri dengan cara tidak keluar rumah demi menghindari kontak dengan pasien positif COVID-19. Demikian juga di China, warga bersedia diisolasi di rumah demi mencegah bertambahnya kasus baru. Di Italia dan Perancis, warga yang keluar rumah akan didenda dan semua aturan dan hukum diawasi secara ketat oleh otoritas setempat.

Bagaimana di Indonesia? Di sini, ada berbagai bentuk respons terhadap pandemi corona, tergantung pada latar belakang pendidikan, tingkat sosial ekonomi, latar belakang desa atau kota, bahkan agama. Persepsi masyarakat juga mempengaruhi respons dan cara pandang terhadap penyakit ini. Di hampir semua provinsi, diterapkan aturan physical distancing dengan cara meliburkan anak sekolah, mahasiswa, dan karyawan, baik PNS maupun swasta. Mereka diminta untuk belajar atau bekerja di rumah lewat online. Ada pula larangan keluar rumah apabila tidak ada kepentingan yang mendesak. 

Pada masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas, banyak yang merespons dengan prinsip “mencegah lebih baik dari mengobati” meskipun mereka tetap was-was, khawatir, curiga tertular penyakit ini. Perilaku mereka terlihat nyata melalui pemakaian masker setiap saat, memakai hand sanitizer, cuci tangan, menyimpan banyak bahan makanan dalam jumlah banyak karena khawatir nantinya toko atau pasar akan tutup. Physical distancing, memperbanyak aktivitas di dalam rumah, dan pembatasan pertemuan dengan orang lain mampu mereka lakukan. 

Aturan bekerja dari rumah dapat dilakukan dengan nyaman karena koneksi internet yang lancar dan tersedianya fasilitas hiburan yang cukup lengkap di rumahnya. Sekalipun keluar rumah, mereka memilih menggunakan kendaraan pribadi yang dimilikinya daripada berdesak-desakan dalam kendaraan umum sehingga potensi tertular COVID-19 lebih besar. Semua aturan dapat dilakukan karena masyarakat ekonomi kelas menengah ke atas memiliki privilege untuk melakukannya. Kondisi finansial yang sangat cukup membuat mereka mampu mematuhi aturan bekerja dari rumah atau sekolah dari rumah.

Kondisi sebaliknya justru akan kita temui pada masyarakat ekonomi kelas bawah yang pendapatannya didapatkan per hari. Bagi mereka, tidak keluar rumah artinya tidak mencari nafkah. Sebab pekerjaan mereka merupakan pekerjaan yang dilakukan dengan cara bergerak ke luar rumah. Jika mereka nekat tidak keluar rumah, maka sama artinya tidak makan. Selain itu, mereka juga terpaksa bepergian menggunakan transportasi umum yang kemungkinan bertatap muka dengan orang lain tinggi, sehingga risiko tertular juga meningkat. Berbagai aturan tentang physical distancing yang tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah justru akan membuat keadaan mereka semakin tersiksa. Mau tak mau, masyarakat ekonomi kelas bawah akan tetap bekerja di luar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 

Baca Selengkapnya di Rubrik Idea, Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 6, Juni 2020

Leave a Reply