Perceraian di Luar Sidang Pengadilan: Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1)

Hikmah 13 Apr 2020 0 225x

Pada tahun 2007  Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan fatwa mengenai perceraian di luar sidang pengadilan. Fatwa ini untuk menjawab pertanyaan dari salah seorang penanya yang menanyakan bagaimana pandangan Majelis Tarjih mengenai perceraian yang dilakukan di luar sidang Pengadilan. 

Dalam fatwa tersebut disebutkan ”bahwa perceraian harus dilakukan melalui proses pemeriksaan pengadilan. Cerai talak dilakukan dengan cara suami mengikrarkan talaknya di depan sidang pengadilan, dan cerai gugat diputuskan oleh hakim. Oleh karena itu perceraian yang dilakukan di luar sidang pengadilan dinyatakan tidak sah”.

Fatwa Majelis Tarjih di atas banyak disorot oleh umat Islam Indonesia, terutama oleh masyarakat yang berpendapat bahwa untuk menjatuhkan talak tidak harus di pengadilan, talak sebagai hak suami dapat dijatuhkan oleh suami di mana saja dan kapan saja. Dalam hal ini sama halnya dengan pernikahan, bahwa untuk syahnya pernikahan tidak harus dicatatkan kepada Petugas Pencatat Nikah, nikah yang tidak dicatatkan selama memenuhi rukun dan syaratnya adalah syah. Tidak pernah terjadi pada masa Nabi saw dan masa sahabat, talak harus diikrarkan di muka sidang pengadilan.

Oleh karena itu fatwa Majelis Tarjih yang mengharuskan perceraian dilakukan melalui proses pemeriksaan pengadilan, oleh kelompok ini dipandang menyalahi praktik pada masa Nabi saw. Berangkat dari permasalahan demikian dan supaya masyarakat bisa memahami lebih lanjut fatwa Tarjih mengeni perceraian, tulisan ini akan menjelaskan lebih lanjut apa yang menjadi  landasan hukum dan pertimbangan fatwa Tarjih tersebut.

Perceraian Menurut Hukum Islam

Akad pernikahan antara suami isteri idealnya adalah untuk selama hayat dikandung badan, sekali nikah untuk selama hidup, agar di dalam ikatan pernikahan suami isteri bisa hidup bersama menjalin kasih sayang untuk mewujudkan keluarga  bahagia yang penuh ketenangan hidup (sakinah), dilandasi dengan mawaddah wa rahmah, memelihara dan mendidik anak-anak sebagai generasi yang handal. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah surat ar-Rum (30) ayat 21, yang artinya:

وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (الروم: 21)

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian iu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”.

Suami isteri hendaknya mempunyai pandangan yang sama yaitu bahwa hanya kematianlah yang akan memisahkan keduanya. Dalam suatu perjanjian atau perikatan, seperti perjanjian jual beli, sewa menyewa, perburuhan, dan perjanjian lain yang melibatkan dua pihak atau lebih, para pihak yang terlibat mengharapkan agar perjanjian atau perikatan yang mereka buat itu kokoh dan kuat.

Pernikahan bukan perikatan biasa, selain mengandung nilai ibadah,  al-Qur’an menyebutnya dengan perjanjian yang sangat kuat (mitsaqan ghalidlan), sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat surat an-Nisa’ (4) ayat 21. Oleh karena ikatan suami isteri itu sebagai ikatan yang kokoh, kuat, dan  suci, maka tidak selayaknya suami isteri begitu mudah memutuskannya dan tidak sepatutnya ada pihak-pihak lain yang mau merusak dan menghancurkannya.

Namun dalam perjalanan kehidupan berkeluarga mungkin ditemukan hal-hal yang tidak memungkinkan antara suami dan isteri mencapai tujuan perkawinn, terkadang ada perbedaan karakter atau  perbedaan pandangan hidup antara suami dan isteri. Tidak sekedar perbedaan, mungkin juga pertentangan yang prinsipil. Selain itu jiwa manusia bisa berubah. Perbedaaan pandangan hidup dan perubahan hati bisa menimbulkan krisis, merubah rasa cinta dan kasih sayang menjadi benci. Suami atau isteri mengabaikan yang menjadi kewajibannya. 

Permasalahannya, kalau sekiranya  suami isteri yang berbeda prinsip hidupnya dan pertentangannya sudah memuncak, telah merubah rasa cinta menjadi benci, persesuaian menjadi pertikaian, yang tidak memungkinkan lagi untuk berpadu menjadi satu, apakah tidak terlalu aniaya kalau keduanya dipaksa harus tetap bersatu. Dalam kondisi seperti ini, syari’at Islam mengijinkan suami isteri untuk bercerai. Sekalipun demikian, bahwa perceraian hanya sebagai pintu darurat yang baru dibuka apabila keadaan memang sangat mendesak dan berbagai upaya untuk mempertahankan ikatan perkawinan sudah ditempuh tapi tidak berhasil.

Menurut hukum Islam, selain karena meninggalnya suami atau isteri, pemutusan ikatan perkawinan dapat dilakukan  dengan beberapa cara tergantung dari siapa yang berkehendak atau berinisiatif memutuskan ikatan perkawinan tersebut. Pertama, perceraian dengan cara talak  (الطلاق) yaitu perceraian atas inisiatif atau kehendak suami.  Talak diartikan dengan “melepas tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami isteri” dilakukan oleh suami sebagai pemegang kendali talak dengan alasan-alasan tertentu dan kehendaknya itu dinyatakan melalui ucapan tertentu, atau melalui tulisan atau isyarat bagi suami yang tidak bisa berbicara. Talak  bisa juga dilakukan melalui utusan untuk menyampaikan kepada isterinya bahwa ia telah ditalak. 

Kedua, perceraian atas kehendak isteri dengan alasan isteri tidak sanggup meneruskan perkawinan karena ada sesuatu yang dinilai negatif pada suaminya, sementara suami tidak mau menceraikan atau mentalak isteri. Untuk memutuskan perkawinan,  isteri memberikan sesuatu, berupa materi atau jasa yang disebut dengan ‘iwad kepada suami dan suami menyetujuinya. Bentuk perceraian yang inisiatifnya dari isteri dengan cara  seperti  ini  disebut  khulu’   (الخلع). yaitu “Suami menceraikan isterinya dengan suatu ‘iwad atau penggantian yang diterima suami dari isteri atau orang lain dengan ucapan tertentu”.

Sebagaimana sudah dikemukakan di atas, terkadang terjadi keretakan dalam hubungan suami isteri, dan keretakan tersebut sudah  memuncak, kehidupan suami isteri menjadi sedemikian porak poranda dan sudah tidak dapat diperbaiki lagi, syari’at Islam memberikan jalan keluar agar kehidupan rumah tangga tidak semakin hancur lebur. Apabila ketidaksanggupan meneruskan ikatan perkawinan itu datang dari suami, maka untuk mengakhiri ikatan perkawinan itu dilakukan dengan talak.

Apabila ketidaksanggupan meneruskan ikatan perkawinan itu datang dari pihak isteri, sementara suami masih mencintainya, syari’at Islam membolehkan isteri untuk melepaskan ikatan suami isteri dengan jalan khulu’ yaitu dengan cara isteri mengembalikan apa yang telah diterima dari suami.

Kebolehan khulu’ ini disebutkan  dalam al-Qur’an surat al-Baqarah (2)  ayat 229 dan juga didasarkan kepada Hadis Nabi  riwayat al-Bukhari, sebagai jalan keluar bagi Jamilah ketika ia mengadukan hubungan perkawinan dengan suaminya yang bernama Tsabit bin Qais bin Syams. Jamilah merasa berat untuk meneruskan perkawinan dengan Tsabit. Nabi menanyakan kepada Jamilah apakah bersedia mengembalikan kebun yang dulu diberikan oleh Tsabit kepada Jamilah sebagai mahar. Setelah Jamilah menyatakan kesediannya untuk mengembalikan kebun tersebut, Nabi mengatakan kepada Tsabit “terimalah kebun itu dan talaqlah ia satu kali”. (H.R. al-Bukhari)

Syari’at Islam menitikberatkan kepada asas keadilan dan kemaslahatan, jangan sampai ada kemadaratan dan penipuan dalam perkawinan. Suami jangan dirugikan oleh isteri yang mencari-cari keuntungan dalam perkawinan, yaitu minta dibelikan barang-barang mahal kemudian ia minta cerai, sehingga suami menderita materiil dan moril, menderita lahir dan batin.

Demikian halnya, tidak boleh juga suami  mengambil keuntungan sepihak. Setelah berhasil menikahi isterinya, dan telah menikmati madunya isteri, kemudian suami menyengsarakan isteri dengan tujuan agar isteri minta diceraikan dan suami akan minta tebusan, karena perilaku demikian sebagai perbuatan  dhalim. Dilihat dari sisi ini maka perceraian dengan cara Khulu’ dipandang adil apabila isteri mengembalikan sebagian barang-barang pemberian suami ketika  isteri minta diceraikan sementara suami masih mencintainya.

Ketiga, perceraian melalui putusan hakim sebagai pihak ketiga atas aduan salah satu pihak dari suami atau isteri dan setelah melihat adanya sesuatu pada suami atau pada isteri  yang menunjukkan hubungan perkawinan antara keduanya tidak dapat diteruskan. Putusnya perkawinan bentuk ini disebut fasakh (الفسخ).

Dalam fikih klasik dijelaskan bahwa selain fasakh, untuk terjadinya perceraian atas inisiatif suami atau atas inisitaif isteri, tidak harus diajukan dan dilakukan dalam sidang pengadilan. Suami dapat menjatuhkan talak sewaktu-waktu, kapanpun dan di manapun. Sekalipun demikian syari’at Islam memberikan bimbingan agar talak itu dijatuhkan secara baik-baik, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an surat Baqarah ayat 231. Demikian halnya dengan khulu’, tidak harus diproses melalui pengadilan. Apabila suami sepakat atas ‘iwad yang diberikan isteri, kemudian suami menceraikan isterinya, maka prceraian dengan cara khulu’ ini syah.

Adapun perceraian dengan cara fasakh menurut fikih memang harus diselesaikan melalui jalur litigasi dan  yang memutuskan antara suami isteri boleh bercerai atau tidak adalah  pengadilan. Hal ini dikarenakan dalam fasakh terdapat persoalan yang rumit dan perlu pembuktian, sehingga lembaga yang berwenang untuk menanganinya adalah pengadilan.  

Contoh perceraian dengan cara fasakh ialah apabila suami meninggalkan tempat tinggal dalam waktu yang lama dan tidak diketahui berada di mana. Apabila isteri tidak sabar menunggu suaminya kembali atau isteri mendapat kesulitan hidup dengan kepergian suaminya itu karena tidak ada yang memberikan nafkah, isteri berhak mengajukan cerai kepada Pengadilan.

Selanjutnya pengadilan akan memproses gugatan isteri tersebut apakah memang suaminya gaib dan sudah berapa lama, dan apakah kepergian suami tersebut menimbulkan madarat bagi isteri. Apabila istri dapat membuktikan gugatannya dan membuktikan bahwa ia menderita karena kepergian suaminya, maka dengan kewenangannya hakim akan menceraikan isteri dari suaminya.

Tulisan ini pernah dipublikasikan pada Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi 6, Juni 2017, Rubrik Hikmah

Sumber Ilustrasi : https://jabarekspres.com/2018/istri-menggugat-cerai-suami-semakin-marak/

Leave a Reply