Perempuan

Perempuan Butuh Dukungan, Bukan Tekanan

perempuan butuh dukungan

Oleh: Andhita Dyorita Kh*

Ibu kok tega banget sama anak sendiri!” Mungkin itu kalimat pertama yang sering kita dengar saat ada kasus pembunuhan atau penganiayaan yang dilakukan oleh seorang ibu pada anaknya. Akhir-akhir ini sering kita dengar kasus seorang ibu yang membunuh anaknya, seperti yang dilakukan oleh ibu K di Brebes yang menggorok tiga anaknya hingga salah satu anaknya meninggal dunia.

Sebelumnya, seorang ibu di Nias juga membunuh ketiga anaknya, lalu mencoba melakukan bunuh diri dengan menggorok lehernya dengan parang. Di Palembang, seorang ibu ditemukan gantung diri setelah memberikan racun pada kedua anaknya yang masih balita. Di Pati Jawa Tengah, seorang ibu melompat dari lantai 10 hotel bersama bayinya. Ada juga seorang ibu yang melemparkan bayinya ke sumur karena tidak bisa memberikan ASI dan mendapatkan tekanan dari lingkungan.

Apa sebenarnya penyebab seorang ibu yang dianggap “tega” tersebut sampai menyakiti diri dan anak kandungnya? Hal tersebut tentu dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya psikologis, dan sosial budaya.

Dalam pengaruh sosial budaya, seorang perempuan dituntut untuk bisa berperan ganda. Perempuan diituntut untuk bisa bekerja karena ada anggapan hanya menjadi istri atau ibu rumah akan direndahkan. Tetapi di lain sisi, perempuan juga dituntut untuk bisa menyelesaikan segala urusan rumah tangga.

Strereotype masyarakat juga masih banyak yang menaruh tanggung jawab pengasuhan hanya pada ibu. Jika segala tanggung jawab tersebut tidak bisa dipenuhi dengan sempurna, akan muncul stigma ibu yang tidak bertanggung jawab pada anak atau istri yang tidak bisa berbakti pada suami. Secara tidak langsung, tekanan dari lingkungan juga sangat mempengaruhi kondisi psikologis seorang perempuan.

Berbicara tentang kondisi psikologis, seorang perempuan lebih rentan terkena gangguan psikologis, salah satunya yaitu depresi. Ada beberapa tipe depresi dari yang ringan hingga berat. Jika permasalahan atau tekanan tidak bisa teratasi, tidak menutup kemungkinan akan membahayakan nyawa seperti yang terjadi pada kasus-kasus pembunuhan ibu terhadap anaknya.

Depresi berat dengan gejala psikotik merupakan gangguan yang cukup berbahaya karena penderitanya merasakan halusinasi dan waham. Ada beberapa jenis halusinasi, di antaranya adalah melihat atau mendengar sesuatu yang tidak nyata. Penderitanya bisa mendengar suara-suara yang bisa saja menyuruhnya untuk menyakiti diri atau menyakiti oranglain.

Sedangkan dengan adanya waham, seseorang tidak dapat membedakan mana kenyataan dan khayalan. Misalnya, merasa dirinya nabi, merasa dirinya ada yang mengendalikan, merasa dikejar orang lain yang akan mencelakainya, dan sebagainya. Hal tersebut menyebabkan pederita depresi berat dengan gejala psikotik menjadi berperilaku impulsif dan tidak terkontrol.

Dukungan Sesama Perempuan

Tidak dimungkiri bahwa selama ini justru banyak perempuan yang saling menjatuhkan. Contohnya banyaknya mom war terkait ibu bekerja vs ibu tidak bekerja, ibu yang memberi ASI vs sufor, ibu yang melahirkan normal vs caesar, pola asuh yang berbeda dan seterusnya. Sering kita menyaksikan adanya mom war baik di dunia nyata atau dunia maya. Semua merasa paling benar dengan pilihannya. Perdebatan ini akan memicu kondisi cemas, stres, dan perasaan tertekan karena merasa lebih buruk dibandingkan dengan ibu lainnya.

Dukungan sangat diperlukan bagi seorang perempuan pada setiap fase kehidupannya, terutama saat mengalami perubahan fisik dan psikologis pada masa hamil, melahirkan, menyusui, mengasuh anak, mengasuh anak sambal bekerja, dan sebagainya. Bukan hanya dari pasangan, tetapi juga dari keluarga terdekat, orang tua dan juga teman dekat.

Sebagai sesama perempuan, sudah seharusnya kita menempatkan empati lebih tinggi. Tidak perlu mebenturkan perbedaan-perbedaan dalam pengasuhan atau pengelolaan rumah tangga serta finansial. Tidak perlu sengaja membuat perempuan lainnya merasa insecure hanya karena fisiknya berubah setelah melahirkan atau tidak bisa menghasilkan ASI. Semua memiliki pilihan hidupnya masing-masing.

Membangkitkan kesadaran untuk saling memberikan dukungan pada sesama perempuan bisa menjadi langkah kecil untuk upaya meningkatkan kesehatan mental dan membangun lingkungan yang sehat bagi perempuan.

*Dosen Prodi Psikologi Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Related posts
Kebijakan Politik

Peran Politik Perempuan: Belajar dari Seruan Aisyiyah Tahun 1955

Oleh: Hajar Nur S Majalah Suara ‘Aisyiyah, Dzul-Qo’dah 1374, Juni 1955, memuat Seruan Pusat Pimpinan ‘Aisyiyah tentang Pemilihan Umum. Terdapat empat hal…
Berita

Menghadapi Pemilu 2024, LPPA PP Aisyiyah Kaji Urgensi Peran Perempuan di Sektor Politik

Yogyakarta, Suara ‘Aisyiyah – Lembaga Penelitian dan Pengembangan ‘Aisyiyah (LPPA) PP ‘Aisyiyah menyelenggarakan Webinar Politik “Tantangan ‘Aisyiyah Menghadapi Pemilu 2024”. Kegiatan ini…
Perempuan

Fatwa dan Perhatian Muhammadiyah tentang Perempuan

Oleh: Niki Alma Febriana Fauzi Fatwa adalah suatu penjelasan atau jawaban yang diberikan oleh mufti kepada mustafti (orang yang bertanya) tentang suatu…

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.